Malam itu keputusanmu sudah bulat, mengadu nasib untuk mencari penghasilan di Jakarta. Koper dan ransel sudah terisi. Ibu menghantarkanmu sampai stasiun. Menemanimu hingga pintu keberangkatan. Sampai saatnya tiba, pengeras suara lantang menyuarakan kedatangan kereta. Kamu bersiap. Berpamitan dengan Ibu; bersalaman, berpelukan, menciumi pipi hingga kening. Suasana haru. Ibu menatapmu nanar dan berkata ‘Hati-hati di jalan, Nak’.

Begitulah kurang lebih suasana di malam sebelum keberangkatanmu ke ibu kota; penuh haru dan sendu. Meski sudah berlalu, namun momen kala itu sukar terlupa. Kamu tentu masih ingat hangat tubuhnya sebelum kamu masuk ke kereta. Pun juga raut wajahnya yang menyiratkan banyak arti. Ini dari sudut pandangmu, dari sudut pandang ibu tentu berbeda. Di balik doa dan pelukannya, beberapa hal ini yang mungkin dirasakan ibu.

1. Ada rasa nggak percaya bahwa gadis kecil yang pernah ada dalam gendongannya sekarang sudah besar dan sebentar lagi punya penghasilan sendiri

Gadis kecil ibu via www.unsplash.com

Advertisement

Percayalah, seberapa tua usiamu di mata ibu kamu tetaplah gadis kecil lucu yang ada dalam gendongannya. Kelak, kamu akan mengetahuinya saat kamu pulang ke rumah setelah lama di Ibu kota. Ada saat di mana ibumu memandangimu lama tanpa berkata apa-apa, hanya ada simpul senyum di bibirnya.

Bagaimanapun ibu tetaplah ibu, ia adalah makhluk yang menyayangimu meski kamu kerap membuat dia sebal. Meski di rumah kamu sering berselisih paham dengannya tapi saat hendak berpisah ia selalu menjadi yang paling sedih.

2. Jelas binar matanya yang berkaca adalah rasa sedih sekaligus haru, di satu sisi ibu nggak rela kehilanganmu, di sisi lain dia bangga kepadamu

Ya, di malam itu ada makna yang terpancar pada kedua bola matanya –rasa sedih dan haru. Sedih karena mesti berpisah lagi dengan buah hatinya, haru karena kenyataan bahwa anaknya sekarang sudah dewasa dan berani memilih jalannya sendiri. Meski sedih karena berpisah namun ibu bangga kepadamu karena keputusanmu memperjuangkan nasib sendiri mengadu nasib ke ibu kota.

3. Meski terlihat tegar, namun dalam lubuk hatinya ia tetap waswas dan nggak tega melepaskanmu sendirian ke Jakarta –kota yang dikenal ‘keras’

Waswas via www.unsplash.com

Advertisement

Meski begitu, nggak bisa dilupakan begitu saja bahwa ibu juga menaruh khawatir kepadamu. Khawatir kamu mendapat kesulitan dan nggak bisa berada di sisimu untuk membantu. Ia juga waswas terhadap pergaulanmu di sana yang dikenal kota yang ‘ganas’. Tapi apapun itu, dengan ibu mengizinkanmu sampai sekarang itu sudah pertanda bahwa ia percaya kamu bisa menjaga dan bertanggung jawab bagi dirimu sendiri.

4. Sebenarnya ibu nggak tega melihat kamu bersusah payah mencari penghasilan di kota orang. Tapi ibu mengerti keputusan ini demi kebaikanmu kini dan nanti

Nggak tega via www.unsplash.com

Meski telah mengizinkanmu merantau untuk yang kedua kalinya setelah dulu kamu kuliah, sejatinya ibu lebih menginginkan kamu mencari kerja di kampung saja. Sebab dengan begitu ia nggak perlu berpisah dan nggak terlalu mengkhawatirkanmu kenapa-kenapa.

Tapi mengingat kamu sudah memilih dengan berbagai pertimbangan masak, akhirnya ibu mengizinkanmu. Ibu paham semua didasarkan pada kebaikan anaknya juga.

5. Ibu selalu berharap usahamu berhasil menghantarkan pada kesuksesan. Maka dari itu ibu nggak henti mengingatkanmu untuk mengimbanginya dengan menjaga ibadah

Selalu berdoa via www.unsplash.com

Dengan diizinkannya kamu keluar kota sejatinya ibu sudah paham bahwa kesuksesanmu memang harus diperjuangkan sendiri. Maka dari itu ‘jangan lupa sembayang dan berdoa’ menjadi wejangan menjelang keberangkatanmu. Dan nggak cukup sampai itu saja, bukankah di setiap kai ibu menelponmu wejangan itu selalu terucap dari bibirnya. Yap! memang usaha harus dibarengi dengan doa juga.

Itulah hal yang ada di balik doa dan pelukan ibu saat melepaskan kepergianmu ke ibu kota. Nggak bisa dibantah lagi ibu adalah orang yang mencintaimu lebih dari siapapun. Sejak dalam kandungan hingga sekarang, nggak ada alasan baginya untuk membencimu. Nggak perlu heran jika ia kembali menghargai keputusanmu untuk kembali merantau meski ia tahu bakal merasakan kembali yang namanya LDR dengan anak. Maka dari itu jangan sia-siakan doa dan kasih sayangnya kepadamu selama ini dengan kesuksesan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya