4 Aktivis Cilik yang Berani Suarakan Pendapat ke Seluruh Dunia. Bikin Bangga Sekaligus Minder Juga

Aktivis Lingkungan Cilik

Bicara soal aktivis cilik, kita pasti teringat dengan Malala Yousafzai. Seorang remaja asal Pakistan yang getol mendesak pemerintah untuk memperbolehkan perempuan mendapatkan pendidikan. Tak hanya itu, Malala juga lantang menyerukan perlawanan terhadap kelompok Taliban yang membuahkan percobaan pembunuhan padanya di tahun 2012 lalu. Saat ini, Malala yang pernah mendapatkan nobel perdamaian dari PBB mendirikan lembaga amal di Inggris, Malala Fund, yang fokus pada pengembangan perempuan.

Advertisement

Ternyata nggak hanya Malala lho, ada banyak aktivis cilik yang bikin kagum. Bila Malala fokus pada isu sosial pemberdayaan perempuan, mereka kebanyakan fokus pada masalah climate change. Kok bisa ya mereka memikirkan hal-hal besar, saat di usia mereka, mungkin kita masih terlalu sibuk memikirkan pe-er matematika. Pergerakan mereka bikin bangga, sekaligus minder untuk generasi yang lebih tua. Sementara sampai sekarang kita masih suka nggak enakan bilang “nggak” ke orang lain, aktivis-aktivis lingkungan cilik ini berani menyuarakan pendapat ke seluruh dunia, di hadapan orang-orang dewasa.

1. Greta Thunberg, yang berani banget sindir-sindiran sama Donald Trump di Twitter

Greta Thunberg (Photo: Anders Hellberg/Newyorker) via www.newyorker.com

Greta Thunberg tentu bukan nama yang asing lagi. Belakangan, namanya digaungkan ke seluruh dunia dan memberi inspirasi bagi anak lainnya untuk ikut peduli pada lingkungan. Dengan lantang Greta mengajak semua orang untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim. Sebelum terkenal, Greta sudah memulai aksinya di tahun 2018 dengan rutin bolos di hari Jumat dan berdemo sendirian di depan parlemen Swedia, dengan membawa spanduk bertuliskan “bolos sekolah demi iklim”.

Advertisement

Pada bulan September 2019 kemarin, Greta hadir di pertemuan PBB terkait iklim di New York. Di sana, seperti biasa, Greta dengan blak-blakan “memarahi” dan “mengancam” para kepala negara yang menurutnya terlalu lamban mengurusi masalah perubahan iklim. Yang unik lagi, Greta ini sering disindir oleh Presiden Amerika, Donald Trump, dan balas menyindirnya lewat bio Twitter. Wow, keberanianmu Greta…

2. Cemas dan sedih kotanya jadi pembuangan sampah dari luar negeri, Aeshnina Azzahra kirim surat ke Perdana Menteri Australia

Advertisement

Aeshnina Azzahra via www.abc.net.au

Bila Eropa punya Greta Thunberg, baru-baru ini kita juga punya aktivis cilik yang keberaniannya membanggakan. Aeshnina Azzahra, seorang siswi SMP di Gersik yang baru berusia 12 tahun. Nina sedih karena di sekitar rumahnya terdapat banyak sampah plastik yang ternyata dieskpor dari negara-negara lain seperti Australia dan Amerika Serikat.

Dalam suratnya diceritakan Nina bahwa pabrik kertas di kotanya memang mengimpor sampah kertas bekas sebagai bahan dasar kertas dan produk lainnya. Namun, Nina menyadari bahwa banyak sampah plastik yang nggak bisa didaur ulang di sana. Akibatnya, sampah yang nggak terpakai itu menumpuk dan menimbulkan bau nggak sedap di pemukiman penduduk. Kesedihan Nina bercampur dengan kecemasan karena hal ini pastinya mengancam kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Kecemasan itu Nina tuangkan dalam sebuah surat yang dia tujukan kepada Perdana Menteri Australia, Scott Morisson, yang meminta Australia untuk mengambil sampah plastik tersebut dan berhenti mengirim sampah-sampah yang nggak bisa didaur ulang ke kotanya.

“Berhenti mengekspor sampah plastik dengan sisa-sisa plastik ke Jawa Timur dan Indonesia. Tolong ambil kembali sampahmu dari Indonesia,” tulis Nina dalam suratnya yang berbahasa Inggris, seperti yang dilansir dari ABC News.

Surat tersebut dikirimkan melalui Kedutaan Besar Australia, dan PM Scott Morisson sendiri sudah meresponsnnya. Menurut Perdana Menteri, Australia secara berkala melarang ekspor plastik, kaca, dan kertas sejak 2019. Nggak hanya kepada Australia, Nina juga mengirimkan surat serupa kepada kanselir Jerman, Angela Merkel, dan Presiden Amerika, Donald Trump.

3. Rela drop out dari sekolah sebelum ujian, Licypriya Kangujam yang masih 8 tahun sudah jadi pembicara di 21 negara

Licypriya Kangujam (Photo: P Jawahar) via www.newindianexpress.com

Tahun 2018 ketika masih berusia 6 tahun, Licypriya Kangujam, sudah berkesempatan untuk menghadiri 3rd Asia Ministerial Conference for Disaster Risks reduction 2018 (AMCDRR 2018) di Ulaanbaatar, Mongolia. Sepulang dari sana, bersama sang Ayah, Kangujam mendirikan gerakan yang disebut dengan “Bachpan Andolan” atau “The Child Movement”. Kangujam juga menyoroti tentang isu-isu lingkungan, terutama tentang perubahan iklim.

Dalam acara COP25 climate conference di Madrid, Spanyol, pada  December 2019, Kangujam menyerukan kepada para pimpinan negara tentang perlunya aksi segera untuk mengatasi perubahan iklim. Meski usianya masih sangat belia, Kangujam sudah mengikuti berbagai gerakan yang keras. Dia rutin mengikuti demonstrasi mingguan di depan Parlemen India. Bahkan, Kangujam rela drop out dari sekolah di usia 7 tahun menjelang masa-masa ujian, karena dia terlalu sering bolos sekolah dang nggak memenuhi syarat untuk ikut ujian.

4. Ridhima Pandey berani menggugat secara hukum Pemerintah India karena gagal implementasikan Undang-Undang Lingkungan

Ridhima Pandey via www.indiatoday.in

Perhatian Ridhima Pandey, remaja 11 tahun dari India, tentang efek mengerikan dari perubahan iklim berawal dari musibah banjir besar Kedarnath di tahun 2013. Bencana alam banjir sekaligus tanah longsor ini memakan korban hingga 500 jiwa, dan oleh pemerintah India sempat disebut sebagai tragedi terparah di era milenium.

Berangkat dari sana, Ridhima menyadari bahwa perubahan iklim membawa dampak yang sangat membahayakan. Pada tahun 2017, Ridhima sempat menggugat pemerintah India lewat petisi Mahkamah Nasional Untuk Urusan Lingkungan India. Ridhima menuntut secara hukum, karena menilai pemerintahnya gagal mengimplementasikan Undang-Undang Lingkungan. Sedangkan di tahun 2019, bersama Greta Thunberg dan 16 remaja dari seluruh dunia lainnya, Ridhima Pandey juga hadir dalam demo yang diadakan di UN Climate Action Summit.

Dunia memang sudah berubah. Membicarakan soal keberanian melakukan perubahan nggak bisa lagi dipatok dengan usia dan power yang besar sejak awal. Karena power itu bisa diciptakan, dan kepedulian serta keberanian bisa menjadi senjata untuk mengungkapkan sesuatu. Jangan mau kalah dengan mereka ya. Yuk, mulai tunjukkan kepedulian kepada lingkungan lewat hal-hal kecil yang kita bisa.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE