Kehadiran media sosial memberi manfaat bagi banyak orang. Kita jadi lebih mudah berkenalan dengan orang, memasarkan jualan, mengikuti tren, sampai bikin kita viral terkenal. Namun di antara sekian manfaat, kini media sosial lebih sering digunakan sebagai media pencitraan. Kalau kita cerdik, kita bisa menggiring persepsi orang sesuai keinginan. Bagaimana asik bukan?

Sekilas media sosial memang menjanjikan untuk memperbaiki citra diri, tapi kamu mesti pahami bahwa semua itu nggak baik. Memang sih nggak ada salahnya membuat citra diri yang baik, tapi kalau citranya s  aja yang berubah sementara kamunya nggak, ini sama saja membohongi.

1. Semakin ke sini orang sudah bisa membedakan mana yang pencitraan mana yang natural. Jadi yang berpura-pura sudah pasti terlihat norak

Norak via www.pexels.com

Advertisement

Saking banyaknya yang melakukan pencitraan membuat orang semakin mudah pula membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Instasorymu mungkin boleh berisi liburan ke Bali atau makan di restoran fancy melulu, namun mereka yang kenal denganmu pasti tahu bahwa kamu sedang berusaha terlihat wah saja. Apa sebab? Karena telah lama mengenalmu sehingga tahu segala tentangmu.

Paling juga besok minjem duit lagi

Itulah yang ada dalam benak teman-temanmu yang tahu kondisi sebenarnya. Sebenarnya nggak masalah sih terlihat mewah seperti selebgram. Cuma mestinya kamu tahu diri juga dong. Bergayalah sesuai isi dompetmu.

2. Pencitraan yang penuh kebohongan akan jadi bumerang buatmu. Bukannya dapat citra “wah” kamu malah dapat masalah

Merugikan diri sendiri via www.pexels.com

Advertisement

Sebenarnya pencitraan itu ada baiknya kalau memang kamu barengi dengan bekerja keras. Misalnya kamu ingin seperti selebgram yang bisa traveling, belanja barang branded dan punya barang penggemar –semua itu sah-sah saja asal kamu barengi dengan kerja keras. Artinya kamu harus bekerja keras; mulai dari mengatur strategi branding diri, bikin konten, memperbanyak karya dan lain-lain.

Kalau kamu cuma mau enaknya saja, ya yang rugi kamu sendiri. Alih-alih dapat follower kamu malah punya banyak haters. Yang mestinya ditiru dari orang sukses itu bukan gaya hidupnya, melainkan kerja kerasnya.

3. Kebanyakan pencitraan membuat waktumu habis untuk memikirkan pendapat orang lain tentang dirimu sendiri

Bahagia kok karena orang lain via www.pexels.com

Wah hebatnya Arini sekarang sukses, traveling terus.

Mendapati ada orang lain yang memandang sesuai dengan citra yang dibentuk di media sosial mungkin bagus, namun bisa jadi juga itu buruk juga lho. Sebab secara nggak langsung kamu punya beban baru. Kamu sudah sukses dengan citramu yang suka jalan-jalan, kalau kamu nggak bikin konten serupa maka akan banyak yang bertanya.

Kok nggak pernah jalan-jalan lagi?

Inilah yang bakal membuat hidupmu nggak tenang. Kamu akan terus-terusan memikirkan “citra apalagi ya yang akan ku buat?”. Lama-lama kamu akan sibuk memikirkan orang lain dibanding kebahagiaan dirimu sendiri. Bahaya.

4. Kamu nggak akan pernah benar-benar merasa memiliki teman sejati yang bisa menerima dirimu apa adanya

Kesepian via www.pexels.com

Semakin ada perbedaan antara kehidupanmu di dunia maya dengan nyata akan berdampak pada kehidupan sosialmu. Karena kepalsuan-kepalsuan yang kamu tampilkan di media sosial, teman-teman yang mengenalmu akan malas melihat tingkahmu. Memang sih kamu banyak follower tapi kamu pada kenyataannya yang lebih sering berinteraksi denganmu adalah mereka yang ada di dunia nyata.

5. Akan ada masa di mana kamu capek dengan semua pencitraan yang kamu buat di medsos dan rindu jadi diri sendiri

Capek jadi orang lain via www.unsplash.com

Semakin kamu sibuk membangun citra kamu akan semakin kehilangan dirimu sendiri. Saat citramu terbentuk, mau nggak mau kamu harus menjaganya karena itulah yang follower suka. Sekali kamu berpaling, maka mereka akan mempertanyakannya. Saat kamu berpaling lagi, mereka akan kecewa padamu. Singkatnya kamu seperti didikte. Nggak enak kan?

Coba kalau saja kamu dari awal jujur. Kamu nggak akan terkekang melakukan hal yang sesuai dengan kepribadian aslimu karena mereka sudah tahu apa adanya dirimu.

6. Lagipula nggak baik pencitraan terus, sebab ada unsur pamer di dalamnya. Berbuat baik kan sebaiknya nggak perlu dipublikasikan

Pencitraan seringkali mendorong orang untuk selalu terlihat baik. Maka nggak heran kalau seringkali kamu jadi suka memamerkan hal yang seharusnya nggak perlu dipamerkan; contohnya kebaikan dan juga ibadah. Bukankah keduanya seharusnya nggak perlu dipublikasikan? Sebab itu bisa bikin pahalamu hilang.

Memang sih pencitraan kadang bikin derajat kita naik dihadapan orang. Tapi nggak perlu lah berlebihan. Ayolah, udah mau 2019 lho ini.. masa iya masih melakukan pencitraan hanya untuk dibilang baik. Alangkah lebih bijak kalau kamu perbaiki sikapmu sendiri. Jangan khawatir, kalau di dunia nyata kamu sudah baik maka dunia maya akan mengikuti sendiri.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya