Konon menilai kepribadian seseorang itu mudah. Kamu hanya harus melihat bagaimana dia bersikap ketika sudah memiliki segalanya. Juga bagaimana perilakunya waktu sedang di posisi tidak memiliki apa-apa.

Beberapa saat lalu Hipwee berkesempatan menemui sosok inspiratif yang memilih untuk tetap bersahaja meskipun sudah mendapatkan semua yang diharapkan oleh anak muda. Fajrin, CFO Bukalapak khusus mengungkapkan apa yang sudah dia lakukan untuk mencapai kesuksesan. Mulai dari cara belajar, perjuangannya berpindah pekerjaan, sampai di titik pencapaiannya sekarang.

Fajrin yang punya IPK 4,00 di ITB (ternyata) punya seabrek kegiatan dan tetap pacaran juga

Lulus dengan IPK 4 bulat dari Jurusan Teknik Informatika ITB pada tahun 2004 ternyata tidak membuat Fajrin jadi anak yang kuper. Alih-alih dikenal sebagai mahasiswa kupu-kupu yang cuma kuliah, pulang,kuliah, pulang Fajrin memilih aktif di berbagai kegiatan.

Motivasinya sederhana, “Saya cuma nggak pengen dipandang sebelah mata sebagai anak daerah. Biar nggak malu-maluin lah di ITB..”

Beragam kegiatan Fajrin ikuti. Bahkan saat Hipwee tanya apa sempat punya waktu untuk dekat dengan cewek, Fajrin berkelakar dengan renyah.

Advertisement

“Sempat-sempat. Ada beberapa. Tapi nggak satu waktu di saat yang bersamaan loh ya :))”

Teliti memetakan kelemahan dan kelebihan jadi senjata Fajrin untuk mengatur waktu

Sedari kecil Fajrin dididik dalam keluarga yang membuatnya mengerti arti prioritas. Hal ini terbawa hingga ia duduk di bangku kuliah. Menempatkan prioritas dengan baik berarti paham kekurangan dan kelebihannya.

Dalam percakapan kami Fajrin memberikan contoh, “Semisal. Saya sudah merasa bisa di kalkulus. Ya sudah. Saya cuma butuh waktu 1-2 jam saja untuk belajar. Beda kalau harus belajar Bahasa Inggris. Saya akan mendedikasikan waktu lebih untuk mempelajari semuanya.”

Dua puluh tahun lagi kamu nggak akan ingat belajar Matematika. Dua puluh tahun lagi yang kamu ingat adalah begadang sama teman-teman mempersiapkan acara

Satu yang membuat Fajrin memutuskan untuk tidak hanya rajin belajar tapi juga fokus di kegiatan adalah ucapan salah satu guru SD-nya saat dia merasa malas join ke OSIS. Gurunya hanya mengatakan jika dua puluh tahun lagi bukan proses belajar matematika di kelas yang akan Fajrin ingat. Melainkan bagaimana hectic-nya persiapan acara.

Fajrin pun mengamini hal ini. “Benar juga sih…sekarang yang saya ingat bagaimana dulu begadang sama teman-teman.”

Anak muda sekarang sekarang sering terlalu yakin soal passionnya. Padahal bagaimana kita bisa tahu kalau tidak mencoba?

Perjalanan karir Fajrin sebelum menjadi CFO Bukalapak cukup panjang dan memberi inspirasi. Sebelumnya Fajrin pernah bekerja di BCG, salah satu perusahaan konsultan terbesar di dunia selama hampir 2 tahun. Bekerja di UN sebagai web developer pun pernah Fajrin rasakan. Tahun 2011 Fajrin mencoba membangun usahanya sendiri. Dibawah bendera Suitmedia Fajrin dan tim menawarkan berbagai layanan mulai dari web design hingga web development. Dibawah Fajrin Suitmedia berkembang pesat.

Namun tawaran Achmad Zaky untuk bergabung di Bukalapak membuat Fajrin mantap untuk berputar haluan. Hingga saat ini sudah 4 tahun Fajrin menggawangi Bukalapak.

“Salah satu hal yang sering anak muda kita salah artikan adalah passion soal sesuatu. Setelah merasa punya passion di suatu hal, kita sering menutup diri untuk tidak mencoba hal baru. Padahal passion adalah apa yang kita temui dari belajar dan bertemu banyak orang. Jangan pernah merasa settle dengan satu passion saja. Masih banyak yang harus dicoba.”