Belajar Self Love dengan Stop Merasa Bersalah Atas 6 Hal Ini. Yuk Berhenti Ngeribetin Diri Sendiri

Belajar Self Love

Secara teori, self love adalah sebuah bentuk penghargaan atas diri sendiri, yang mana kamu bisa menerima seluruh kekurangan dirimu dan memaksimalkan potensimu. Dengan kadar self love yang baik, kamu bisa lebih jujur terhadap dirimu sendiri, sehingga nggak mati-matian menjadi orang lain untuk disukai. Teorinya terlihat mudah, tapi pada praktiknya self love sulit sekali diterapkan.

Advertisement

Namun, setidaknya upaya untuk meningkatkan self love bisa dimulai lewat hal-hal yang sederhana. Misalnya dengan mengendalikan rasa bersalah dan menempatkan kata “maaf” sesuai fungsi dan kebutuhan. Akui saja, kamu sering merasa bersalah dan minta maaf atas hal-hal yang sebenarnya bukan salahmu, dan bahkan adalah hakmu. Karenanya kamu jadi serba salah dan ribet sendiri karena rasa nggak enakan itu. Jadi, yuk memulai upaya meningkatkan self love dengan berhenti merasa bersalah atas hal-hal ini.

1. Tidak membalas pesan saat kamu merasa pesan itu memang tidak perlu dibalas

tidak membalas pesan via www.inverse.com

Pernah nggak sih, kamu menerima chat-chat yang nggak kamu inginkan, tapi hatimu dilema besar karena nggak enak juga kalau mau mengabaikan? Misalnya pesan dari orang yang nggak kamu suka. Atau mungkin pesan-pesan ajakan ngobrol yang sebenarnya biasa saja, namun kamu nggak sedang dalam mood yang bagus dan nyaman untuk ngobrol dengan seseorang.

Karena rasa nggak enak, dan takut dianggap sombong, kamu pun merasa harus membalas pesan itu. Berpura-pura ramah dan antusias, padahal kamu nggak menginginkannya. Nggak perlu merasa bersalah ketika kamu nggak membalas pesan yang kamu rasa nggak perlu dibalas. Toh, kamu juga bisa memilah mana chat yang penting yang mana pengirimnya membutuhkan informasi, dan chat yang hanya ingin ngobrol saja.

Advertisement

2. Menolak tawaran membeli saldo e-money dari driver ojol, saat kamu memang tak memerlukannya

menolak tawaran isi saldo via www.123rf.com

“Mau isi saldo sekalian, Mbak? Biar saya dapat poin.”

Mungkin permintaan itu sering kamu dapatkan kalau menggunakan jasa transportasi online. Memang nggak ada salahnya bagi mitra pengemudi untuk menawarkan hal tersebut. Namanya juga rezeki memang harus dikejar. Namun, kamu juga nggak harus selalu mengiakan permintaan tersebut kok. Jika kamu sedang membutuhkan, atau kamu memang ingin membantunya menambah poin, lakukan.

Namun, bila kamu memang sedang nggak mungkin mengiakan penawaran tersebut–mungkin kamu baru isi saldo kemarin dan masih banyak, atau bisa juga karena kamu nggak punya uang cash–nggak perlu merasa bersalah apalagi sampai kepikiran. Kamu memang nggak salah apa-apa kok.

Advertisement

3. Mengambil jatah cuti yang memang hak kamu, karena takut dianggap menyusahkan yang lainnya

Kamu berhak cuti dan liburan (Photo by freestock.org) via unsplash.com

Siapa yang masih suka nggak enakan saat mengambil cuti, hayo? Terkadang kamu pengin banget ambil cuti, tapi mengurungkan niat karena berbagai alasan. Nggak enak karena bulan sebelumnya sudah cuti, nggak enak karena pekerjaan sedang banyak-banyaknya, nggak enak karena nggak ada hal yang mendesak, sampai nggak enak karena takut dianggap makan gaji buta kalau cuti. Padahal, cuti adalah hak setiap karyawan lho. Setiap jatah yang diberikan pasti sudah dipikirkan oleh pembuat kebijakan. Jadi, kamu berhak atas cuti itu dan nggak perlu merasa bersalah untuk mengambilnya.

4. Menolak undangan bukber ketika kamu sedang tak bisa atau tak ingin datang

Nggak ikut bukber via www.123rf.com

Perasaan bersalah yang satu ini sering muncul di bulan puasa. Seperti yang kita tahu semua, di bulan puasa kita akan mendapatkan banyak undangan buka bersama. Mulai dari teman kuliah, teman mantan kantor, teman SMA, SMP, hingga SD. Bagus sih, karena acara ini bisa menjadi ajang reunian dan temu kangen.

Tapi kamu berhak menolak kok kalau memang nggak kepengin hadir. Misalnya saja, kamu baru bisa pulang mudik di hari yang sangat mepet lebaran. Kalau kamu lebih memilih menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga yang jarang kamu temui, ya itu hak-mu sepenuhnya. Alasanmu masuk akal kok, meskipun kamu nggak punya tanggungan untuk membuat orang lain paham.

5. Menolak pernyataan cinta dari orang yang memang tidak kamu suka

menolak cinta via info.naminakiky.com

“Sombong banget sih, padahal dia kurang apa coba? Dia tuh sempurna!”

Pernah nggak sih kamu diberi komentar seperti itu, ketika kamu memutuskan untuk nggak menerima pernyataan cinta seseorang? Lalu kamu jadi merasa bersalah. Padahal nggak ada yang salah dari menolak cinta seseorang, selama penolakan itu disampaikan dengan baik dan nggak dengan kalimat yang menyinggung perasaan. Toh, namanya perasaan memang nggak bisa dipaksakan. Kalau kamu menerima perasaannya hanya karena kasihan, itu justru jauh lebih jahat. Karena ia akan terus berkutat dengan harapan-harapan palsu, sedang kenyataannya nggak begitu.

6. Mencintai seseorang, meski ia tak bisa membalas perasaanmu

mencintai seseorang via www.chatelaine.com

Adakah yang pernah merasa bersalah karena memiliki rasa spesial kepada seseorang? Mungkin naksir sahabat sendiri, atau naksir pacar sahabat. Kamu merasa perasaanmu itu salah, dan bisa saja dia yang kamu cintai merasa terbebani. Well, terlepas apakah perasaan itu benar atau salah, kamu nggak harus meminta maaf atas rasa yang hadir di hatimu. Toh, itu juga anugerah.

Akan tetapi apa yang kamu lakukan setelahnya–menuruti rasa itu dan membuat aksi dari situ atau memendamnya saja–barulah akan menjadi masalah. Jadi, selama kamu nggak melakukan sesuatu yang berpotensi merugikannya atau merugikan dirimu sendiri, nggak ada yang perlu dimintai maaf atas perasaanmu.

Kita bisa mencintai orang lain dengan mudah, tapi nggak dengan diri sendiri. Kita bisa memaafkan orang lain dengan mudah, tapi terkadang kita jadi penilai paling kejam pada diri sendiri dengan membiarkan rasa bersalah menggelanyuti hati. Rasa bersalah itu bagus, sebab itu bagian dari emosi manusia dan itu berperan dalam menumbuhkan empati. Tapi, rasa bersalah yang nggak pada tempatnya hanya akan menyiksa diri sendiri dan membuatmu sulit melangkah ke mana-mana.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE