Masih ingatkah kamu bagaimana leganya setelah keluar dari ruang sidang dengan keterangan “lulus” waktu itu? Masih ingatkah kamu bagaimana senangnya memakai toga dan bersalaman dengan rektor, sementara orangtua memandang dengan bangga? Senangnya tak terkira, sampai foto-foto di setiap sudut acara wisuda saja belum cukup menunjukkan kebahagiaanmu.

Dengan gelar sarjana di pundakmu, kamu siap menghadapi dunia dengan wajah baru. Kesuksesan, kemandirian, dan segala yang indah-indah sudah terbayang di pelupuk mata. Dunia kerja, aku datang! Begitu katamu. Namun belum lama waktu berlalu dari euforia wisudamu, kamu mulai berpikir. Sepertinya perayaan saat wisuda itu berlebihan saja. Kok, rasanya jadi mahasiswa lebih enak daripada sekarang ya?

1. Baru apply pekerjaan pertama langsung ditanya pengalamanmu apa. Jadi bingung bagaimana menjawabnya

Susahnya nyari kerja via unsplash.com

Advertisement

Mungkin hal pertama yang terlintas di benak setelah wisuda adalah mencari kerja.  Banyaknya ilmu yang kamu terima di bangku kuliah membuatmu sedikit jumawa. Apalagi IPK-mu memang cukup membanggakan. Ah, pasti kamu cepat dapat kerja. Berbagai lowongan kerja kamu pantengi, akun-akun informasi lowongan kerja sudah kamu follow semua. Tapi kamu mulai heran dengan syarat yang diberikan. Semuanya ingin orang yang berpengalaman. Apa kabar kamu yang masih hijau di dunia pekerjaan ini?

2. Berharap dapat teman-teman baru di dunia kerja, eh ternyata malah ditindas senior dan atasan. Apes!

kawan dan lawan kadang nggak ada bedanya

Sebelum wisuda, mungkin kamu pernah memandang kagum pada orang-orang yang sudah bekerja. Tampak keren dengan setelan kerja, dan obrolan khas orang dewasa. Kamu nggak ingin menunda-nunda, dan ingin seperti mereka. Nyatanya di kantor kelak, kamu tak hanya mendapati teman atau kawan. Ada juga yang pura-pura berteman padahal menusuk dari belakang. Politik kantor dan senior (yang lebih dulu kerja di sana) galak bukan cuma cerita! Ah, mendingan teman-teman kampus deh, kadang masih mau memberi sontekan tugas.

3. Lulus kuliah artinya bebas dari segala tugas dan makalah. Tapi ternyata omelan bos jauh lebih parah!

banyak deadline juga via www.pexels.com

Kuliah jadi sangat memusingkan saat semua dosen memberi tugas makalah. Biasanya menumpuk di akhir semester, sampai bingung mau mengerjakan yang mana dulu. Ekspektasinya setelah sarjana, kamu merdeka dari tugas makalah. Betul memang, karena kini makalah digantikan dengan proposal, jadwal meeting, dan project-project yang harus diselesaikan dalam deadline. Kalau pekerjaanmu nggak bagus, bukan hanya nilai C yang kamu dapat, tapi SP3, alias dipecat. Lebih horor~

4. Gaji pertama pengin dikasih ke orang tua. Tapi bayar kos-an, transport, dan makan dibayar pakai apa ya?

gaji pertama untuk siapa? via www.pexels.com

Advertisement

Adalah sebuah kebanggaan bisa mempersembahkan gaji pertama kepada orang tua. Semacam seremonial, bukti bahwa kini kamu sudah bisa mandiri dan tidak merepotkan orang tua lagi. Kamu pun sudah berencana memberikan gaji pertamamu pada mereka. Namun lagi-lagi kenyataan membuatmu berpikir ulang. Jika gaji itu untuk orang tua, lantas bagaimana kamu memenuhi kebutuhan harian? Terutama kamu yang hidup di perantauan, harus bayar berbagai kebutuhan. Masa minta orang tua lagi?

5. Gaji yang hanya sesuai UMK, membuatmu harus melupakan rencana beli kopi mahal setiap paginya. Ah, tapi setidaknya kamu sudah bekerja

kopi sachetan dulu aja via www.pexels.com

Dulu kamu bermimpi bisa hidup seperti di TV. Memakai baju rapi, dan ngobrol cerdas sambil minum kopi yang harganya 50ribuan. Amboi, keren sekali! Namun gaji pertama di pekerjaan pertamamu berbaik hati mengingatkan kamu untuk berhemat. Sebab hasil kerja keras pagi hingga petang itu hanya cukup untuk sebulan. Apa kabar beli kopi? Sudah, pakai yang sachet-an saja. Toh, rasanya akan sama jika dinikmati dengan syukur. Meski sekarang gaji belum seberapa, setidaknya kamu sudah bekerja.

6. Sambil kerja nyambi cari pasangan serius biar bisa cepet nikah. Ternyata selain tak sempat liburan, dunia kerja bikin kamu tak sempat cari pasangan juga

Weekend kalau nggak lembur ya KO via www.pexels.com

Salah satu resolusimu saat memasuki dunia kerja adalah soal asmara. Kamu ingin menemukan seseorang yang bisa menjalin hubungan serius. Sehingga di lebaran tahun depan, kamu sudah punya jawaban kalau ditanya “Kapan nikah?”. Sayangnya kamu pun salah perhitungan. Dunia kerja ternyata tak se-selow masa kuliah. Pergi pagi pulang malam, akhir pekan kamu pilih tidur seharian untuk balas dendam. Tak sempat nongkrong dengan teman, apalagi mencari pasangan. Hingga lewat banyak lebaran, ternyata kamu masih sendirian.

7. Perkiraannya umur 25 sudah punya jabatan bergengsi dan gaji besar. Nyatanya, sampai sekarang kamu masih belum tahu yang kamu cari itu apa

Masih bingung mau ke mana via unsplash.com

Awalnya semua begitu terencana. Dapat kerja, meniti karier, dapat promosi, naik jabatan, dan jadi bos di usia 30an. Gaji besar, jabatan pun bergengsi. Umur 25 diperkirakan jadi usia matang, termasuk soal rencana hidup di masa depan. Nyatanya, usia 25 tak “segampang” itu. Alih-alih mantap melangkah, kamu masih dipenuhi kebimbangan. Karier atau passion? Menabung atau traveling? Merantau atau pulang ke rumah agar lebih dekat dengan keluarga? Usia 25-mu masih bergumul dengan berbagai macam kegalauan.

Kehidupan setelah kuliah memang seringnya berbeda dengan apa yang sudah diangankan. Tapi tak apa, sebab di sini kamu akan belajar ilmu baru yang belum kamu temui di bangku kampus tercinta. Ilmu untuk berdamai dengan realita, belajar untuk mengolah sajian di depan mata yang tak terlalu menggugah selera, menjadi sesuatu yang layak dinikmati. Dan sengenes apapun pengalaman di pekerjaan pertama, syukuri dulu fakta bahwa kamu sudah bekerja. Ya ‘kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya