“Lihat kondisi negara yang kayak gini, rasanya gue pengen pindah kewarganegaraan.”

Nggak sedikit orang yang berangan-angan untuk pindah ke luar negeri atau berganti kewarganegaraan karena kesal pada kondisi di Indonesia. Dari sistem pendidikan sekolah negeri, pertarungan politik yang bikin kamu malas nonton berita lagi, hingga korupsi di tingkat kelurahan sampai bagian paling pusat dari pemerintahan, rasanya masalah di negeri kita seperti lingkaran yang tak ada ujungnya.

Tapi tunggu dulu! Apa dengan pindah ke luar negeri hidupmu pasti jadi lebih tenteram? Bahkan negara paling maju di dunia ini juga punya masalahnya sendiri. Lagi pula, benar-benar menyiapkan diri untuk pindah ke lain negara tak semudah mendorong lidah untuk berkata, “Aku mau pergi dari Indonesia.”

Daripada pindah kewarganegaraan, lebih baik lakukan apa yang kita bisa untuk meringankan dampak masalah-masalah ini dalam kehidupan kita. Memang, kita tak bisa menuntaskan masalah-masalah itu sampai ke akar-akarnya hanya dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana. Tapi melakukan sesuatu, sekecil apapun, setidaknya lebih baik dari diam saja. Nah, sembari “menabung daya” untuk melakukan sesuatu yang lebih besar demi menyelesaikan masalah-masalah itu, mengapa tidak memulai dari hal-hal di bawah ini dulu?

1. Sembari berharap pemerintah memperbaiki sistem tata kota, kamu bisa membuang sampah pada tempatnya untuk mengurangi bencana.

Kamu bisa mengurangi bencana dengan membuang sampah pada tempatnya via promkes.depkes.go.id

Advertisement

Memang, banjir tak bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sebabnya, faktor yang menyebabkan terjadinya banjir memang kompleks. Misalnya saja sistem tata kota yang amburadul, pembangunan liar yang menutup celah resapan air, hingga perubahan iklim. Tapi jika saat ini kamu belum punya keahlian atau daya untuk melakukan hal serius seperti memperbaiki sistem tata kota, setidaknya kamu bisa berkontribusi mencegah banjir dengan cara membuang sampah pada tempatnya.

Dengan membuang sampah pada tempatnya, kamu sudah mengurangi risiko melubernya selokan, sungai, dan aliran-aliran air dalam kota. Ini sangat berarti untuk mengobati sakit lingkungan yang sedang diderita negeri kita.

Anak TK juga tahu kalau semua orang harus membuang sampah pada tempatnya. Jadi kalau melakukan hal ini saja kamu tidak bisa, bisa jadi mentalmu lebih kekanak-kanakan dari mental anak TK!

2. Punya kendaraan pribadi memang nyaman dan aman. Namun jika digunakan sembarangan, ia bisa jadi biang kemacetan.

Tak lagi parkir di badan jalan via www.tempo.co

Kemacetan memang selalu menjadi hal yang bikin kita merasa geram saat di jalan. Gak jarang gara-gara macet kamu jadi telat datang kuliah atau bekerja. Penyebab kemacetan juga sebenarnya kompleks, dari pertumbuhan kendaraan yang tidak terkontrol sampai luas jalan yang tidak memadai.

Karena tidak mungkin bagi kita yang notabene anak muda biasa untuk mengontrol industri otomotif Indonesia atau membuat jalan-jalan baru di kota, yang bisa kita lakukan sebenarnya adalah memperhatikan cara kita memakai kendaraan itu sendiri.

Apakah selama ini kita sudah parkir di tempat yang benar? Apakah selama ini kita sudah berusaha memakai kendaraan pribadi hanya jika diperlukan? Ataukah kita masih cukup boros, dengan menggunakan motor atau mobil dalam perjalanan jarak dekat yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan atau kendaraan umum?

Jika kamu tak betah naik kendaraan umum, cobalah untuk pergi dalam satu mobil bersama temanmu. Jika kamu tak sanggup untuk bersepeda ke kantor, cobalah untuk tidak memarkirkan kendaraan di trotoar atau badan jalan. Dengan begitu, kamu sudah berkontribusi membuat kondisi jalanan lebih lancar dan rapi.

3. Memang kamu belum cukup kaya untuk melunasi hutang negara. Tapi, kamu bisa berhenti membeli BBM bersubsidi agar anggaran subsidi pemerintah tepat guna.

Kalau kamu mampu beli pertamax, kenapa beli premium? via www.tempo.co

“Ih, memangnya kenapa kalau beli premium? Aku ‘kan masih mahasiswa, masih tergantung orangtua.”

Sah-sah saja berpikiran begitu. Keputusan akhirnya tetap ada di kamu, dan tentu kamulah yang paling tahu kondisi keuangan pribadimu. Intinya, yang ingin Hipwee sampaikan di sini adalah jika kamu memang punya daya untuk membeli BBM tak bersubsidi, tahanlah diri untuk mengkonsumsi BBM yang bersubsidi. Soalnya, ada lapisan masyarakat yang lebih membutuhkannya dari kamu.

(Untuk sementara ini subsidi premium memang sudah dicabut. Namun jika harga minyak dunia melambung lagi ke 70-80 dolar Amerika per barelnya, negara akan menggelontorkan dana agar premium tidak melebihi harga Rp. 9500/liternya)

Ingat, orang kaya bukan dia yang punya paling banyak uang — tapi dia yang merasa cukup tanpa perlu mengambil hak orang.

4. Ngaret di Indonesia memang sudah jadi budaya. Tapi, datang tepat waktu juga bisa menciptakan budaya baru yang lebih positif bagi kita.

Telat meeting via almasulauzan.wordpress.com

Ngaret  sudah menjadi budaya yang lekat dengan kita semua. Gak jarang, suatu acara dijadwalkan jam 3, tapi kamu berpikiran:

“Datengnya ntar jam 3.30 aja deh, palingan yang lain juga belum pada dateng.”

Ini bukan hanya ada di benakmu, tapi juga sebagian besar temanmu.

Sekarang bukan saatnya untuk mencaci maki kebiasaan ini. Membandingkannya dengan disiplin waktu orang luar negeri juga tidak banyak membantu jika itu tidak membuatmu mengubah kebiasaan ini.

Tak ada ruginya memulai dari sendiri. Dengan menginisiasi datang tepat waktu, kamu bisa menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarmu. Orang-orang yang sudah mengenalmu sebagai orang yang selalu tepat waktu juga akan segan jika datang terlambat saat janjian denganmu.

Budaya ada karena kebiasaan kecil yang kemudian dilestarikan. Namun, seorang individu biasa juga bisa kok menciptakan budaya baru yang lebih positif untuk lingkungannya. Beranikah kamu mencoba?

5. Cobalah untuk lebih banyak menggunakan kertas bekas atau daur ulang. Dengan ini, bumi akan berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan hutan.

Mengirim email dari pada cetak kertas via stupiddope.com

Deforestasi memang menjadi masalah klasik bagi kita. Namun, kita yang bukan orang penting dalam industri kehutanan Indonesia tetap bisa berkontribusi agar masalah deforestasi ini tak semakin menjadi-jadi.

Cobalah mengurangi penggunaan kertas agar permintaan produksi kertas baru juga berkurang. Dengan ini, kita bisa mengurangi jumlah pohon yang harus ditebang untuk produksi pulp.

Asal tahu saja, untuk membuat 1 rim kertas dibutuhkan 1 pohon utuh yang berumur 5 tahun. Hutan seluas 1.732,5 hektare di dunia hilang setiap satu jam karena pohonnya ditebang untuk bahan baku pembuatan kertas.

Jadi, cobalah memanfaatkan kertas bekas untuk mengerjakan revisi tugas atau sekedar mencorat-coret. Gunakan juga media teknologi untuk urusan tulis-menulis. Dengan langkah kecil sederhana ini, kamu juga bisa membantu satwa hutan agar tidak kehilangan rumahnya. Bukan mustahil pula, kantongmu juga ikut terselamatkan! :’)

6. Sembari berharap PLN bisa menambah dayanya, cegahlah pemadaman bergilir dengan mencabut charger-mu yang tidak terpakai.

Colokan gak terpakai lebih baik kamu lepas via www.rajanego.co.id

Pemadaman bergilir, apalagi di siang hari, sering membuat kita kesal. Sudah harus mati gaya karena komputer dan HP habis daya, kita yang harus bekerja pun jadi tak bisa menuntaskan pekerjaan dengan lancar.

Pemadaman bergilir terjadi karena jumlah permintaan daya listrik jauh melebihi kemampuan PLN untuk mensuplai daya tersebut. Nah, sembari berharap bahwa pemerintah akan menemukan solusi dan strategi yang tepat untuk menambah daya, kamu juga bisa membantu mencegah pemadaman bergilir dengan tidak boros listrik. Caranya sederhana saja kok: kalau charger-mu sedang tidak dipakai, jangan lupa cabut dari stop kontak.

Kenapa kita harus mencabut charger dari stop kontak? Karena charger tetap menyerap energi listrik meskipun tidak tercolok ke gawai apapun!

Menurut Kementerian ESDM, jika dalam sebulan 500 rumah mau mencabut colokan TV, HP, kipas angin, dan rice cooker, ini bisa menghemat sekitar 1 miliar rupiah. Tuh… Sudah bosan ‘kan mati listrik setiap pekan? Pastikan colokan listrikmu yang tak terpakai sudah dilepaskan dari stop kontak, ya!

7. Kita semua pasti bermimpi negara ini jadi maju dan mandiri. Tapi kalau kamu enggan belanja produk lokal, semua itu tak akan terwujud sampai kita mati.

Mulai belanja di pasar yak via www.travelmatekamu.com

Setiap kita pasti berharap tinggal di negara maju agar hidup lebih makmur, tapi nyatanya Indonesia adalah negara yang masih berkembang. Bicara tentang sistem pemerintahan, kebijakan dan seluk beluknya gak jarang membuat kepala kita pening seketika, karena masalah negara memang tidak sesederhana membaca puisi Rendra.

Mungkin kamu bukan PNS atau orang yang dikontrak oleh pemerintahan, namun kamu bisa membantu negara kita jadi lebih “merdeka”. Cara pertama adalah mulai berbelanja di pasar tradisional. Dengan cara ini kamu bisa membantu pedagang dalam negeri untuk tetap eksis di tengah gempuran supermarket-supermarket besar. Ingat, syarat menjadi negara maju adalah punya wirausahawan sebanyak 2% dari seluruh warga negaranya.

Kamu juga bisa memilih mengkonsumsi produk pangan lokal daripada produk impor. Misalnya, kurangi konsumsi gandum karena gandum masih harus diimpor. Dengan lebih memilih produk lokal, kita bisa menggenjot produksinya, sehingga meningkatkan kualitas ketahanan pangan Indonesia.

Tak perlu jadi presiden buat mengubah negara menjadi lebih mandiri. Kamu bisa bantu mewujudkannya dengan membeli produk lokal karya anak bangsa.

8. Dengan tidak membeli karcis dari calo, kamu bisa mengajarkan bahwa tindakan curang tidak akan ada untungnya.

Berhenti beli tiket lewat calo via deeadewie.wordpress.com

Aparat pemerintah yang berbondong-bondong menjadi tersangka korupsi seringkali membuat kita putus harapan tentang kejujuran yang harusnya ada disetiap manusia.

Kamu berpikir negara kita sudah bobrok.

Tapi tunggu dulu, sebenarnya kamu masih bisa menebar asa dengan cara yang sederhana lho. Tanpa harus ikut mencaci para koruptor, sekarang kamu bisa coba berhenti membeli karcis dari calo. Karena jika kamu membeli karcis pada mereka, gak jarang banyak orang akan tergoda untuk menjajal profesi ini. Maka, kian banyaklah calo-calo baru yang tumbuh.

Nah, dengan cara membeli tiket di tempat penjualan yang seharusnya, kamu bisa mengajarkan mereka bahwa tindakan curang tidak akan memberikan keuntungan.

9. Keamanan di jalan tak bisa sepenuhnya kamu serahkan pada polisi. Bagaimanapun, kamulah yang ada di belakang kemudi.

Memakai Handphone saat berkendara via www.kaskus.co.id

Angka kecelakaan yang tetap tinggi (terutama kecelakaan sepeda motor) memang menjadi PR besar bagi pemerintah. Banyak peraturan baru yang akhirnya diterapkan, seperti kewajiban menyalakan lampu sepeda motor di siang hari. Namun, hal ini tidak akan memberikan perubahan yang berarti jika toh peraturannya tidak kamu jalankan.

Tak menerobos lampu merah, menyalakan sign saat ingin berbelok, sampai berhenti saat menggunakan handphone wajib kamu lakukan demi menghindari kecelakaan. Selain itu, pastikan kamu tidak mengendarai sambil mabuk atau memberikan fasilitas kendaraan pada anak di bawah umur — ingat, kendaraan itu seperti senjata. Jika sembarangan digunakan, kehilangan nyawa adalah taruhannya. Nah, kamu bisa membantu pemerintah mengurangi tingkat kematian di jalan dengan benar-benar menaati peraturan. Mulai saat ini, janji, nggak ada lagi ya yang namanya melanggar lampu merah atau nyetir sambil mengecek HP…

Masalah bangsa memang rumit dan berlapis. Namun, jangan sampai ini membuat kita merasa tak punya daya untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Tak perlu menjadi presiden untuk membuat negara ini lebih maju. Tak harus jadi anggota dewan untuk ikut serta menyiasati krisis energi. kamu juga tak harus paham politik untuk tahu bagaimana cara membumihanguskan sikap curang. Dengan cara-cara sederhana, semampumu sebagai anak muda biasa, kamu bisa ikut membantu mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Daripada hanya marah-marah ke pemerintah dan mimpi berhenti jadi WNI?