Salat Jumat alhamdulillah.

Bersyukur masih bisa diberi kesempatan berbagi. Hamdalah.

Alhamdulillah, terbangun untuk tahajud lagi.

Sebagian kamu mungkin sering banget membaca postingan serupa di sosial media. Postingan yang menunjukkan sang pemilik akun baru saja khatam menjalani ibadah tertentu. Tidak ada yang salah memang. Tidak juga mengganggu orang lain. Yang menjadi masalah adalah pandangan orang saat membacanya.

Riya, sombong, sampai pamer hal yang seharusnya jadi privasi saja bisa muncul. Pertanyaannya, gimana ya bikin postingan di sosial media yang tidak terkesan riya? Di sini Hipwee sudah siapkan caranya.

1. Daripada mengumbar aktivitas ibadahnya, baiknya posting petikan ayat kitab suci saja. Jauh lebih meneduhkan.

Yang kayak gini bikin banyak orang akhirnya jadi nyinyirin. via dindahiin.blogspot.com

Sebenarnya sah-sah saja kamu mau memposting apa pun di sosial media. Wong ya ini akunmu. Hak prerogratifmu dong untuk menulis apapun!

Advertisement

Tapi, bukankah terlalu egois jika kita memposting sesuatu tanpa memedulikan orang lain yang membacanya? Postingan sosial media yang terkesan pamer ibadah seperti di atas, seringnya justru memancing orang lain untuk nyinyir. Pamer banget sih ni orang. Yaelah, ibadah nggak perlu ditunjukkin juga kaleee.

Menunjukkan aktivitas ibadah membuat orang malas dan malah kehilangan respeknya padamu. Daripada mengumbar aktivitas ibadah yang seharusnya privat coba deh posting saja potongan ayat yang lebih bisa jadi pengingat. Selain lebih humble ini juga bisa lebih menyentuh untuk orang lain.

2. Hindari memposting petikan ayat dalam kitab suci yang disertai ungkapan sindiran. Guys, jangan nodai ayat kitab suci dengan perasaan dengki

Jangan jadikan petikan ayat dalam kitab suci sebagai peluru amarah. via www.realhopenow.com

Tak sedikit orang yang memposting petikan bernada religi dengan disertai sindiran. Mungkin sebagian kamu pernah melakukan hal ini. Misalnya memposting petikan ayat Al Quran dengan disertai kalimat yang bernada nyinyir dan ditujukan untuk seseorang yang perilakunya nggak baik. Tujuanmu mungkin baik, demi menyadarkan seseorang secara tidak langsung. Tapi, di sisi lain kamu justru menodai kesucian ayat suci tersebut. Baiknya jangan jadikan petikan ayat dalam kitab suci sebagai peluru selagi kamu marah ya, Guys.

3. Mengkreasikan petikan ayat dalam bentuk gambar jauh lebih terlihat menarik ketimbang sekadar cuap-cuap dakwah yang terkesan menggurui

Petikan ayat seperti ini jauh lebih meneduhkan hati. via saturindu.tumblr.com

Jika kamu benar berniat untuk mengingatkan saudara seiman, sebenarnya ada banyak cara lho untuk melakukannya. Tanpa harus terkesan menggurui atau riya. Misalnya saja dengan mengedit gambar bagus via software photo editor online dengan disertai petikan ayat kitab suci di dalamnya. Nah, cara ini jauh lebih terlihat cerdas untuk mengingatkan orang lain dalam beribadah. Demi mencegah dari dinyinyirin orang lain dan disangka pamer. Nggak hanya itu, orang pun akan merasa lebih nyaman dan teduh hatinya saat membaca petikan ayat dengan latar belakang gambar yang menawan.

4. Kalaupun kamu berniat untuk mengingatkan ibadah sedekah, dokumentasi foto minim ucapan jauh lebih mengena dan mengetuk pintu hati

Posting tanpa ada caption apa-apa juga udah cukup ngena di hati banyak orang. via savepoorchildreninasia.org

Boleh saja kamu mengingatkan banyak orang untuk rajin sedekah. Asalkan tujuannya benar untuk mengajak pada kebaikan. Bukan untuk pamer atau riya. Caranya mudah saja, cukup memposting foto saat kamu tengah berkegiatan amal. Pastikan caption-mu singkat saja dan tidak menggurui. Misalnya cukup dengan satu kata Luv, good day, atau bahkan emoticon smile saja. Orang yang melihat postingan fotomu pun akan merasa termotivasi untuk melakukan kebaikan yang sama. Oh, iya yah gue lupa sedekah bulan ini. Oh, iya yah, gue udah lama nggak berbagi.

5. Luruskan niatmu sebelum memposting, apakah benar untuk mengingatkan atau sekadar pencitraan?

Hare genee masih pencitraan? via rollesherwin.com

Nggak sedikit orang yang menjadikan aktivitas ibadah sebagai alat untuk mencari jodoh. Berlomba-lomba memposting paragraf yang bernada religi demi menarik hati sang pujaan hati. Demi pencitraan sebagai pribadi yang religius. Jangan sampai ya, Guys, tujuanmu memposting statu bernada religi dilatarbelakangi dengan maksud lain. Duh, padahal ada banyak cara lho untuk tetap terlihat dihargai tanpa harus memposting sesuatu yang bernada religi. Karena kamu dihargai karena perilakumu secara nyata, bukan sekadar pencitraan di dunia maya.

Jadi, jangan sampai tujuan baikmu untuk mengajak kebaikan jadi ternodai lantaran caption yang tendensinya riya. Selamat mengajak pada kebaikan!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!