Waktu kecil, kamu pernah dengan bangga akan sederet profesi keren saat ditanya tentang cita-cita. Mulai dari dokter, polisi, pilot sampai tentara, jadi cita-cita yang dulu kamu ucapkan. Lalu saat beranjak dewasa, kamu jadi lebih realistis. Cita-cita menjadi pilot sudah kamu coret dari daftar karena gangguan penglihatan. Dokter apalagi, sudah sejak lama tak kamu impikan karena persoalan sepele, takut dengan jarum suntik dan darah.

Cita-cita dari kecil hingga sekarang yang kerap berganti, kini makin tergerus dengan adanya rasa gengsi. Kalau beberapa saat yang lalu kamu sempat realistis dengan cita-citamu, tapi kini dirimu mulai berorientasi pada gengsi. Lucunya kamu kadang tak sadar kalau gengsi terselip di antara cita-cita ini. Padahal kalau kamu pahami sedari dini, kamu tak akan merasakan kekecewaan yang berlebihan nanti. Bahkan bisa terhindar dari hal-hal yang kurang bermanfaat yang hanya menguras energi dan waktumu.

Advertisement

Untukmu yang kesulitan membedakan mana cita-cita yang tulus dari hati dengan cita-cita yang gengsi semata, mungkin uraian di bawah ini bisa membantumu.

1. “Biar nggak ketinggalan sama orang-orang,” jadi alasan utamamu memilih cita-cita ini

Ikut-ikutan aja via unsplash.com

Cie, masuk kuliah di DKV nih. Kamu anaknya kreatif abis pasti?

Hehehe, biar bisa jadi youtuber terkenal. Kayak yang lagi hits sekarang.

Saat kecil dulu, kamu dengan mantap berkata ingin menjadi dokter. Alasanmu pun cukup masuk akal untuk anak seusiamu. Ingin menolong orang biar sehat, begitu katamu waktu itu. Apapun cita-cita yang kamu miliki, harusnya punya alasannya tersendiri, tapi sekarang kamu justru tak punya alasan satupun. Setiap ditanya teman bahkan orangtua, kamu selalu ngeles dengan menjawab Ya biar nggak ketinggalan sama orang-orang. Jadi Youtuber tuh lagi tren banget sekarang.

2. Begitu ada omongan orang lain yang meremehkan, semangatmu ikut meredup dan ogah melanjutkan

Semangatmu redup begini via unsplash.com

Advertisement

Ih jadi Youtuber kan susah. Kamu belum tahu ya kalau sekarang monetisasi di Youtube udah berubah?

Hah yang bener?

Cita-citamu jadi Youtuber atau yang lainnya seakan ditentukan oleh pendapat orang lain. Saat mereka mendukungmu dan berkata yang baik-baik, semangatmu untuk mewujudkan cita-cita langsung membara. Namun, begitu ada omongan orang lain yang merendahkan, semangatmu turut mereda. Bahkan ogah kembali melanjutkan cita-cita yang masih setengah jalan ini.

3. Cara untuk meraihnya juga tak jauh-jauh dari apa yang orang lain lakukan. Kamu hanya jadi pengikut dan tak sepenuhnya punya terobosan

Meniru orang lain via unsplash.com

Berbagai cara dan upaya pasti akan dilakukan untuk mewujudkan cita-cita. Mulai dari minta petuah dari orang-orang yang berpengalaman di bidangnya, hingga melakukan inovasi agar cita-cita tersebut menjadi spesial dan berbeda. Tapi lain halnya ketika cita-citamu hanya sekadar gengsi. Dalam rangka meraihnya kamu minim inovasi. Hanya mengandalkan apa yang sudah orang lain lakukan. Jika boleh diibaratkan, kamu layaknya follower yang hanya bisa mengikuti dari belakang. Tanpa punya kendali untuk melakukan terobosan baru.

4. Dalam prosesnya, selalu ada rasa ingin terus pamer ke sosial media. Biar orang lain melihat betapa gigihnya kamu berusaha

Kebutuhan aktualisasi diri tinggi via unsplash.com

Berbeda halnya dengan cita-cita pada umumnya yang lebih banyak dipendam dalam hati tapi raga tak henti melakoni, kamu justru inginnya terus pamer. Setiap ada sedikit progres atau bahkan tidak ada progres sama sekali, ada saja yang kamu unggah di sana. Niat awalmu mungkin ingin mendapatkan dukungan moral, tapi lama-kelamaan kamu justru ingin pamer saja. Tak peduli orang memberikan respons kepadamu seperti apa.

5. Saat sudah berjuang tapi ternyata gagal. Kamu bukannya belajar dari kesalahan, tapi menyerah begitu saja tanpa ada rasa sesal

Menyerah dan menyesal dalam waktu bersamaan via unsplash.com

Setiap cita-cita yang ada, pasti memiliki kesempatan untuk berhasil atau gagal. Termasuk cita-cita yang kamu hidupi karena sekadar gengsi ini. Saat sudah bersusah payah berusaha, cita-cita tersebut justru harus gagal. Yang kamu rasakan kecewa bukan main. Rasa sakitnya lebih menghujam karena ada rasa iri di dalamnya.

Meski sakit, kamu bukannya belajar dari kesalahan, tapi malah menyesal dan hanya merutuki kegagalan. Padahal biasanya proses lebih dihargai daripada hasil, kamu justru sebaliknya. Hasil adalah segala-galanya, sementara proses hanya pelengkap saja.

6. Saat kamu bisa mencapai tujuan, tak benar-benar ada rasa lega, yang ada hanya rasa haus akan pujian

Nggak mau muji aku nih? via unsplash.com

Namun, adanya Tuhan berbaik hati kepadamu. Meski dipupuk dengan rasa gengsi, cita-citamu pun tercapai berkat usaha dan kerja kerasmu, tapi kamu tak merasakan lega dan bangga atas pencapaian ini. Kamu merasa biasa, meski tetap haus akan pujian. Sementara pujian yang kamu harapkan malah tak ada yang tertuju kepadamu. Berhasil tapi malah merasa hampa. Cita-cita yang harusnya memotivasimu untuk jadi yang lebih baik lagi, justru mengekangmu dan membuatmu jalan di tempat.

Kalau kamu baca seksama hal-hal di atas, setiap poin memiliki benang merah yang bisa kamu tarik kesimpulannya. Cita-cita yang hanya karena gengsi lebih cenderung terpusat pada orang lain sebagai porosnya. Mulai dari alasan, sampai hasil, pasti akan terpengaruh orang lain. Kalau cita-cita saja kamu ciptakan dari rasa gengsi, yang ada di dalam dirimu bukannya prestasi. Namun, hanya rasa iri yang tak memberikanmu manfaat sama sekali. Nah, cita-cita yang sekarang kamu perjuangkan tercipta dari rasa gengsi atau memang dari hati?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya