Isu penggandaan uang Dimas Kanjeng Taat Pribadi sudah lebih dari sepekan terakhir meramaikan sejumlah media. Tak tanggung-tanggung, penggerebekan sang empu padepokan yang disinyalir bertanggung jawab atas kasus pembunuhan 2 orang santrinya dan juga kasus penipuan tersebut bahkan melibatkan tembakan gas air mata. Kini, Dimas Kanjeng sudah diamankan oleh aparat. Ironisnya, diantara 23 ribu orang santrinya, masih banyak dari mereka yang setia menanti uang yang sudah disetorkan oleh sang empu padepokan. Mereka percaya bahwa uang mereka akan kembali dan tak sedikit yang yakin bahwa Dimas Kanjeng yang kini meringkuk di kepolisian hanyalah jelmaan Kanjeng Taat saja.

Yang mengejutkan dari polemik ‘sang dukun sakti’ adalah pengikutnya bukan hanya dari kalangan masyarakat awam saja. Seorang cendekiawan muslim –  Marwah Daud Ibrahim bahkan diketahui sebagai salah satu pengikut setia Kanjeng Taat. Mantan asisten peneliti Bank Dunia yang juga mantan anggota DPR RI (1999-2004) tersebut bukan hanya sekadar percaya dengan kesaktian Taat, tapi juga menjabat posisi penting di padepokan. Pun ketika Kanjeng diringkus aparat, Marwah geram lantaran Kanjeng yang sangat dihormatinya itu diperlakukan bak teroris. Ada apa dengan Taat? Pesona apa yang membuat para pengikutnya begitu mengimani kesaktiannya? Bahkan begitu diyakini oleh seorang cendekiawan sekalipun?

Pertanyaan semacam itu muncul dalam benak banyak orang. Namun, pada kesempatan kali ini Hipwee tak akan membahas sosok Taat secara tuntas. Melainkan akan mencoba membaca fenomena penggandaan uang yang sebenarnya sudah eksis dari dulu. Hanya saja, polemik penggandaan uang yang melibatkan Kanjeng Taat menjadi pusat perhatian lantaran diwarnai dengan kasus pembunuhan juga. Pertanyaannya adalah kenapa di zaman yang serba digital seperti sekarang, masih banyak praktik perdukunan yang sukar diterima akal sehat seperti itu?

Fenomena modus klenik penggandaan uang tak ubahnya mengingatkan kita bahwa masih banyak dari mereka yang ingin cepat kaya namun minim usaha

Dimas Kanjeng dan uangnya. via m.tempo.co

Siapa yang tak ingin punya harta melimpah? Bukan hanya uang, tapi juga perhiasan. Para pengikut Kanjeng Taat tidak menyetor uang dalam jumlah ‘kacangan’, melainkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah.  Ada yang sampai rela menjual aset yang mereka punya demi disetorkan pada kanjeng. Mereka berharap uang yang mereka setorkan pada Taat dapat kembali dalam jumlah yang berlipat. Sampai Kanjeng Taat diringkus aparat sekalipun, masih banyak para pengikut yang percaya uang mereka dapat kembali, meski tak tahu kapan waktu pastinya. Tak tanggung-tangggung, mereka sampai bermalam dalam tenda yang didirikan di sekitar padepokan.

Advertisement

Memang, banyak dari kita yang bercita-cita menjadi orang kaya. Ada yang percaya bahwa kekayaan hanya bisa didapat dengan kerja keras. Sementara tak sedikit yang berpikiran sempit bahwa kekayaan bisa didapat dengan jalan yang instan. Salah satunya dengan cara menggandakan uang. Nyatanya, fenomena yang terdengar kuno itu masih eksis hingga sekarang, di zaman yang serba digital. Setidaknya, fenomena ini memberikan gambarang terang bahwa masih ada (banyak) orang yang ingin cepat kaya namun enggan berpeluh-peluh berupaya.

Jika julukan serakah terlalu saru untuk disematkan kepada para pengikutnya, mungkin mereka hanya kurang bersyukur saja dengan apa yang mereka punya sekarang

Tenda para pengikut Dimas Kanjeng. via www.republika.co.id

Pada sebuah program televisi, seorang psikolog mencoba menanggapi fenomena penggandaan uang Dimas Kanjeng. Menurut sang psikolog, hanya mereka yang punya jiwa serakah lah yang dapat terjerat ‘pesona’ kesaktian sang Kanjeng. Mereka yang masih percaya hubungan antara usaha dan kekayaan, sudah barang tentu tidak akan percaya dengan modus penggandaan uang yang sepintas mirip dengan aksi sulap itu. Tanpa bermaksud menghujat para pengikutnya (yang nampak enggan untuk dianggap sebagai korban), agaknya mereka adalah sekumpulan orang yang tanpa mereka sadari sudah putus asa memperjuangkan nasib. Antara putus asa dan kurang bersyukur dengan apa yang mereka punya saat ini.

Berusaha dan berupaya adalah harga mati bagi mereka yang mengimpikan kesuksesan. Agaknya mustahil jika sukses didapat dari jalan yang instan

 Hidup bersahaja dengan kerja keras via images.unsplash.com

Untukmu yang saat ini tengah berupaya keras meningkatkan jenjang karir atau tengah mengembangkan usaha, jangan pernah sedikit pun tergoda untuk menyerah. Apalagi putus asa. Percayalah bahwa tidak ada sukses yang didapat dengan cara yang kilat. Bahwa berlelah-lelah berusaha selalu mengantarkanmu pada hasil akhir yang memuaskan.

Ketimbang datang ke dukun untuk melipatgandakan uang, baiknya fokus saja membesarkan bisnis online yang kamu punya. Kembangkan bisnismu dengan cara yang sehat. Salah satunya dengan memperdalam pengetahuanmu tentang e-commerce. Jadi, saat bisnismu sepi pelanggan, tak lantas buru-buru ke dukun atau ‘orang pintar’ untuk melipatgandakan penghasilan. Percaya deh, masih banyak cara yang sehat untuk menjadi kaya.

Kamu nggak akan pernah rugi, berlelah-lelah mendaki puncak kesuksesan, karena usaha tak ‘kan pernah mengkhianati hasilnya

Karena usaha tak ‘kan mengkhianati hasilnya via favim.com

Sesuatu yang didapat dengan instan, seringnya akan habis sebagaimana itu didapatkan. Jika kamu memeroleh sukses dengan jalan kilat, yakinlah itu tak ‘kan bertahan lama. Berbeda dengan sukses yang didapat dengan keras berusaha, yang sudah barang tentu lebih bisa kokoh bertahan. Karena usaha tak akan pernah mengkhianati hasilnya.

Sebagian kamu para generasi millennial Indonesia, mungkin merasa geli sekaligus kocak dengan kasus penggandaan uang Dimas Kanjeng yang ramai menjadi bahan berita. Mungkin kamu berpikiran,  kok, masih ada ya yang kayak gitu? Pengen kaya tapi kok nggak mau usaha? Semoga kamu para millennials, nggak tertarik untuk mencontoh ya.

Setidaknya fenomena ini membuka mata kita bahwa tak sedikit orang serakah di luar sana yang ingin sukses namun malas berusaha

Dibutakan oleh keserakahan via www.everplans.com

Nyatanya ingin cepat kaya dengan jalan menggandakan uang, bukan hanya cerita yang terjadi dalam sinetron Indonesia saja. Fenomena tersebut masih sering terjadi bahkan di era digital seperti sekarang. Menghujat para pengikutnya bukanlah hal yang bijak, lantaran mereka sendiri tak merasa menjadi korban. Setidaknya kita tetap bisa memetik pelajaran dari fenomena Dimas Kanjeng yang masih ramai diperbincangkan hingga sekarang. Simpulannya adalah: kalau ingin cepat kaya, ya usaha!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!