Jangan Selalu Tanyakan Alamat Kosan, karena Itu adalah Benteng Privasi Terakhir #HipweeJurnal

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain nyatanya bukan hanya bangsa Rom saja. Para perantau pun  tak pelak harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi kehidupan dan rezeki yang diyakini akan lebih baik dari sebelumnya. Memiliki tempat tinggal sementara (baca: kosan/kontrakan) tentu menjadi pilihan terakhir kalau tidak punya sanak keluarga. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang lebih memilih untuk bertandang ke negeri orang meski tahu tak ada karib kerabat yang sekiranya bisa saya menumpang.

Advertisement

Namun, bukan soal suka duka hidup sebagai pemegang titel “perantau” yang ingin saya bahas. Karena sebagian besar cerita para perantau ini mirip alias hampir sama. Bertemu orang baru, belajar bahasa baru, memutar otak bagaimana uang saku atau gaji cukup untuk satu bulan (bisa menabung malah lebih baik), dan sebagainya. Sedikit klise memang.

Sama seperti penulis lainnya, saya ingin mengumbar sedikit cerita tentang apa yang sering ditanyakan oleh rekan kantor dan sesering itu juga saya menolak memberi tahu: “Kosan lo di mana?”

Sepetak ruang bernama privasi via www.golfoo.info

Bukan bermaksud sok misterius, tapi persoalan alamat kosan ini memang sudah sejak lama saya simpan rapat-rapat. Yang tahu cuma keluarga, teman dekat, teman yang kebetulan main lalu tak tahu harus menginap di mana, online shop, dan abang-abang jasa pengiriman. Memilih untuk tidak memberi tahu di mana saya bermalam setiap harinya sudah jadi kebiasaan sejak zaman perkuliahan. Teman-teman saya mungkin paham betul bagaimana percumanya mereka bertanya di mana persisnya kosan saya, bahkan ketika mereka berhasil menemukan kosan saya dan sudah sampai di gerbang, saya tetap menolak memberi tahu mana kamar saya. Terdengar jahat memang, tapi cuma sepetak ruang itu yang cuma bisa nikmati tanpa perlu memikirkan kanan-kiri.

Advertisement

Baru sejak merantaulah saya punya kamar sendiri. Yang seperti apapun keadaannya akan membuat saya nyaman-nyaman saja. Seberantakan apapun, serapi apapun, ya tentu saya yang akan menikmatinya. Saya adalah tipikal orang yang berantakan. Karena ketika rapi, justru saya tidak tahu di mana sebagian barang-barang berada 😀

Sepetak ruang bernama privasi via wylielauderhouse.com

Tapi bukan itu persoalan sebenarnya, melainkan perasaan yang akan lebih nyaman ketika orang lain tidak tahu dengan kamar ukuran 3×3 ini. Saya nggak perlu cemas-cemas harap jikalau ada yang tiba-tiba datang ke kosan. Nggak perlu membagi satu-satunya ruang privasi walaupun hanya sebentar. “Idih, siapa juga yang bakal datengin ke kosan lo” tak jarang saya dengar. Bagus memang. Tapi namanya juga hati, bisa kadang berubah. Lalu tiba-tiba berinisiatif datang ke kosan, saya bisa apa?

Mungkin bukan saya saja yang merasakan hal ini, kamu yang sedang membaca tulisan kepepet ini juga ikut merasakan. Cukup sulit menjelaskan bagaimana, orang seperti kita (yang dianggap berkepribadian terbuka), yang terlihat sangat menikmati hidup, cengangas-cengenges, rusuh, ngakak sana sini, ceng-cengin orang lain, juga butuh tempat untuk sendiri (Aselole Joss!)

Sepetak ruang bernama privasi via xboxhut.com

Karena langit nggak selalu biru, tapi selalu di atas. Eh maksudnya kadang ada mendungnya juga, maka ruangan 3×3 yang kita sebut privasi itulah tempat untuk berdiam diri. Menyesali setiap perkataan dan perilaku yang kelewat batas, memaafkan orang-orang yang hanya karena kita dianggap terbuka lalu bisa bersikap seenaknya, merelakan apa yang sudah ditargetkan hari itu namun tak kunjung terpenuhi, mengatur kembali perasaan untuk menghadapi hari berikutnya. Karena nggak ada yang betul-betul mengerti kita selain kita sendiri, meskipun dia adalah orang yang sepetiduran sama kamu HAHAHAHAHA

|Intinya mah cuma sepetak itu doang yang bisa kita jaga, bahkan kamar di rumah pun belum tentu bisa merasa senyaman ini

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

21 Comments

  1. Shin Fitrian berkata:

    Yg ini nih.. gw banget.. :
    “Seberantakan apapun, serapi apapun, ya tentu saya yang akan menikmatinya. Saya adalah tipikal orang yang berantakan. Karena ketika rapi, justru saya tidak tahu di mana sebagian barang-barang berada”

  2. Lisa Elisabeth berkata:

    Bosen main game online yang gitu-gitu aja sist or gan , tapi kalau hadiahnya uang jutan rupiah kenapa tidak ??
    kunjungi www(dot)dewa168(dot)com

  3. Ngena BGT…
    Tapi tidak hanya orang ‘terbuka’., orang ‘tertutup’ pun begitu… 🙂
    Nicee

  4. Mei Hidaningrum berkata:

    anyway saya setuju kok tentang privasinya, untuk orang ambivert macam saya sih sendiri itu recharge energi banget buat nantinya sosialisasi dengan banyak orang. begitu siklusnya. tapi untuk sharing alamat kos, masih saya share lah nama daerahnya, gak ada salahnya kalau buat saya, gak jauh beda share domisili asal mana hehe.
    tapi kalo untuk pilihan hidup sih kembali ke pribadi masing2, semua orang punya pertimbangan masing-masing, selama positif wajib kita hargai, agar nantinya kembali baik ke diri kita sendiri, well dan juga harus open minded terhadap apapun, kita tidak tau baik dan benar yang mutlak di dunia ini 🙂

  5. karakter masing2, bagi anak rantau teman tu penting, ketika butuh sesuatu yang gak bisa kita lakukan yg akan membantu tu adalah teman, apalagi klo pas sakit, itu penting banget, sekedar menjenguk dan berbagi ruang 3×3 aja itu sudah menjadi salah satu obat,, ? cmiiw

CLOSE