Ayah dan Ibu, Bersediakah Kalian Membuka Lebar Pintu Restu Untukku Pergi Merantau?

Selamat pagi Ayah. Selamat pagi Ibu.

Advertisement

Iya, surat ini memang untuk kalian. Aku sengaja meluangkan waktu kemarin petang untuk merangkai kata dan kalimat di dalamnya. Perdebatan kita yang terakhir kali masih basah dan cukup membekas di ingatanku. Aku ingat betapa Ayah dan Ibu terlihat cemas yang melebur dengan gusar ketika aku menyuarakan pendapatku untuk melanjutkan pendidikan di kota lain. Oleh karena itulah, aku tak akan mengangkat topik ini kembali saat kita bercengkerama ataupun bertatap muka.

Aku enggan beradu pendapat lagi, karena aku tak ingin membuat Ayah dan Ibu berlama-lama menyimpan marah. Biarlah surat pendekku ini yang akan menyampaikan permohonanku (untuk yang terakhir kalinya) supaya kalian merestuiku untuk pergi menimba ilmu di kota yang cukup berjarak dari rumah. Bukan hanya demi kebaikanku semata, namun ini juga demi kebaikan bersama.

Aku tahu, Ayah dan Ibu pasti cemas luar biasa karena keinginanku yang ingin melanjutkan pendidikan ke kota tetangga. Namun, ini semua demi tergapainya semua mimpi dan asa yang anakmu punya.

aku

ini semua demi tercapainya cita-cita yang aku punya via imgarcade.com

Aku paham betul kalian pasti cemas luar biasa sesaat setelah aku mengutarakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di luar kota. Tentu Ayah dan Ibu tak akan rela buah hatinya ini hilang dari dekapan. Kalian pasti khawatir apakah aku mampu menjaga diri dan memenuhi kebutuhanku tiap hari. Bisakah aku menjaga asupan makanan yang akan masuk ke mulutku demi menghindari sakit maag yang sering menyerang lambungku. Dan, apakah aku bisa pulang tepat waktu serta selalu aman selama 24 jam.

Advertisement

Ayah, Ibu, aku mengerti betul keresahan hati kalian. Aku memahami itulah hal yang sering mondar-mandir di rongga kepala kalian karena kegundahan yang tak pernah alpa kalian rasakan. Percayalah Yah, Bu, kini buah hati kalian ini telah menapaki usia dewasa. Aku sanggup menjaga raga sendiri dan tahu ke arah mana kaki ini.

Keputusanku ini bukan keputusan sesaat dan buah dari ikut-ikutan teman atau karena ingin menjauhkan kalian. Sedari dulu memang inilah impian yang aku cita-citakan : untuk sejenak keluar dari cangkang demi melihat dunia luar. Aku menyadari bahwa ini juga merupakan saat tepat untukku mulai merentangkan sayap lebih lebar. Karena aku meyakini benar bahwa suatu saat tujuanku untuk menggali ilmu di kota lain akan membawa banyak manfaat bagi kehidupanku.

Bersediakah kalian membuka pintu restu supaya aku bisa lekas bertemu dengan cita-citaku?

Advertisement

Bukankah dengan jauh dari kalian, aku justru bisa tertempa menjadi sosok yang sanggup berdiri di atas kaki sendiri? Untuk itulah kalian tak perlu melepasku dengan berat hati, aku berjanji untuk sanggup menjaga diri.

aku sudah bisa memimpin hidup sendiri

aku sudah bisa memimpin hidup sendiri via www.stylegeneris.com

Ayah dan Ibu tak perlu berlebihan menimbun rasa cemas dan gusar di dalam dada. Sekarang ini buah hati kalian bukan lagi balita yang perlu dipersiapkan segala kebutuhannya. Aku yang sekarang adalah manusia dewasa, sama seperti kalian. Aku mampu memilah mana yang baik dan tak baik untuk hidupku. Pun inilah saat tepat untuk penggodokan kelihaianku dalam pengambilan keputusan ketika disodori banyak pilihan.

Lagipula Ayah dan Ibu perlu tahu bahwa ini merupakan wadahku untuk bisa mengembangkan talenta yang aku miliki. Bahkan, aku bisa berlatih untuk berdiri di atas kaki sendiri demi mulai memimpin hidup yang mandiri. Aku berjanji bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri, Ayah dan Ibu tak perlu menyimpan risau banyak-banyak.

Kalian pasti akan bangga luar biasa ketika tahu buah hati kalian ini mampu pensiun dari sifat manja dan mulai sanggup menyusun hidup sendiri. Sungguh, ini adalah saat yang tepat untuk melepasku dari rumah.

Banyak pengalaman serta wawasan sedang menunggu untuk aku dapatkan. Dan, bukankah itu yang nantinya akan menjadi sumber kebanggaan kalian?

banyak wawasan yang menunggu untuk aku dapatkan

banyak wawasan yang menunggu untuk aku dapatkan via inlifeandinfashion.com

Ayah, Ibu, tak lelah aku meyakinkan kalian bahwa nanti ketika aku mencari ilmu di kota yang jauh dari rumah, akan ada banyak pengetahuan yang terserap di kepalaku. Bukan, bukan hanya ilmu yang bisa aku dapatkan dari bangku kuliah saja. Aku juga akan semakin lihai mengaplikasikan keterampilan bertahan hidup yang selama ini hanya aku dengar dan baca dari buku saja.

Di lingkungan baruku, aku akan dituntut untuk beradaptasi secara utuh. Menyesuaikan diri dengan teman-teman baru pun tempat anyar dan lingkungan yang sama sekali tak kukenal. Dengan begini, mau tak mau aku pun bisa mendapat ragam sudut pandang. Ya, mengenal banyak orang dari berbagi latar belakang sanggup mengasah otakku supaya makin tajam.

Nantinya aku semakin kaya ilmu, wawasan, pengalaman, serta mengenal ragam kebudayaan. Aku pun percaya, esok ketika aku kembali pulang, aku akan menjadi pribadi baru. Tak akan ada lagi sosok manja dan pembangkang yang turut melekati pribadi ini. Sungguh, aku bisa memberikan jaminan bahwa hal inilah yang nantinya akan membuat hati kalian menggembung karena dipenuhi kebanggaan.

Aku mohon Ibu dan Ayah senantiasa memberikanku ijin untuk pergi. Aku berjanji tak akan lupa rumah dan senantiasa memetakan jalan pulang untuk selalu kembali.

aku akan selalu mengingat kembali jalan pulang ke rumah

aku akan selalu mengingat kembali jalan pulang ke rumah via cakhilman.wordpress.com

Ayah, Ibu, suratku ini hampir mencapai penghujungnya. Hampir habis pula kata-kata yang dapat kususun rapi demi bisa meyakinkan kalian berdua. Aku hanya bisa menjanjikan satu hal bahwa jika nanti aku direstui menggali ilmu di kota yang berjarak dari rumah, aku akan selalu ingat kalian. Bahkan, aku tak akan alpa mengirimkan kabarku serta memetakan jalan pulang di rongga kepala. Aku tak akan pernah lupa untuk pulang setiap liburan demi menuntaskan rasa rindu kepada kalian.

Sekali lagi, bersediakah Ayah dan Ibu memberikan banyak restu dan doa yang tak ada habis supaya mimpi dan cita-citaku bisa tergenapkan?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta anjing, penikmat kumpulan novel fantasi, dan penggemar berat oreo vanilla.

28 Comments

  1. Sama nih kayak saya,Semangat Perantau demi meraih kesuksesan.Aku harap semua baik-baik saja dirumah.

  2. this article for you ibu bapak

  3. Enaknya yg sudah dapet izin. Saya masih proses meyakinkan nih. Semoga semuanya lancar dan kuat menjalaninya.

  4. sedikit lebih jauh.. boleh kan? :3

  5. INI habis SMA dan akan kuliah tapi belum diperbolehkan,.. semoga ada waktu ketika aku boleh merantau.. yya Ma – Pa

  6. Angga Prasetyo berkata:

    lima tahun yang lalu,
    berbohong pada orang tua demi kuliah di luar kota
    bayar biaya pendaftaran tes masuk, beli tiket Gajayana yang pada waktu itu masih Rp. 250.000,- belum lagi di Stasiun Gambir handphone di ambil orang.
    tiba di Malang, bingung mencari tempat untuk singgah. diputuskan bermalam di masjid.
    ikut tes pada pagi, siang langsung ke stasiun Malang untuk balik ke Jakarta.
    beberapa hari kemudian ada pengumuman kalo saya termasuk orang yang lolos tes seleksi mandiri suatu PTN.
    saya mencoba memberanikan diri berkata yang sebenarnya. dan reaksi orang tua sudah bisa saya perkirakan. baik ayah dan ibu, kakak, bahkan saudara pihak ibu menentang keputusan yang saya pilih.
    Ditentang merupakan hal yang wajar, toh saya bersikukuh pada pilihan yang saya ambil.
    Tahun pertama, keluarga masih menyindir, namun sindirian itu hilang seiring berjalannya waktu.
    Pada tahun 2013, ayah akhirnya menerima pilihanku. tiga hari kemudian beliau dipanggil Sang Kuasa.

    Bersyukurlah teman-teman mendapatkan izin yang mudah untuk merantau menempa diri, untuk yang sedang berusaha, semoga berhasil mendapatkan izin dari orang tua 🙂

  7. Bahagia nya jika di ijinkan ..sejauh apapun demi cita cita’�

CLOSE