Jangan Jadi Generasi: Lulus, Bekerja, Menikah, Lalu Sudah

Setiap orang pasti ingin hidup bahagia. Setelah lulus langsung bekerja. Mencari uang sebanyak-banyaknya agar cukup menghidupi hingga hari tua. Setelah merasa cukup stabil untuk urusan harta, pikiran selanjutnya adalah menikah. Melamar sosok idaman yang sedari dulu menjadi pujaan hati. Kemudian kalian memiliki buah hati. Membesarkannya hingga dia bisa mandiri. Lalu hidup tenang-tenang saat tua nanti. Ini adalah keinginan sederhana setiap orang.

Advertisement

Tapi coba deh dipikir lagi. Apa iya hidup cukup kamu isi dengan rutinitas yang itu-itu saja?

Melihat orang sekitar yang selalu melakukan pola yang sama, kamu pun jadi merasa itu adalah hal yang normal dan biasa

Lingkungan mengajarkan hal yang sama berulang kali

Lingkungan mengajarkan hal yang sama berulang kali via unsplash.com

Jika dipikir-pikir, lingkungan mendidik kita dengan pola yang sama. Lulus kuliah lalu didorong segera dapat pekerjaan. Setelah pekerjaan mapan, pertanyaan “Kapan nikah?” tak henti-hentinya dilontarkan. Kita memang selalu digiring ke arah sana. Karena standar kesuksesan hanya dilihat dari keberhasilan karir dan rumah tangga yang didapat bersamaan.

Padahal, kadang ada seseorang yang tak bisa mendapat keberhasilan itu secara bersamaan. Jika karir berhasil, belum tentu terjadi juga pada kehidupan percintaannya. Dan begitu sebaliknya.

Advertisement

Selama ini kita merasa kalau bekerja, menikah, punya anak itu segalanya. Padahal banyak hal lain di luar sana

Dengan menikah dianggap masalah selesai

Dengan menikah dianggap masalah selesai via unsplash.com

Bekerja, menikah, punya anak dan membesarkannya hingga dia bisa mandiri. Sederhana saja impian hidup kita. Dengan pola pikir seperti itu, kita merasa bahwa bahagia akan datang ketika kita bisa hidup lurus-lurus saja. Namun hidup yang lurus-lurus aja juga akan membuat matamu tertutupi bahwa dunia ini luas.

Masih banyak hal lain di luar sana yang bisa membuatmu bahagia. Kamu masih muda. Jalanmu masih panjang. Kamu berhak punya tujuan hidup yang lebih besar dari sekadar menikah lalu punya anak.

Bukankah dulu kamu punya cita-cita yang luar biasa? Jangan biarkan dia pergi begitu saja

Advertisement
Kemana cita-citamu yang dulu?

Kemana cita-citamu yang dulu? via unsplash.com

Padahal saat kamu masih kecil, pikiranmu begitu bebas melayang kemana-mana. Kamu pernah punya impian mengelilingi dunia. Agar bisa melihat hal-hal baru yang akan meluaskan wawasanmu. Rasanya bercita-cita saat masa kecil terasa sangat mudah.

Lalu kini kemana perginya cita-citamu yang luar biasa itu? Kamu boleh realistis, tapi jangan biarkan cita-cita besarmu pergi begitu saja.

Sebagai anak muda yang kreatif, kamu perlu lebih percaya diri. Beranilah untuk bermimpi tinggi

Kamu harus berani bermimpi tinggi

Kamu harus berani bermimpi tinggi via unsplash.com

Cobalah untuk lebih berani menghadapi masa depan. Kadang kita kurang percaya diri dalam menghadapi hal-hal yang akan datang. Karena inilah akhirnya kita ragu, lalu memilih untuk mengikuti jalan yang dianggap aman.

Padahal kalau kamu sedikit lebih percaya diri, mewujudkan mimpi agaknya bukan hal yang mustahil. Biarkan kesalahan yang kemungkinan kamu perbuat bisa menjadi bahan pelajaran.

Jangan sampai kamu menyesal dengan hidupmu, lakukan hal yang kamu mau agar tak ada sesal nantinya

Setidaknya pernah mencoba via www.lolwot.com

Keraguan dan ketakutanmu saat melangkahkan kaki akan merugikanmu. Jika kamu tak melakukan hal-hal yang kamu mau hanya karena takut resikonya, kamu jelas merupakan orang-orang yang merugi.

Hidup ini cuma sekali, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Kejarlah cita-citamu yang setinggi langit itu. Jangan biarkan ia menguap begitu saja di udara. Ambil setiap resiko yang ada dengan kepala tegak menghadap ke depan. Meski nanti pilihanmu salah, namun paling tidak kamu sudah mencoba sehingga kamu tak ada sesal yang tersisa.

Mumpung masih muda, nih. Kenapa tak mencoba segala kemungkinan yang ada? Jangan mau jadi generasi yang gitu-gitu aja. Sesekali boleh dong beda jalan?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

42 Comments

  1. Rotua Tumanggor berkata:

    Iya neh
    Mau buka usaha ada z kendalanya hiks hiks

  2. Kita bisa aja punya cita-cita setinggi langit. Tapi pada saat menjadi orang dewasa akan sering mendapat pertanyaan,”Kapan nikah? dari ortu & om-tante

  3. MsMarmar berkata:

    pikiran kita mirip,,, artikelmu ok banget

  4. Ñínnomiya Tha berkata:

    Hal2 yg aku suka terhalang karena pekerjaanku membutuhkan keformalan yg tinggi, tetapi tujuan awalku adalah pekerjaan ini dan pekerjaan ini sangat aku butuhkan. tetapi hal2 yg aku sukai tdk bisa aku lakukan di tmpat terpencil tmpat aku bekerja, jadi aku akn bebas ketika sdh menikah karna pindah k tmpat yg lebih ramai

  5. Sebenernya sah2 aja sih mau tujuan hidupnya kuliah terus kerja, terus nikah. Kalo itu memang maunya. Toh sesuai kata penulisnya, sukses menurut masing2 orang kan berbeda2. Tinggal kitanya aja yang gausah banyak ngejudge orang lain, kalo menurut kita si A udah hidup sukses, bisa jadi menurut dia masih belum/masih ada yang ingin dicapai. Begitupun sebaliknya ��

  6. Riki Watulingas berkata:

    yang gak punya wawasan luas sama mimpi besar juga udah pasrah sama keadaan pasti gak bakalan setuju sama artikel ini ??? whahhaha

  7. Radiani Kalvari berkata:

    Kesuksesan hidup itu bukan diukur dari pencapaian berupa materi atau hal lain yang dapat dilihat mata. Namun, sukses adalah seberapa besar hidup kita sudah menginspirasi orang lain sehingga orang-orang tersebut berubah hidupnya.
    Jangan pernah mengukur kesuksesan hidup dengan materi karena di atas langit masih ada langit. Apa yang kita peroleh saat ini belum seberapa jika dibandingkan mereka yang di luar sana.

CLOSE