Katanya kita sudah merdeka dari penjajahan, tapi kenyataannya kata merdeka tak benar-benar terwujud. Diam-diam kita semua masih terbelenggu oleh penjajahan yang dilakukan bangsa kita sendiri, bahkan diri ini. Tak perlu jauh-jauh untuk mengendus macam penjajahan yang masih ada hingga saat ini, coba saja telisik pada dirimu yang dianggap muda dan calon penerus bangsa. Ada banyak hal yang dianggap biasa tapi ternyata membelenggu pikiran, ekspresi, bahkan perasaanmu, dan kalau terus dibiarkan ya dirimu sendiri yang merugi.

Lalu, kira-kira hal apa saja sih yang selama ini menjajahmu secara diam-diam tapi pasti efeknya dalam jangka panjang? Simak baik-baik, jangan kaget, dan segera lah memederkakan beberapa hal tadi. Karena kemerdekaan dirimu jelas ada ditanganmu.

Advertisement

Selamat berjuang, anak muda!

1. Merdeka dari semua persoalan cinta, sebab hidup tak melulu mengurus patah hati atau mengejar impian nikah muda

Cinta melulu via unsplash.com

Anak muda dan gelora cinta memang tak bisa dipisahkan. Karena memang jatuh cinta tak pernah bisa dihentikan. Tapi jangan sampai kamu diperbudak oleh cinta, membuatmu lupa kalau tujuan hidupmu itu tak sekadar jatuh cinta, menikah lalu sudah. Sebagai generasi bangsa ada banyak hal yang bisa kamu lakukan, setidaknya buatlah dirimu berharga untuk orang banyak.

2. Merdeka dari komentar atau cibiran orang yang hanya akan meresahkan dirimu sendiri

Abaikan nyinyiran netijen via unsplash.com

Berkomentar memang jadi hak semua orang. Tapi kebanyakan orang tak bisa membatasi komentarnya terhadap orang lain. Apa yang terlintas, ya segera diutarakan. Padahal belum tentu itu enak bagi si pendengar. Sementara kamu jelas tak bisa membatasi kebebasan orang lain dalam berkomentar. Tapi tanpa perlu membatasi, sebenarnya kamu bisa merdeka dari semua nyinyiran netijen yang kadang tak berperasaan, salah satunya ya dengan mengabaikannya.

3. Merdeka soal pilihan karir, kamu memegang penuh kendali dalam menentukan kerjaan apa yang sesuai renjanamu

Kerja sesuai keinginanmu via unsplash.com

Advertisement

Sadar atau tidak, sedari kecil kamu sudah dituntut memilih karirmu dari pertanyaan, “kalau sudah besar mau jadi apa?” Sementara, seiring berjalannya waktu jawaban semasa kecilmu itu akan menghilang dengan sendirinya. Terganti dengan keinginan baru, syukur-syukur kalau keinginan itu bisa terwujud dengan mulus. Tapi masalahnya, kadang proses memilih karir terbentur dengan keinginan orangtua. Ayah dan ibu ingin kamu jadi pegawai negeri sipil, tapi dirimu inginnya jadi seniman.

Alih-alih jadi membantah keinginan orangtua, momen seperti ini lah kamu diminta untuk berjuang lebih keras. Kamu harus bisa membuktikan kalau dengan jadi seniman, dirimu bisa mapan, dan membanggakan orangtua lewat karya yang dirimu buat.

4. Merdeka dari pertanyaan kapan lulus kuliah, kerja di mana, sampai kapan nikah

Ekspresimu saat dapat pertanyaan via unsplash.com

Hidup itu memang tanda tanya. Sementara kamu diminta oleh hidup untuk menjawab semua tanya dengan menyelesaikan setiap prosesnya satu per satu. Tapi sebenarnya orang tak perlu juga memunculkan terus pertanyaan yang seolah-olah mendiktemu untuk melakukan sesuatu sesuai standar mereka, seperti harus lulus kapan, menikah kapan, kerja di mana. Padahal proses hidup setiap orang itu berbeda-beda, ada yang terlihat terlalu cepat seperti nikah di usia muda, ada juga yang prosesnya sesuai usia, ada juga yang terkesan terlambat.

Jadi pertanyaan seperti kapan lulus kuliah atau kapan nikah ini harusnya tak perlu ada, kalau memang terlanjur ada, abaikan saja. Tak perlu kamu ambil pusing atau jadi beban pikiran.

5. Merdeka dari rasa nggak enakan saat ingin menolak sesuatu yang jelas-jelas merugikanmu

Belajar bilang nggak atau menolak via unsplash.com

Salah satu kelemahan kita itu, mengendalikan rasa nggak enakan untuk menolak sesuatu. Ada saja pikiran, kalau menolak nanti dijauhkan lah, nanti jadi bahan pembicaraan lah, nanti orangnya tersinggung lah. Padahal belajar bilang tidak atau menolak itu salah satu cara memerdekakan diri dalam mengambil keputusan. Kalau memang dirimu tak ingin ikut pergi atau membantu sesuatu yang menurutmu tak berfaedah, ya katakan saja “maaf tidak bisa”.

6. Merdeka dari rasa iri saat melihat teman lebih beruntung atau terlihat lebih sukses darimu

Tak perlu iri melihat teman sendiri via unsplash.com

Ada yang bilang rasa iri ibarat bumerang yang bisa melukai dirimu sendiri. Karena itu, meski sepele rasa iri harus disingkirkan segera, dengan kata lain ya memerdekakan dirimu dari penjajahannya. Toh rasa iri tak akan pernah berbuah apapun.

7. Merdeka dari kebiasaan ikut tren yang tak jelas faedahnya dan hanya mengurangi waktumu untuk berkarya

Nggak perlu ikut-ikutan via unsplash.com

Kamu sendiri sebenarnya tahu, kalau bangsa kita terkenal “latah” yang sukanya ikut tren ini-itu tanpa melihat manfaat dari tren itu terlebih dahulu. Asal bisa mendulang kata “keren” atau “wah lucu tuh” pasti langsung diikuti. Padahal tren ini belum tentu cocok untukmu. Lebih parahnya lagi, barangkali tren ini hanya akan membuang waktumu yang harusnya bisa digunakan untuk berkarya atau melakukan hal bermanfaat lainnya.

8. Merdeka dari ketergantungan gawai, sebab ini ancaman terbesar di era milenial seperti sekarang

Penjajahan oleh teknologi via unsplash.com

Mengikuti perkembangan teknologi memang perlu, tapi kalau sampai ketergantungan rasanya kurang baik juga untukmu. Salah satunya soal penggunaan gawai, di mana pun kamu berada entah kenapa ponsel tak bisa jauh darimu. Padahal di dalam ponsel atau gawaimu itu hanya ada kehidupan maya, yang terasa dekat tapi tak benar-benar bisa disentuh olehmu. Kehidupan maya yang hanya akan membatasimu untuk berperan aktif di kehidupan nyata, seperti bersosialisasi dengan lingkungan tempatmu berada atau ikut andil dalam membangun bangsa serta negara.

Kalau begitu ceritanya, bukankah kita diam-diam sedang dijajah oleh kelakuan diri sendiri? #merdekatapi belum bisa bahagia karena galau melulu soal cinta. #merdekatapi tidak bisa bilang tidak atau menolak yang tak dirimu inginkan. #merdekatapi belum bisa berkarya secara nyata dan bermanfaat untuk bangsa.

Jadi, tugas kita sekarang, ya merdekakan diri kita sendiri saja terlebih dahulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya