Kita lahir dan dibesarkan dalam budaya yang serba sopan. Kalau orang lain meminta kita membantu atau melakukan sesuatu, rasanya tidak enak kalau tidak bilang “iya”. Akibatnya, kita jadi sering mengiyakan hal-hal yang sebenarnya tak ingin kita lakukan.

Padahal sikap ini bisa menciptakan bencana, lho. Terlalu banyak melayani orang lain akan merampok waktumu untuk diri sendiri. Gara-gara terlalu fokus mewujudkan mimpi orang lain, kamu pun bisa gagal mewujudkan ambisi pribadi.

Advertisement

Jadi, bagaimana sih caranya supaya kita bisa berlatih bilang tidak?

1. “Tidak enakan” hanyalah sekadar perasaan. Temanmu pasti mengerti saat kamu memang tak bisa menawarkan bantuan

letting_go_of_balloons__no__02_by_redandbluecrayons-d5cjc9p

Tenang. Orang-orang tak akan mengecapmu buruk, kok. via redandbluecrayons.deviantart.com

Sering kali, kita mengiyakan permintaan orang karena takut pada risiko yang ada jika kita menolaknya. Misalnya, saat seorang teman ingin meminjam uang, kita akan mengiyakan meski keuangan sendiri hampir pailit. Alasannya, kita takut disebut pelit.

Padahal, menolak permintaan seseorang belum tentu akan membuat orang itu mengecapmu buruk. Apalagi kalau kamu menolak dengan alasan yang wajar. “Ketika ditolak, kebanyakan orang tidak akan menghabiskan waktu mengutuk orang yang menolak mereka,” kata psikolog Linda Tillman dari Psych Central, “Mereka akan move on dan langsung mencari orang selanjutnya yang bisa dimintai tolong.”

2. Menolak permintaan orang lain bukan berarti kamu jahat. Apalagi kalau kamu punya alasan yang kuat

Kamu nggak jahat!

Kamu nggak jahat! via youqueen.com

Advertisement

Kamu mungkin selalu menjawab “iya” karena merasa bersalah saat bilang “tidak”. Menurutmu, jahat sekali kalau kamu harus menolak permintaan tolong temanmu yang memang membutuhkan. Hmm… kalau kamu merasa seperti ini, coba deh kamu pikirkan perasaanmu ulang.

“Jahat” itu adalah ketika kamu dengan sengaja menyakiti perasaan orang lain. Kamu menganggap mereka tidak pantas mendapatkan waktumu, atau tidak layak diberikan bantuan. Pasti bukan itu yang sebenarnya kamu pikirkan. Kamu menolak bukan karena kamu tidak mau, tapi karena memang keadaan tidak mengizinkan.

3. Mungkin kamu memang tidak bisa langsung bilang “Tidak”. Walau begitu, cobalah untuk menangkis dorongan menjawab “Iya” saat itu juga

Meditasi bisa menjernihkan pikiranmu

Bersabarlah. Jangan langsung menjawab ‘tidak’. via www.huffingtonpost.com

Tetap susah bilang ‘tidak bisa’? Ada cara-cara lain yang bisa kamu gunakan untuk menangkis dorongan menjawab “iya”. Misalnya, dengan meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Katakan saja: “Kuberi tahu jawabannya besok pagi, ya!” Dengan begini, kamu bisa mempertimbangkan masak-masak apa kamu memang mampu menolong temanmu. Ketika memutuskan bahwa kamu harus menolak, kamu pun punya waktu menyusun kalimat yang sopan.

4. Setiap harus berkata “Tidak”, mungkin kamu akan merasa sedikit sedih. Tapi sadarilah bahwa perbuatanmu itu manusiawi

Hibur dirimu sendiri dengan cara apapun

Hibur dirimu sendiri dengan cara apapun via www.informedmeateater.com

Kamu pasti akan merasa bersalah ketika mengatakan “Tidak” pada seseorang. Karena itu, hibur dirimu sendiri setiap kali kamu harus melakukannya. Sadarilah bahwa perbuatanmu itu manusiawi. Orang yang memintamu toh juga masih punya teman-teman lain untuk dimintai tolong.

Ingat, setiap kamu mengatakan tidak, jangan berkali-kali minta maaf. Sebelum melontarkan kata maaf yang ketiga atau keempat kalinya, tanyakan dulu pada dirimu sendiri: apakah ini memang salahmu? Seringnya sih… jawabannya “Bukan”. Jadi santai saja, ya.

5. Mungkin kamu selalu bilang “Iya” karena merasa tak percaya diri. Tapi percayalah, kamu tak perlu memaksa diri menyanggupi

Pelihara kepercayaan diri sendiri

Pelihara kepercayaan diri sendiri via styleatron.com

Kadang, alasan kita berusaha menyenangkan orang lain adalah karena kita merasa butuh penerimaan mereka. Kita merasa bahwa harga diri kita tergantung pada bagaimana mereka memandang kita. Akhirnya, kita pun akan mati-matian berusaha membuat mereka menyukai kita.

Selain itu bisa jadi kita merasa diri sendiri tak berguna. Akhirnya, ketika orang lain butuh bantuan, kita berusaha memaksa diri menyanggupinya — demi membuktikan pada diri sendiri bahwa kita ada gunanya.

Kalau sudah begini, sebenarnya masalahnya bukan pada orang lain. Masalahnya ada pada dirimu sendiri. Kamu merasa bahwa kamu tidak berharga dan tidak berguna. Padahal, coba pikirkan: kalau kamu memang pribadi yang seperti itu, apa masih ada yang mau jadi temanmu? Apakah mereka akan menyayangimu seperti sekarang? Kalau mereka melihat sesuatu yang bernilai pada dirimu, kenapa kamu tidak?

6. Lagipula, menyenangkan hati orang lain adalah tanggung jawab orang itu sendiri, bukan kamu!

Kiat disukai di tempat kerja

Kiat disukai di tempat kerja: percaya diri. via www.huffingtonpost.com

Yang paling penting, kamu harus ingat: suasana hati setiap orang adalah tanggung jawab mereka sendiri. Bukan tugasmu untuk membuat orang lain senang. Tugas mereka sendirilah untuk mengontrol apa yang mereka rasakan.

Jadi, jangan pernah terpaksa bilang “iya” hanya karena takut menghancurkan mood orang. Apalagi kalau sikap itu hanya akan menghancurkan mood-mu sendiri. Ini bukan ajaran menjadi egois, ya. Ketika kamu memilih untuk memprioritaskan dirimu, orang lain yang meminta pertolonganmu toh akan baik-baik saja. Dan ketika kamu sudah punya waktu yang lebih luang untuk menolongnya, dia hanya tinggal menunggu tawaran bantuan darimu tiba. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya