Pernah dengar istilah twitwar? Rasanya sulit menemukan orang seumuran kita, generasi Y, yang nggak tahu soal kata itu. Benar, kita adalah generasi yang hidup di mana tukar argumen lebih asyik dilakukan secara virtual, ketimbang tatap muka.

Nah kali ini Hipwee mau kasih kiat khusus buat kamu yang doyan banget beradu argumen dengan netizen lain dalam menanggapi sebuah topik. Ternyata debat di sosial media pun butuh ilmu. Kalau nggak hati-hati dan nggak cantik dalam debat, kamu malah bisa merampok rasa kemanusiaan seseorang, bahkan banyak orang.

 

1. Sebelum masuk dan ikut bicara soal satu isu, jangan lupa isi dulu kepalanya dengan banyak pengetahuan. Jangan jadi orang yang asal njeplak~

Media sosial memiliki keunggulan tersendiri soal kebebasan berpendapat. Setiap orang memiliki hak untuk bersuara, sependiam atau serendah apa pun derajat seseorang di mata masyarakat, dia nggak bisa dibungkam. Setiap orang telah diberi mimbarnya sendiri-sendiri.

Advertisement

Namun hal utama yang mesti dipikirkan ketika hendak berargumen adalah isi dulu kepalamu. Nggak bisa kamu asal njeplak. Kamu malah bisa terlihat bodoh di mata netizen jika argumenmu kosong. Makanya, isi dulu kepalamu dengan pengetahuan yang nyambung dengan topik.

 

2. Sebelum lawan debatmu mencari tahu siapa kamu, kamu harus sadar siapa kamu ketika hendak terlibat adu argumen soal satu isu

Siapa kamu via expresswriters.com

Setiap orang memang telah disediakan mimbar untuk ikut menyampaikan pendapatnya. Tapi kamu perlu sadar siapa kamu dalam isu yang hendak kamu masuki. Ingat, ketika kamu melakukan perdebatan, lawan debatmu pasti akan mencari tahu siapa kamu. Berbekal deskripsi yang bisa didapat dari profilmu, secara singkat lawan debatmu bisa langsung mengkategorikan dan meringkas siapa kamu.

Contohnya, kamu terlibat dalam perdebatan masalah keselamatan terumbu karang, tapi background kamu sendiri itu anak ilmu sosial. Kemungkinan terburuknya adalah kamu disepelekan, nggak ditanggapi, bahkan digiring untuk masuk ke hal yang terlalu saintifik bagi kamu. Bisa-bisa kamu dibuat malu.

 

3. Kamu harus sadar, waktu selalu di tanganmu. Buru-buru hanya bisa membuatmu berpikir tanpa banyak pertimbangan

Kesalahan terbesar yang nggak disadari banyak orang di internet adalah soal urgensi. Kadang kamu suka terlalu terburu-buru untuk membalas argumen lawanmu. Kamu  jadi terlalu mudah melontarkan kata-kata hanya karena komentar lawanmu membuat panas pikiranmu terlebih dahulu. Tanpa pertimbangan, akhirnya kamu langsung balas aja argument lawanmu dengan penuh emosi.

Perihal masalah tersebut, kamu harus sadar benar dengan kenyataan bahwa ‘waktu ada di tanganmu’. Di tengah baku tembak, kalau kamu keburu nafsu duluan, kamu malah bisa kurang berpikir jernih. Jadi mainkan dulu waktu, gunakan untuk berpikir dan menimang apa yang akan kamu ungkapkan pada argumenmu selanjutnya.

“Nggak masalah kamu harus menunggu. Nggak masalah kamu harus diam terlebih dahulu. Ada kebaikan di balik itu.”

4. Komunikasi lewat media sosial itu metode komunikasi paling rendah. Kamu nggak usah terlalu kepikiran soal debatmu

Nggak usah terlalu kepikiran via icdn4.digitaltrends.com

Hipwee yakin, kita semua adalah pengguna lama yang sudah cukup lama di dunia media media sosial. Namun kadang kamu terlalu baper dengan yang terjadi di sosial media, terutama waktu lagi debat. Metode debat menggunakan media sosial bukanlah metode yang ideal untuk berdebat. Seorang pakar media sosial, John Pavlovitz, bahkan berani menyabut komunikasi lewat media sosial sebagai metode terendah dalam kasta komunikasi.

Konflik yang terjadi di media sosial umumnya terjadi dalam bentuk percakapan secara teks. Tak ada kemampuan dari setiap orang untuk mengetahui secara jelas apa yang mereka katakana, bagaimana intonasi penyampaian bahkan sampai yang biasa tapi penting: mimik wajah. Di media sosial, semua pesan bisa menjadi serba multitafsir. Jadi jangan terlalu dibawa perasaan kalau debat di media sosial. Mending ajak janjian dan adu argumen secara langsung.

Btw, ajak orang buat jadi mediator juga yak. Biar kondusif.

 

5. Kamu harus tahu ‘kapan harus minta maaf’ dan ‘kapan kamu tak perlu minta maaf’

Perlu paham via localsearchmasters.com

Kata-kata itu ibarat binatang liar. Meskipun kamu punya kepercayaan kalau itu baik, tapi dalam beberapa pandangan, mereka bisa menyakiti orang lain. Masih ada kaitannya dengan poin sebelumnya, kata-kata bisa menjadi multitafsir dalam debat di media sosial. Ketika kamu tahu kalau kamu telah melakukan perdebatan secara sehat, tanpa ada kata-kata ofensif yang kasar sedikit pun, ditambah argument kuat dalam membahas satu isu, tak permintaan maaf yang perlu kamu sampaikan pada lawan debatmu. Maka dari itu, kamu harus sebijak mungkin menggunakan kata-kata.

Pun seandainya kamu mendapatkan bully dari orang-orang yang menyaksikan debat, kamu mesti memastikan tak menanggapinya dengan kemarahan pula. Tetaplah dingin dalam menanggapinya. Kamu juga perlu ingat, jangan pernah menanggapi komentar yang sungguh sampah dan receh dari penonton debatmu. Namun, sebaliknya dengan orang yang ikut kontra tapi pernyataan atau sanggahannya make sense. Kamu mesti ikut menanggapinya, walaupun tak wajib.

Lalu kapan kamu harus minta maaf? Jawabannya, ketika kesalahan kamu dalam proses perdebatan. Semua perkataan yang nggak sesuai dengan norma yang berlaku di negara ini. Apalagi kata kasar yang ada kaitannya dengan masalah SARA. Jangan sampai deh. Bermain pintar saja, biar nggak perlu minta maaf. Sarkas, misalnya.

Meskipun tampak terlalu berat, penulis berharap kamu bisa menggunakan media sosial sebijak mungkin ketika berdebat. Perbanyaklah rasa kasih sayang, integritas, dan kemanusiaan ketika berdebat. Dan jangan pernah menjadi orang yang selalu benar. Sebab, kebenaran bukan hanya milik sebuah golongan.

Selamat mencoba!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!