Trend Thrifting: Langkah Menjaga Lingkungan dari Fast Fashion?

Yuk kita bahas lebih lanjut!

Apakah kalian pernah mendengar istilah thrifting? Atau kalian pernah membeli baju bekas? Saat ini, trend thrifting cukup marak di kalangan anak muda karena memiliki harga yang terjangkau. Selain itu, jika beruntung selama thrifting juga dapat menemukan pakaian branded. Bahkan, dewasa ini trend thrifting sangat digemari oleh anak muda salah satunya mahasiswa.

Sebenarnya trend thrifting itu apa sih? Thrifting adalah alternatif membeli barang bekas tentunya dengan kualitas yang bagus dan harga terjangkau. Thrifting menjadi langkah untuk menjaga lingkungan dari industri fast fashion. Namun apakah benar jika trend thrifting mampu melindung lingkungan dari pencemaran dan polusi? Atau hanya menjadi alibi dari tindakan konsumtif masyarakat terhadap fashion?

Berdasarkan buku A New Textiles Economy, setiap tahun industri tekstil menghasilkan 1.2 milyar ton emisi gas rumah kaca. Sedangkan limbah produk testing mengandung bermacam-macam bahan kimia yang menjadi penyumbang polutan pada perairan dimana 20% pencemaran laut berasal dari cairan limbah produksi tekstil. Jadi, apakah trend thrifting menjadi langkah yang tepat untuk mengurangi pencemaran lingkungan? Yuk kita bahas lebih lanjut!

Advertisement

1. Meningkatkan sisi konsumtif

Photo by blogspot on blogspot.com

Photo by blogspot on blogspot.com via https://4.bp.blogspot.com

Memiliki harga yang terjangkau, trend thrifting dapat menimbulkan sisi konsumtif lho! Mengapa demikian? Karena fashion dengan harga yang murah membuat masyarakat berbondong-bondong untuk membeli barang tersebut tanpa memikirkan apakah barang tersebut akan digunakan atau berakhir menumpuk di rumah. Sifat konsumtif pada pakaian sama halnya dengan meningkatkan permintaan yang tinggi pada impor baju bekas. Langkah yang bijak adalah membeli ketika kita membutuhkan, bukan ketika ingin. Untuk yang merasa ketagihan belanja thrifting, yuk mulai berbenah!

2. Menambah limbah pakaian

Photo by bing on bing.com

Photo by bing on bing.com via https://th.bing.com

Seperti yang kita ketahui, thrifting adalah membeli baju bekas. Otomatis selama impor pakaian, barang yang datang tidak selalu memiliki kualitas bagus. Jadi, kemana dong perginya barang yang tidak layak pakai? Benar sekali ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan berakhir menjadi sampah yang sulit diuraikan. Yah, jadi menambah deretan sampah yang mencemari lingkungan dong? Exactly! Thrifting pada dasarnya memang barang bekas, jadi tumpukan bal baju bekas tersebut belum tentu semua kualitas pakaiannya bagus ya.

Advertisement

3. Thrifting menjadi ladang bisnis

Photo by blogspot on blogspot.com

Photo by blogspot on blogspot.com via https://1.bp.blogspot.com

Bagi pecinta thrifting, apakah kalian merasa setelah menjadi trend harga baju thrifting semakin mahal? Nah ini perlu menjadi perhatian kita karena eksistensi thrifting menjadi langkah untuk memanfaatkan kembali baju bekas. Tentunya harus memiliki kualitas terjangkau meski berasal dari fashion branded. Sebab melalui thrifting masyarakat diharapkan tetap memiliki pakaian yang layak dengan harga miring. Selain itu, industri fast fashion dapat mengurangi produksi di industri textil.

4. Larangan Impor baju bekas

Photo by ichef on ichef.bbci.co.uk

Photo by ichef on ichef.bbci.co.uk via https://ichef.bbci.co.uk

Di Indonesia sudah terdapat larangan impor baju bekas sejak Agustus 2022. Alasannya apa tuh? Menurut Kemendagri langkah ini sebagai wujud untuk mengatasi impor perdagangan pakaian bekas ilegal. Ternyata salah satu barang yang dilarang impor adalah baju bekas yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022. Impor baju bekas dianggap sebagai limbah mode yang terkait dengan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan. Jadi menurutmu bagaimana langkah pemerintah Indonesia dalam larangan impor baju bekas?

5. Dampak pada industri lokal

Photo by bing on bing.com

Photo by bing on bing.com via https://th.bing.com

Apabila popularitas trend thrifting terus meningkat, ini dapat memiliki dampak negatif terhadap penjualan di industri pakaian lokal yang baru. Toko-toko pakaian lokal yang berusaha untuk menghadirkan produk-produk unik dan berkualitas dengan harga yang adil dapat mengalami tekanan dan kesulitan dalam bersaing dengan harga rendah yang ditawarkan oleh toko barang bekas. Ketika konsumen beralih ke trend thrifting, mereka cenderung mencari harga yang lebih murah, yang biasanya tersedia di toko barang bekas. Ini bisa membuat toko-toko pakaian lokal terlihat lebih mahal atau sulit bersaing dalam hal harga. Karena itu, toko-toko lokal mungkin mengalami penurunan penjualan yang signifikan dan kesulitan untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE