Jauh dari rumah dan berpisah dari keluarga adalah harga yang harus kamu bayar atas keputusanmu untuk merantau di kota orang. Sebuah usaha untuk mencari ilmu, kerja, hingga ajang pendewasaan diri dengan merantau memang masih menjadi tantangan yang dipilih orang –dan nggak terkecuali juga kamu.

Salah satu tantangan yang cukup sulit dari merantau adalah menahan kerinduan akan rumah, orang tua, dan keluarga. Memang sih di zaman yang serba canggih terkini teknologi telah menyediakan fitur video call sebagai sarana melepas kerinduan tanpa harus pulang ke rumah, tapi tetap saja kadang ada saat di mana teknologi nggak mampu mengalahkan rindu yang menggebu. Inilah 6 hal yang biasa kamu rasakan ketika kerinduan atas rumah belum lunas terbayar meski sudah menelpon ibu dan ayah.

1. Rasa ingin memakan masakan ibu yang semakin besar, kadang buatmu malas makan, tapi kadang memaksamu mencari kesenangan dengan makan mewah di luar

Makan sambil membayangkan masakan ibu via unsplash.com

Advertisement

Masakan buatan ibu akan selalu istimewa di hati anak-anaknya, sekalipun hanya tempe goreng atau sambal kecap biasa. Membuat soal makanan jadi masalah utama saat jauh dari rumah, apalagi yang merantau hingga berbulan-bulan. Makan sehari-hari di perantauan rasanya hanya untuk menghilangkan lapar atau memuaskan hasrat saat ingin makan enak. Sementara saat rindu rumah datang, dan keinginan makan masakan buatan ibu tumbuh membesar, semua yang masuk ke dalam mulut rasanya biasa.

Kamu kadang makan sesuatu sambil membayangkan masakan rumah, ada rasa ingin membandingkan seperti, duh tempenya kurang renyah, nggak kayak buatan ibu. Kadang juga saking rindunya, napsu makanmu menurun, karena merasa makanan di perantauan tak ada yang seenak buatan ibu. Tapi kadang untuk membahagan hati yang dilanda rindu, kamu pun rela merogoh kocek lebih dalam untuk makan mewah di luar.

2. Saking rindunya, kamu sering kali berandai, kalau saja sekarang di rumah, pasti sedang seru mendengar ayah – ibu bercerita dan bergurau bersama

Berkumpul bersama keluarga via unsplash.com

Seru kali ya, kalau sekarang lagi di rumah… Biasanya malam minggu begini, duduk di teras rumah sambil makan donat buatan ibu dan dengerin guyonan ayah.

Advertisement

Kira-kira seperti itulah kalimat yang sering muncul dalam benakmu, saat rindu dengan rumah. Membayangkan kebiasaan kalian sekeluarga di akhir pekan, lalu berandai-andai kalau saja dirimu ada di rumah sekarang. Pasti malam minggu terasa lebih lengkap, tak seperti sekarang hanya berakhir di kamar kosan sendirian, saat keluar atau kumpul bersama teman terasa kurang menarik perhatian.

3. Atau membayangkan betapa nyamannya rumah, makan tak perlu mikir, sepi pun tak pernah hadir

Tingkah adikmu yang selalu membuat ramai rumah via unsplash.com

Bagaimana tak terasa nyaman, kalau kamu sudah tinggal di sana sedari kecil. Ada banyak kenangan yang tersimpan di rumah, membuat rasa nyaman tinggal di sana tak pernah tergantikan oleh apapun. Belum lagi, cuma di rumah lah kamu bisa tenang dengan urusan perut, karena nggak perlu mikir untuk beli makan apa hari ini, atau soal uang kiriman yang harus diirit-irit. Dan yang paling penting, cuma di rumah kamu tak pernah merasa sepi, Ibu dan bapak pergi ke luar, pasti ada adik atau kakak yang menemani. Ditambah hadirnya tingkah konyol mereka, yang membuat segala resah hilang.

4. Rasanya jelas ingin ambil cuti atau mempercepat liburan kuliah, tapi sayang karena beberapa hal itu pun jadi angan belaka

Ingin cepat pulang, tapi… via unsplash.com

Rindu akan rumah menjadi kian dilematis ketika kamu dihadapkan pada keinginan pulang tapi semesta belum merestui. Seperti saat cuti yang bisa diambil kapan saja, bahkan sekarang juga, tapi nyatanya ongkos untuk balik belum tersedia. Atau buat kamu yang masih jadi mahasiswa, sering sekali ada keinginan mempercepat liburan, tapi sayang kenyataannya ujian semester belum juga selesai. Itulah resiko yang biasa dihadapi oleh kamu yang memilih merantau di luar kota atau negara, mau pulang saja banyak halanganannya.

5. Rindu rumah setara dengan masalah baru yang harus dicari jalan keluar dan diredakan, agar tak menjadi beban berkepanjangan

Rindu itu berat via unsplash.com

Kalau dulu, sewaktu pusing dengan urusan sekolah, ada ibu bapak yang bisa segera membantu. Sementara di perantauan, segala cobaan, mulai dari nggak punya uang sampai terlibat masalah perkuliahan atau di tempat kerjaan kerap harus kamu hadapi sendiri. Membuat beban dipundakmu, mau tak mau semakin berat. Belum selesai dengan masalah yang ada, biasanya kerinduan dengan rumah mucnul tanpa aba-aba, membuat beban semakin terasa berat lagi. Tapi meski berat, bulatnya tekad untuk membanggakan orangtua membuat semangatmu bangkit lagi dan lagi meski sudah sempat jatuh berulang kali.

6. Kesendirian dan kesepian adalah rutinitas yang saban hari kamu hadapi. Sedih memang, tapi kamu percaya semuanya bagian dari perjuangan

Perjuangan via www.pexels.com

Meski dikelilingi banyak teman, tapi kesepian masih sering hinggap dalam dirimu. Tuntutan hidup yang kian hari kian berat kadang membuatku berpikir untuk kembali menjadi anak-anak lagi yang hidup tanpa beban dan selalu bahagia dalam kondisi apapun. Tapi lambat laun, semakin lama kamu merantau kamu menjadi bisa mengendalikan rasa sepi itu dan mengubahnya menjadi semangat sebab apapun yang kamu lakukan sekarang adalah perjuangan, semua demi cita-cita yang ingin kamu raih di masa depan.

Itulah beberapa hal yang dirasakan kamu yang merantau. Mau nggak mau, suka nggak suka rindu kepada rumahlah akan selalu menjadi cobaan yang berat dijalani. Mereka yang nggak merantau mungkin nggak akan tahu bagaimana perjuanganmu menggapai cita-cita demi membahagiakan orangtua. Tetap semangat, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya