Buat kamu fans berat Iron Man, mungkin kenal dengan karakter Tony Stark dalam film superhero tersebut. Tony yang dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok pebisnis sukses, miliuner, dan insinyur berotak cemerlang, ternyata sedikit banyak terinspirasi oleh tokoh dalam dunia nyata, yakni pengusaha sukses di bidang teknologi – Elon Musk. Pria yang lahir di Pretoria – Afrika Selatan pada 28 Juni 1971 ini dikenal sebagai pengusaha yang gemar bikin dobrakan. CEO Tesla, Paypal, dan SpaceX ini bahkan punya ambisi untuk menghabiskan masa tuanya di Mars.

Meski lahir dan besar dari keluarga berada, namun bukan berarti Elon tak pernah mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Ia bahkan pernah menjadi korban bully saat masih sekolah dulu. Tapi, itu tak membuatnya menjadi pribadi yang kacangan. Sebaliknya, dia berhasil menjadi pengusaha yang sukses di bidang teknologi. Berikut kisah tentang Elon Musk yang menginspirasi.

Bukan cuma tokoh fiksi, Tony Stark dalam Iron Man ternyata terinspirasi tokoh nyata, yakni Elon Musk – si pengusaha teknologi yang berani buat dobrakan

Elon Musk is Tony Stark. via sudo-apt-geek.com

Karakter Tony Stark dalam Iron Man, terinspirasi dari sosok Elon Musk. Hal ini bukan pendapat tak berdasar, melainkan didasarkan dari kesamaan karakter antara Tony dan Elon. Yakni sama-sama miliuner dan pebisnis yang sukses di bidang teknologi. Salah satu yang hal yang bikin pencinta Iron Man bertambah yakin kalau Tony itu Elon adalah kemunculan Elon sebagai cameo dalam sekuel film superhero tersebut.

Agaknya julukan sebagai Tony sangat cocok disematkan pada Elon. Seperti halnya Tony yang sukses dengan bisnis senjata yang berteknologi tinggi, Elon pun punya sebuah perusahaan yang fokus dalam bidang teknologi, yakni SpaceX – perusahaan transportasi luar angkasa. Elon bahkan begitu berambisi untuk mengirim manusia ke Mars dalam kurun waktu 6 tahun ke depan.

Jangan kira semua superhero atau orang sukses itu tidak punya kisah kelam, Elon Musk bahkan pernah jadi korban bully saat masih duduk di bangku sekolah

Advertisement

Elon Musk ketika masih usia kanak-kanak (sebelah kiri). via upriser.com

Elon lahir dan besar dari kelurga yang berada dengan ayah yang seorang engineer dan ibunya seorang ahli diet yang merangkap model. Namun, bukan berarti hidupnya mulus saja tanpa masalah. Elon yang berkepribadian introvert itu nyatanya pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Ia pernah dirawat di rumah sakit akibat didorong hingga terjatuh dari atas tangga oleh sekelompok pengganggu. Tak hanya itu ia pun dipukuli sampai pingsan.

Beruntung kejadian tersebut tak membuat Elon menjadi pribadi yang pesimis. Ia tetaplah seorang introvert dengan segudang ambisi dan ide brilian. Buat kamu yang pernah di-bully, kamu bisa belajar dari Elon Musk. Tentang bagaimana ia mampu bangkit dari masa kelam dan terus berusaha mengupayakan mimpi-mimpi.

Sedari kecil Elon percaya bahwa ide-ide gilanya bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Nggak salah kalau dia punya ketertarikan yang berbeda dari anak-anak lain kebanyakan

Sejak kecil Elon yang introvert suka banget membaca buku. via www.businessinsider.co.id

Dari sejak usia dini, Elon hobi banget membaca banyak buku. Salah satu yang menjadi favoritnya Elon adalah buku-buku bergenre fantasi dan fiksi ilmiah. Nggak salah kalau saat ini perusahaan yang dimilikinya bergerak di bidang transportasi luar angkasa dan percaya bahwa ada kemungkinan bagi manusia untuk menetap di Mars. Ada hikmah yang bisa kita petik dari masa kanak-kanak seorang Elon, yakni bahwa apa yang seseorang baca dan pelajari dari sejak kecil akan sangat memengaruhi hidup orang tersebut di masa mendatang.

Saat usianya masih 12 tahun, ia sudah berhasil merampungkan proyek pertamanya. Yakni sebuah game sederhana, Elon kecil selalu selangkah lebih maju dari anak seusianya

Elon sudah merampungkan proyek pertamanya – berupa game, di usia 12 tahun. via insideevs.com

Hayo, coba deh ingat lagi, di usia 12 tahun karya apa yang sudah berhasil kamu ciptakan? Mungkin apa yang pernah Elon hasilkan saat usianya masih 12 tahun akan membuat sebagian kamu merasa sangat malu. Yup, di usia segitu Elon sudah berhasil merampungkan proyek pertamanya, yakni sebuah game sederhana bernama Blastar yang ia jual pada sebuah majalah komputer dengan harga $500. Di usia yang bagi kita waktu yang asyik untuk mengenal cinta monyet, Elon udah kepikiran untuk menghasilkan sesuatu yang bisa diuangkan. Elon di waktu kecil memang selangkah lebih maju dibandingkan anak-anak seusianya.

Elon bisa dibilang tipe pribadi yang mudah mengambil keputusan dalam waktu singkat namun dalam artian positif. Sempat berniat melanjutkan studi ke jenjang PhD di Standford, Elon malah putar arah dan membuka usaha startup

Elon tipe pribadi yang impulsif dalam artian positif. via thefamouspeople.com

Elon adalah lulusan University of Pennsylvania jurusan fisika dan ekonomi. Suatu ketika ia berniat melanjutkan studi PhD di Stanford University. Tapi kemudian dia putar arah dan enggan melanjutkan studinya. Ia malah merintis kariernya sebagai pengusaha dengan membangun sebuah startup di bidang travel guide bernama Zip2. Setelah itu ia merintis X.com yang kemudian bekerja sama dengan Confinity, melahirkan PayPal. Ia kemudian didapuk menjadi CEO PayPal.

Setelah Paypal, sebagai fans fiksi ilmiah, Elon kemudian membuat gebrakan dengan merintis perusahaan di bidang transportasi luar angkasa. Salah satu goals dari perusahaannya satu ini adalah untuk menciptakan perjalanan luar angkasa yang lebih murah. Tak hanya itu, ia pun berambisi untuk mengirim manusia ke Mars.

CEO Tesla, Paypal, dan SpaceX ini begitu berambisi untuk menua di Mars. Memang benar kalau kesuksesan kadang berawal dari ide gila

Elon dan ambisinya menua di Mars. via www.startitup.sk

“Jika Anda harus memilih tempat untuk mati kelak, maka Mars bukan pilihan yang buruk,” ucapnya saat menghadiri acara Code Conference, seperti dikutip situs Vice.”

via cnnindonesia.com

Elon sangat berambisi untuk menghabiskan masa tuanya di Mars. Dia yakin pada tahun 2025 bisa mengirim peradaban manusia ke Mars. sejauh ini rencana terdekat SpaceX adalah mengirim roket buatan mereka pada tahun 2018 mendatang. Wah, nampaknya rencana Elon ini nggak main-main ya, guys. Dia begitu menyeriusi ambisinya satu ini.

Elon Musk mengajarkan kita untuk terus percaya dengan mimpi-mimpi yang kita ingini. Bahwa ketika kamu punya ambisi akan sesuatu, berupaya keraslah sampai itu bisa terwujud jadi nyata. Pun gagal, setidaknya kamu sudah pernah mencoba.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya