Yakin Sudah Mencintai Diri Sendiri? Hati-hati Miskonsepsi Pada Self Love!

Ketika itu, saya sedang mencari udara segar pagi-pagi buta. Bersama seorang teman, kami mencoba mewaraskan diri mengitari jalanan Kota Jogja di tengah pandemi. Masih terlihat sepi, hanya ada satu dua kendaraan bermotor yang belalu lalang. Tiba-tiba Si Teman bertanya kepada saya tentang self-love. Ia bertanya, apa sih arti self-love sendiri menurut saya? Saya tidak langsung menjawab. Saya berbalik tanya, kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Si Teman menjawab, karena Ia ingin bisa belajar lebih mencintai dan memperhatikan dirinya sendiri. Terlebih melihat orang-orang yang belakangan ini mengunggah foto diri beserta caption cara mencintai diri sendiri di media sosial.

Mulai berpikirlah saya. Sejauh ini, yang saya sebut self-love adalah menerima semua hal yang terjadi pada diri kita yang berada di luar kendali kita. Seperti misalnya, menerima bahwa kita diberikan sakit, menerima kondisi di luar kendali kita. Lalu, apa yang harus kita terapkan dengan mengikuti konsep self-love?

Advertisement

1. Proses Penerimaan Diri

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels via https://www.pexels.com

Menyadari bahwa sakit diberikan bukan atas kehendak kita. Penyakit yang menempel dalam tubuh kita merupakan sesuatu yang sudah di luar kendali kita sebagai manusia. Sehingga, self-love mengajari kita untuk menerima. Sakit itu, bukakanlah pintunya. Tidak apa-apa, ajak dia berbicara. Rangkul dia, jangan kemudian memarahi diri sendiri karena diberikan sakit.

Sakit yang dimaksud di sini dapat diartikan baik sakit perasaan maupun sakit fisik. Sakit perasaan karena merasa dikecewakan, Sakit fisik yang ketempelan virus, yang bahkan nama penyakitnya baru kita dengar. Termasuk kesedihan dengan adanya pandemi Covid-19. Tidak apa-apa terima saja, karena semua yang dirasakan adalah valid.

Advertisement

2. Mengubah yang Bisa Diubah

Foto oleh Michael Burrows dari Pexels

Foto oleh Michael Burrows dari Pexels via https://www.pexels.com

Setelah proses penerimaan, langkah berikutnya penerapan self-love adalah dengan berusaha untuk sembuh dari penyakit tersebut. Benar, penyakit adalah hal-hal yang sudah berada di luar jangkauan kita tetapi kita sebagai manusia bisa berusaha untuk membuat diri kita sembuh. Contoh yang sangat sederhana, berobat.

Memeriksakan diri ke dokter adalah bentuk self-love. Dan bangkit dari rasa kecewa dengan mencoba memaafkan apapun itu. Menanamkan pemikiran bahwa hidup tidak berhenti di situ. Juga ketika kita masih di tengah pandemi ini, lapangkanlah hati untuk menerimanya. 

Kemudian, kuatkan diri untuk mengubah kebiasaan yang bisa diubah untuk proses proteksi diri dari virus ini. Yang engap pakai masker, demi mencintai diri sendiri dan orang-orang terdekat, sabar pakai masker dengan patuh. Yang nggak biasa cuci tangan dan males-malesan bebersih diri, demi mencintai diri sendiri dan orang-orang terkasih, sabar bebersih diri. Cuci tangan sering-sering. Yang biasa nongkrong hahahihihehehoho di café, sabar dulu duduk di rumah jika tidak ada keperluan mendesak seperti harus keluar untuk bekerja. Jangan salah, itu adalah bentuk self-love yang paling tinggi.

Advertisement

3. Berhenti dengan Sugesti Diri yang Menyesatkan

Foto oleh Liza Summer dari Pexels

Foto oleh Liza Summer dari Pexels via https://www.pexels.com

Beberapa kali, saya menyugesti diri saya bahwa tidak apa-apa menghabiskan uang yang dihasilkan untuk membahagiakan diri sendiri. Itung-itung reward kepada diri sendiri. Saya beranggapan bahwa pernyataan saya di atas adalah hal yang benar. Namun, saya menemukan bahwa saya menghabiskan uang saya untuk membeli barang-barang yang berakhir tidak saya gunakan.

Contohnya, ketika saya impulsif membeli gitarlele berwana pink. Saya berasumsi bahwa saya akan healing dengan belajar memainkan gitarlele tersebut. Padahal, saya sudah memiliki gitar besar biasa di rumah. Gitar tersebut saya beli ketika saya masih duduk di bangku SMA. 

Padahal, saya dengan sadar mengakui bahwa saya sulit untuk belajar memainkan gitar. Jari-jari saya tidak mampu menyelesaikan pelajaran memetik gitar sampai dengan sempurna. Padahal, jelas-jelas saya sadar sepenuhnya bahwa sia-sia saja saya membeli gitar baru lagi. Ah, yang ini kan lebih kecil, jadi pasti lebih gampang belajarnya. Pikir saya ketika itu. Namun, itu adalah contoh pikiran impulsif yang memanipulasi diri sendiri. Ya, karena pada akhirnya jari-jari saya tetap tidak bisa memainkan gitarlele tersebut.

Jadi, reward bagi diri sendiri pun harusnya mengikuti perasaan yang rasional bukan yang irasional semata. Ya maksudnya, sadar sepenuhnya apa yang baik untuk diri sendiri dan apa yang hal sia-sia yang perlu dihindari. That’s self-love.

4. Jangan Sampai malah Menjadi Miskonsepsi terhadap Self-love

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels via https://www.pexels.com

Menyambung poin ketiga, saya termasuk memiliki tubuh yang terbilang kurus. Tidak mudah ketika saya harus melakukan penerimaan pada tubuh saya dengan stigma dan pertanyaan-pertanyaan apakah saya sedang sakit atau apakah saya mengalami kurang gizi? Dada saya berasa dihujami tinju yang bertubi-tubi. Saya pernah membenci tubuh saya. Kemudian, saya membaca dan mendengar tentang kampanye self-love atau love yourself yaitu menerima diri apa adanya.

Saya pun memulai proses penerimaan diri. Tapi, setelah saya renungkan, proses penerimaan diri apa adanya membuat sifat saya yang malas-malasan berolahraga, tidak menjaga pola makan malah menjadi-jadi. 

Saya merasa tidak peduli dengan komentar orang lain pada tubuh saya, tapi saya juga merasa apa yang saya lakukan malah menyiksa diri sendiri. Kemudian, saya menyadari bahwa saya menerima konsepsi yang salah pada self-love. Saya malah tidak menjaga badan saya sendiri. Makan junkfood sesuka hati karena merasa itu bagian dari kebahagiaan diri. Self-love tidak mengajarkan hal tersebut, self-love mengajarkan kita untuk menjaga diri kita dengan baik.

Taking good care of ourselves. Dengan apa? Dengan paham apa yang perlu diubah. Apa yang bisa diubah. Sifat-sifat yang cenderung negatif dan yang malah dapat merugikan diri sendiri, contoh lain yang dapat diubah. Tidak serta merta menerima diri dengan apa adanya. Itu sudah merupakan miskonsepsi self-love.

5. Tidak Mengajarkan untuk Menerima Hidup Apa Adanya

Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels

Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels via https://www.pexels.com

Self-love tidak mengajarkan kita untuk hidup apa adanya menerima hal-hal dalam diri yang sebenarnya dapat diubah ke arah yang lebih sehat. Menjaga diri, dapat membedakan mana yang baik, sehat untuk diri sendiri dan mana yang tidak. Tentu dengan menyadari poin pertama, melalui proses penerimaan, kemudian diolah dari pikiran dan perasaan untuk dipilah mana yang bisa diubah. Diubah menjadi versi yang lebih baik dalam diri.

Semangat untuk teman-teman yang sedang berproses untuk menjadi versi yang lebih baik dari dirinya. Saya menyebut versi lebih baik bukan versi terbaik karena self-love adalah proses panjang pembelajaran tanpa henti. Sampai kita ke liang lahat nanti. Termasuk melakukan self-love di tengah pandemi ini dapat bonus mencintai dan menjaga orang lain juga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE