“Udah, nggak usah sedih. Ngapain sih? Kalau dia aja nggak sedih putus sama kamu, ngapain kamu nangisin dia?”

“Jangan sedih lama-lama. Masih banyak lho orang yang lebih menderita. Gak malu sama mereka?”

Mungkin kamu baru patah hati karena ternyata nilai ujian mata kuliah yang ditunggu-tunggu tak sesuai ekspektasimu. Mungkin anak kucing yang sudah beberapa bulan ini kamu adopsi tiba-tiba sakit flu dan mati. Mungkin nenek harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh awal minggu ini. Mungkin ada kejadian tak bisa dideskripsikan yang kamu simpan dari semua orang, yang tak bisa digampangkan dan membuatmu tertekan.

Terantuk dan terampas, kamu melakukan satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan saat itu: berduka. Tapi kemudian, kamu diberitahu oleh hampir semua orang yang melihat kesedihanmu bahwa kamu harus berusaha kembali ceria.

Bahkan jika seseorang punya alasan kuat dan sah untuk bersedih, kita akan menasihatinya agar segera mengubur kesedihan itu. Facebook, Path, dan Instagram dihujani dengan gambar-gambar ceria dan kutipan positif. Kenapa kita sebegitu takutnya untuk berduka? Kenapa kita tidak memperlakukan semua emosi dengan sama?

Perasaan bahagia dicari sampai ujung dunia, sementara rasa sedih dianggap “sebaiknya tidak ada”.

. via favim.com

Advertisement

Jika ada yang sudah kita pelajari tentang hidup hingga saat ini, itu adalah hidup bisa melakukan apapun pada kita semau dia. Hidup bisa mengangkat kita, atau sebaliknya menginjak-injak diri kita. Dan saat hidup tidak sedang memperlakukan kita dengan baik, berduka adalah reaksi yang wajar karena kita manusia.

Kesedihan adalah normal. Mengapa kita selalu berpura-pura bahwa hidup selamanya ceria?

Hidup tidak selalu tentang kupu-kupu, atau pelangi, atau cake warna-warni. Hidup juga bisa menjadi tragedi. Bersedih berarti mengakui hal tak terelakkan ini.

Kenapa kita selalu meminta orang lain untuk tak bersedih lama-lama? Padahal, kita tidak punya alat untuk mengerti duka sekuat apa yang dirasakannya

Kita tidak tahu apa yang dirasakan orang lain via favim.com

Bersedih memang tidak nyaman. Tapi kita bukan orang hedonis yang hidup untuk diperbudak kenyamanan, bukan? Toh menangis selalu mampu membuat kita merasa lebih tenang. Waktu yang dihabiskan di kamar sendirian akan mengizinkan kita memikirkan kesulitan yang terjadi baru-baru ini dengan lebih jernih dan dalam. Kadang, duka juga tak lain hanya mekanisme hati untuk bertahan di antara gilanya dunia ini.

Kenapa kita selalu meminta orang lain untuk berhenti bersedih? Padahal, kita tak tahu sekuat apa dukanya, sedalam apa lukanya. Kita tidak tahu apa saja yang sudah dilaluinya bersama orang yang tiba-tiba meninggalkannya, kita tidak tahu harapan apa yang ia punya sebelum dunia berkata “Tidak!” seraya tertawa. Bagaimana bisa ia menghapus emosi sekuat ini tiba-tiba? Bukankah justru berbahaya untuk menganggap kesedihannya tidak pernah ada?

Alih-alih menasihatinya agar tak bersedih lagi, kenapa kita tak menawarkan telinga untuk mendengarkan ceritanya? Kenapa kita tidak memeluknya erat-erat sambil bilang, “Jangan cemas, ada aku.” saja? Bukankah itu bisa lebih berguna?

Kenapa juga kita melarang orang bersedih hanya karena orang lain lebih menderita? Sejak kapan kita punya lisensi untuk menentukan derajat penderitaan orang lain?

kita punya lisensi dari mana?

Pernahkah kamu melarang seseorang bahagia hanya karena ada orang lain yang lebih bahagia? Kalau tidak, kenapa kita melarang seseorang bersedih hanya karena ada orang lain yang (menurut kita) lebih pantas bersedih? Di dunia di mana orang boleh tersenyum karena hal sederhana, bukankah seharusnya orang juga punya hak untuk bersedih karena hal sederhana pula?

Lagipula, apa hak kita untuk menentukan derajat penderitaan orang lain? Kakek tua penjual asongan yang kita anggap pantas berduka, ternyata tantangan hidupnya jauh lebih ringan dibandingkan teman kuliah kita yang dari luar kelihatan baik-baik saja. Teman yang kita tahu punya kesulitan keuangan ternyata diam-diam hidupnya lebih mudah daripada orang yang baru saja kita marahi karena menangis di depan publik.

Duka adalah emosi yang aneh. Semakin ditekan agar tak muncul di permukaan, semakin mampu ia berubah bentuk kemudian muncul di waktu yang tak disangkakan. Lebih baik membiarkan seseorang berduka, agar tak subur rasa marah di balik kulitnya.

Jangan lupa bahwa sebagian orang hidup dengan trauma. Siapa kita menyuruh mereka berhenti berduka?

Sebagian orang hidup dengan sejarah yang tak senyaman kita. Mereka mungkin tumbuh besar dipukuli orangtuanya, harus kehilangan figur ayah di umur muda, sempat menjadi korban pelecehan seksual, dan hal-hal berat dalam hidup yang akhirnya menjadi trauma. Dan beberapa hal tidak bisa diperbaiki — mereka bersemayam dalam diri lalu dibawa sampai mati. Siapa kita menyuruh orang-orang ini untuk berhenti mengingat apa yang terjadi?

Kita tak seharusnya setakut itu pada kesedihan. Bukankah emosi yang bermacam-macam adalah tanda bahwa hidup kita kaya?

Sebenarnya, sebagai manusia, kita bisa merasakan berbagai emosi yang berbeda pada saat bersamaan. Kita bisa merasa sedih, sekaligus khawatir, sekaligus excited dan bahagia. Kita bisa berduka dan mensyukuri hidup di saat yang sama. Ini sama sekali tidak aneh. Ini justru bukti bahwa kita menjalani hidup yang kaya.

Tak seharusnya kita memaksa orang lain untuk berhenti bersedih, saat kita menyaksikan mereka menangis. Tak seharusnya kita memaksa mereka tertawa, saat mereka hanya ingin berduka. Kadang manusia butuh ruang untuk jujur pada perasaannya. Bahkan bila perasaan itu adalah duka.

Saat saya menangis nanti, saya tidak ingin mendengar “Harusnya kamu bersyukur, ada yang lebih menderita dari kamu” lagi. Saya ingin diberikan haknya untuk berduka, meski hanya sementara. Menjadi sedih, kadang, adalah kebutuhan. Dan saya ingin mendapat apa yang saya butuhkan.

Begitu juga jika saya melihatmu. Jika kamu butuh bersedih untuk sementara waktu, saya tak akan mencoba mengubah itu. Saya akan memastikan diri saya ada dan berusaha membantu. Sesederhana itu.