Untuk para lelaki yang kelak menjadi suami sekaligus ayah, di balik keinginan kalian untuk buru-buru menikah, menghalalkan pacar kalian saat ini, atau setia menunggu calon istrimu entah siapa karena kamu tidak memilih untuk pacaran karena pacaran itu tidak baik. Membayangkan memiliki istri yang memiliki hati lembut, sedap dipandang, taat kepadamu dan Tuhan, memiliki anak-anak yang jelita maupun rupawan, cerdas, lincah, penurut dan sudi mendoakan kalian tiap waktu agar kelak kalian bisa kembali berkumpul di surga-Nya. Pernahkan kalian memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi saat nanti kalian sudah menikah? Seperti halnya perceraian atau kematian istri kalian yang kelak menjadikan kalian sebagai orangtua tunggal? Pernahkah kalian berpikir bagaimana jadinya jika kelak kalian menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anak kalian?

Kepada kalian: para lelaki yang bercita-cita menjadi seorang suami dan ayah, berikut adalah hal-hal yang akan mengubah kehidupan kalian sepenuhnya yang barangkali sama sekali tidak terlintas di pikiran kalian sekalipun:

1. Siapkah Kamu Menjadi Single Father?

Tidak ada yang ingin menjadi single parent baik itu laki-laki maupun perempuan. Namun tidak akan ada yang tahu sampai kapan pasangan kita akan hidup? Pun tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi kelak, apakah pernikahan yang tampak baik-baik saja akan berakhir bahagia atau justru kandas di tengah jalan.

Pertanyaan pertama kalian untuk para calon suami dan ayah: jika istri kalian kelak meninggal saat anak-anak kalian belum dewasa atau pernikahan kalian terpaksa kandas di tengah jalan saat anak-anak kalian belum dewasa, siapkah kalian menjadi satu-satunya orangtua untuk mereka?

Advertisement

Siapkah kalian tidak hanya berperan sebagai seorang ayah yang mencari nafkah, mengajak bermain, mengantar dan menjemput sekolah, mengajak mengobrol, menemani saat mereka ingin kencing di malam hari? Namun kalian juga harus sanggup menyiapkan seragam sekolah anak-anak kalian, mengajarkan anak-anak kalian cara mencuci piring dan pakaian, menyisir rambut, menggosok gigi, dan menyiapkan sarapan untuk mereka?

Siapkah kalian setelah pulang kerja begitu lelah tetapi di rumah ada anak-anak kalian yang menanti kalian, mereka ingin mengobrol, bermain dibantu mengerjakan PR? Mereka kelaparan, belu makan malam dan berharap bisa makan malam bersama kalian.

2. Bagaimana Jadinya Jika Kalian Bercerai?

Jika kamu dan pasanganmu harus bercerai, sudahkah kamu menyiapkan hati dan perasaanmu jika pengadilan memutuskan bahwa hak asuh anak berada di tangan istrimu? Siapkah kamu untuk berjauhan dengan anak-anakmu? Dapatkah kamu bersikap dewasa, tidak gegabah untuk melakukan hal-hal konyol seperti menculik anakmu sendiri karena barangkali kamu ingin hak asuh berada di tanganmu?

3. Jika Anakmu adalah Perempuan, Bagaimana Kamu Harus Mendidik dan Merawatnya?

Father Daughter Holding Hands via http://i2.cdn.turner.com

Advertisement

Pernahkah kamu berpikir jika istrimu meninggal dan anakmu adalah perempuan, otomatis hanya kamu yang dia miliki. Atau kamu dan istrimu bercerai dan anak perempuanmu memilih untuk tinggal bersamamu maka bagaimana caramu yang adalah seorang lelaki mendidikanya sebagaimana kodratnya sebagai seorang perempuan?

Bisakah kamu mengajarkannya hal-hal yang biasa dilakukan oleh seorang perempuan seperti:

1. Mencuci, menjemur dan melipat pakaian.

2. Memasak dan mencuci piring kotor.

3. Menyapu dan mengepel rumah

4. Menjahit pakaian yang sobek/lubang

5. Bersikap lembut dan santun

Sebagian besar orang mengatakan bahwa anak perempuan yang dekat dengan ayahnya kelak ia akan menjadi gadis yang mandiri. Namun terkadang, karena seorang ayah adalah lelaki dan merasa tidak tega dan kasihan kepada anaknya yang perempuan, justru mereka terlalu lembek dan memanjakan anak-anak perempuan mereka.

Selain kamu harus mengajarkan dan memberi contoh kepadanya hal-hal yang biasa dilakukan oleh wanita, kamu juga harus mengajarkannya hal-hal yang jarang dilakukan oleh wanita dan lebih banyak dilakukan oleh laki-laki seperti:

1. Memasang lampu

2. Menyambung kabel yang putus

3. Memperbaiki kompor/memasang gas

4. Pergi kemana-mana seorang diri

5.Memperbaiki sepeda motor atau mobil

4. Meminta Izin Kepada Anak-anakmu Saat Akan Menikah Lagi

How to Get A Man to Marry You via http://lifestyle9.org

Jika kamu kelak berkinginan untuk menikah lagi karena sudah tidak sanggup hidup sebagai seorang ayah tunggal, maka jangan sekali-kali menikah tanpa melibatkan anak-anakmu. Berikut adalah hal-hal yang harsu kamu perhatikan saat ingin menikah lagi:


  • Beritahu anak-anakmu tentang keinginanmu.


Jika anak-anakmu tidak setuju, maka jangan memaksakan kehendakmu. Tunggulah hingga ia dewasa dan mengerti. Barangkali kamu sudah begitu lelah menjadi ayah tunggal, tetapi percayalah menikah lagi tanpa restu dari anak-anak kandungmu yang selama ini kamu rawat akan menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang.



  • Bertanyalah Pada Anak-anakmu Ingin Ibu Baru yang Seperti Apa


Jika anak-anakmu setuju dengan keinginanmu, coba tanyakan mereka ingin ibu yang bagaimana. Sebab menikah lagi bukan hanya perkara kamu lelah menjadi ayah tunggal atau kamu jatuh cinta lagi. Istri barumu kelak juga akan meerawat anak-anakmu dan menjadi panutan bagi mereka.


5. Anakmu Sakit dan Dia Hanya Punya Kamu, Ayahnya!

Sign Your Baby Is Ill via http://www.bounty.com

Kamu bercerai sementara itu kamu dan anakmu tinggal berjauhan dengan mantan istrimu atau istrimu meninggal sementara itu kamu dan anakmu tinggal berjauhan dengan mertuamu dan orangtuamu. Anakmu tiba-tiba sakit hingga ia menangis sesenggukan. Tiap malam ia terbangun karena sakit. Momen saat ia bayi pun terulang kembali: kamu harus bangun tengah malam demi dirinya.

Seorang diri kamu harus membawanya ke dokter, memaksanya minum obat, menyiapkan sarapan, makan siang dan malam untuknya. Jika anakmu tidak doyan makan bagaimanapun caranya kamu harus membuat perutnya terisi agar anakmu segera sehat.

Ternyata anakmu sakit hingga seminggu. Kamu harus izin ke kantor untuk tidak masuk kerja karena anakmu tidak ada yang merawat dan menjaga. Urusanmu belum selesai, sebab kamu juga harus membuat surat izin untuk anakmu dan dikirimkan ke wali kelasnya, di tengah perjalanan mengantarkan surat kamu cemas karena harus meninggalkan anakmu yg sedang sakit beberapa waktu demi mengantarkan surat izin ke sekolahnya.

6. Jika Anakmu adalah Perempuan dan Ia Menstruasi untuk Pertama kalinya. Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Pertama Kali Menstruasi via https://cdns.klimg.com

Barangkali ini adalah momen paling pelik. Paling canggung. Paling bikin kikuk bagi seorang ayah yang harus membesarkan anak perempuannya seorang diri. Ditambah jika kalian tinggal di perantauan dan berjauhan daris anak saudara.

Pernahkah kalian-para lelaki yang ingin segera menikah dan membayangkan betapa menyenangkannya memiliki anak-berpikir sekali saja jika kalian terpaksa harus menjadi ayah tunggal bagi anak perempuan kalian lalu suatu hari saat sibuk menyelesaikan pekerjaan di rumah atau saat kalian sedang bersantai menikmati waktu luang tiba-tiba anak perempuan kalian yang berusia antara 9-13 tahun datang menghampiri kalian dan berakata:

"Ayah, aku mens."

Apa yang akan kalian lakukan? Bagaimana cara kalian menyikapi hal tersebut?

Coba pikirkan baik-baik mulai sekarang, selagi kalian belum menikah atau selagi kalian belum punya anak. Tentu kalian tidak ingin kelak bercerai atau ditinggal mati oleh istri kalian. Namun siapa yang tahu akan umur dan nasib seseorang? Maka dari itu coba pikirkan tindakan kalian jika tiba-tiba anak perempuan kalian mens untuk pertamakalinya dan memberitahu kalian. Ayahnya, seorang lelaki yang tidak mungkin menstruasi dan tidak tahu cara pakai pembalut.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya