Indonesia sejak dulu kala sudah dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.000 lebih pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kamu pasti sudah pernah mendengar Pulau ini, tapi ada baiknya kamu mengenal lebih dalam tentang apa dan bagaimana pulau ini. Pulau Nias yang menjadi vitamin sea-nya turis-turis asing.

Kepulauan Nias (Tano Niha dalam bahasa daerah) yang secara administrasi berada di wilayah provinsi Sumatera Utara. Terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Lautannya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Pulau Nias sekarang memiliki 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, dan kota Gunungsitoli.

Masih ingat kan dengan tsunami yang terjadi Samudera Hindia pada 26 Desember 2004? Sebagian kecamatan di Nias ternyata kena dampaknya, memakan korban jiwa dan ratusan keluarga kehilangan rumahnya. Belum lagi ketika gempa 28 Maret 2005, yang mengakibatkan hampir seluruh bangunan yang ada di Nias hancur.

Namun beruntung bantuan datang dengan segera. Dan karena bencana alam itu, Pulau Nias mulai dikenal banyak orang. Tak dapat dipungkiri setiap kejadian yang terjadi pasti ada dampak negatif dan positifnya. So, kalau kamu yang ditinggal sama doi jangan galau berlebihan yah. Percaya saja pasti ada kebaikan di dalamnya. Hahaha jadi baper.. ups..

Kota Gunungsitoli bisa dikatakan menjadi pusat kota di Pulau Nias ini. Karena kalau kamu ingin ke Kabupaten mana aja yang di pulau ini kamu harus singgah ke kota ini. Bandara Binaka yang menjadi satu-satunya bandara di pulau ini terletak di Kecamatan Gunungsitoli tepatnya di jalan Pelabuhan Udara Binaka km 19.5 Gunungsitoli.

Untuk sementara bandara ini hanya menyediakan penerbangan domestik. Kalau melalui jalur udara dari bandara Kualanamo Medan hanya memakan waktu satu jam untuk sampai di Kota Gunungsitoli. Sedikit ulasan saya mengenai Nias dan pariwisatanya yang indah. Barangkali kamu ingin menghabiskan liburanmu kelak di pulau impian ini.

1. Tradisi Lompat Batu

Tradisi lompat batu

Tradisi lompat batu via http://instagram.com

Apa itu tradisi lompat batu (hombo batu) ?

Tradisi unik dari Nias ini biasanya dilakukan oleh pemuda yang sudah terlatih tentunya. Tumpukan batu setinggi kurang lebih 200 cm dan tebal sekitar 40 cm, dilompati oleh para pemuda pertanda bahwa mereka sudah dewasa secara fisik. Tradisi ini biasa dilakukan sebagai acara adat dan dapat menjadi pertunjukan menarik bagi para wisatawan yang sedang berkunjung.

Advertisement

Hanya desa-desa tertentu yang melakukan tradisi lompat batu ini, seperti Desa Bawomataluo di Kabupaten Nias Selatan. Namun lompat batu sudah menjadi simbol kebudayaan masyarakat Nias. Sampai sekarang tradisi ini masih dilestarikan oleh pemuda Nias dan jangan sampai punah dong.

2. Pantai Sorake, Surganya Para Peselancar

Pantai Lagundri

Pantai Lagundri via http://instagram.com

Kalau tadi sedikit ulasan tentang tradisinya, sekarang mari bahas pariwisata lautnya. Mungkin masih banyak orang yang belum mengenal salah satu pantai dengan lokasi surfing terbaik di dunia. Yah, hampir setiap tahun di Pantai Lagundri ini diadakan kompetisi surfing nasional ataupun internasional. Pantai ini masih terletak di Kabupaten Nias Selatan. Berjarak sekitar 12 km dari kota Telukdalam yang merupakan ibukota kabupaten.

Ketinggian ombak di Pantai Lagundri ini bisa mencapai 7 hingga 10 meter dan panjangnya bisa mencapai 200 meter. Biasanya para peselancar dari berbagai negara datang di bulan April hingga September setiap tahunnya. Keindahan pantainya pun tak terelak.

Advertisement

Selain lautnya yang biru dan pasir putihnya, pemandangan matahari tenggelam pun sangat menyejukkan mata. Wah jadi pengen cepat cepat pulang kampung nih. Hehehe

3. Bisa Snorkeling di Pantai Tureloto

Pantai Tureloto

Pantai Tureloto via http://instagram.com

Pantai Tureloto ini terletak di Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara. Pantai ini juga berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, namun pantai ini tidak berombak sama sekali. Waktu yang tepat berkunjung di pantai ini adalah pada siang hari. Mata kita akan dimanjakan dengan perpaduan warna air biru laut dan pasir putih halus.

Keindahan alam bawah lautnya juga tak kalah menakjubkan. Beraneka biota laut dan terumbu karang masih terjaga kelestariannya. Kadar garam di pantai ini tinggi sehingga para pengunjung dapat berenang dengan mengapung. Itulah kenapa banyak orang menyebut pantai ini sebagai Laut Mati. Meski begitu, di pantai ada kehidupan juga. Ikan-ikan kecil berenang dan terdapat karang indah di dalam air.

4. Tari Perang, Tari Tradisional Nias

Tari Perang

Tari Perang via http://instagram.com

Sama seperti daerah lain di Indonesia, Nias juga mempunyai tarian tradisional. Salah satu tariannya adalah tari perang. Tari perang ini berhubungan erat dengan tradisi lompat batu. Para penari tari perang ini menggunakan pakaian adat warna warni khas Nias dan dilengkapi dengan mahkota.

Mereka juga memakai tombak, pedang, baluse sebagai simbol peperangan layaknya seorang prajurit yang sedang berperang. Gerakan tari perang ini adalah gerakan menghentak-hentakkan kaki maju mundur diiringi musik sambil mengayunkan tombak dan pedang menggambarkan semangat dari para prajurit dalam mempertahankan desa mereka dari serangan musuh.

5. Indahnya Pulau Tello

Sunset Di Pulau Tello

Sunset Di Pulau Tello via http://lihat.co.id

Pulau Tello ini mempunyai pemandangan yang sangat indah. Pantai di Pulau Tello merupakan pantai dengan pasir putih lembut. Keindahan alam bawah lautnya juga luarbiasa. Apalagi pemandangan sunset di sore hari sangat eksotis. Pulau ini merupakan pulau terpencil di Indonesia. Akses ke Pulau Tello ini juga cukup sulit. Fasilitas yang kurang memadai menjadi kendala para wisatawan berkunjung ke pulau ini.

Solusi transportasi tercepat adalah menggunakan pesawat. Itu juga penerbangannya dari kota Sibolga dan Padang, menggunakan maskapai Susi Air. Penerbangannya juga tidak setiap hari, hanya hari Senin, Rabu dan Jumat. Namun tetap saja banyak turis yang ingin menikmati keindahan pantai di Pulau Tello ini. Pulau Tello ini terletak di Kabupaten Nias Selatan.

6. Pulau Asu, Surga Tersembunyi Sempurna di Sumut

Pelabuhan kecil Pulau Asu

Pelabuhan kecil Pulau Asu via http://instagram.com

Pulau Asu menyajikan pemandangan yang indah dan bersih. Tidak ada polusi atau kebisingan kota di sana. Pulau Asu ini terletak di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat. Mungkin nama pulau ini terdengar aneh. Karena asu yang dalam bahasa Nias sendiri adalah anjing.

Tapi jangan bayangkan di pulau ini berkeliaran banyak anjing, atau penduduk sekitar banyak memelihara anjing. Bukan itu penyebabnya. Tapi kata asu diambil dari asuhan yang bermakna terakhir, yang berarti Pulau Asu ini merupakan pulau terjauh yang dijaga serta dikagumi.

Kamu dapat merasakan keindahan alam pantai dengan pasir putih yang lembut. Pantai di pulau ini pun memiliki ombak yang tinggi di mana para pengunjung juga dapat berselancar. Di pulau ini juga bisa snorkeling lho. Wah lengkap yah.

Namun perjalanan ke pulau ini cukup memakan biaya besar. Transportasinya juga masih sangat minim. Pengunjung yang ingin berlibur ke pulau ini harus menaiki spead boat dengan tarif sejuta sekali keberangkatan dan memakan waktu hanya 45 menit. Jika ingin murah kamu dapat menyewa sampan milik nelayan dan memakan waktu hingga 2 jam perjalanan.

7. Masyarakatnya yang Elok, Putih bak Orang Korea

Putri Pariwisata se Kepulauan Nias

Putri Pariwisata se Kepulauan Nias via http://instagram.com

Suku Nias (Ono Niha) adalah suku yang mendiami Kepulauan Nias. Menurut masyarakat setempat, kedatangan manusia pertama di pulau ini dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang putra yang disuruh keluar karena memperebutkan tahta Sirao, Dan ke 9 orang itulah yang menginjakkan kaki pertama kali di Nias.

Masyarakat Nias, berkulit putih dan bermata sipit. Banyak yang mengatakan mirip suku tionghoa. Penelitian terbaru mengatakan bahwa msyarakat Nias berasal dari rumpun suku Austronesia. Nenek moyangnya dikatakan berasal dari Taiwan.

Dapat dilihat dari penduduknya yang cantik dan rupawan bak orang korea. Mereka juga sangat menghargai norma-norma yang ada. Kristen Protestan dan Katolik mendominasi agama di pulau ini. Namun sejak gempa tahun 2005 itu, banyak penduduk dari suku lain seperti Batak, Padang, Aceh, juga Tionghoa merantau ke pulau yang sedang mekar ini.

Jadi, kapan mau main ke Nias?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya