Et dah, mati lampu lagi. Bete gue!

Ya ampun, lagi klimaksnya nonton drama, mati ni listrik!

Elah, kenapa kudu mati listrik sih?!

Bayar mahal dan sering mati listrik adalah keluhan yang udah seperti napas bagi warga Indonesia. Kamu pun sering merasakan ketidaknyamanan ini, misalnya saat tengah asyik belajar atau menyelesaikan pekerjaan, tiba-tiba saja listrik padam. Menyebalkan memang. Jika hanya sekali dalam sebulan mungkin wajar, tapi jika intensitas pemadaman listriknya berkali-kali, kamu pun jadi mulai mengira-ngira. Gila, mati listrik mulu, di negara lain begini nggak ya?

Nah pada kesempatan kali ini Hipwee ingin mengajak kalian semua menilik terobosan terbaru teknologi pembangkit listrik yang digalang oleh Jerman. Mata dunia tertuju ke Jerman ketika suatu hari di awal Mei 2016, pagi itu warga Jerman justru dipaksa dan dibayar untuk menggunakan listrik karena kelebihan pasokan. Tapi yang lebih mencengangkan adalah, berlimpahnya pasokan listrik di pagi yang cerah dan berangin itu hampir seluruhnya dihasilkan oleh energi surya dan angin.

Seperti halnya di Indonesia, sebagian besar negara di dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, maupun minyak untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Meski telah jadi komitmen internasional untuk memangkas pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon atau polutan terbesar di dunia, realitasnya untuk mewujudkan hal itu sangatlah sulit. Jerman adalah salah satu negara terdepan dalam transisi untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan dapat diperbaharui, terutama dalam memproduksi listriknya.

Energieweden, program ambisius pemerintah Jerman untuk meningkatkan produksi listrik dengan energi terbarukan sembari memangkas polusi karbon sebesar 40% di tahun 2020

Suhu hangat di bangunan sekolah ini berasal dari panas gedung itu sendiri dan panas bumi. via www.dw.com

Advertisement

Energi terbarukan adalah sumber energi yang cepat dipulihkan kembali dan prosesnya berkelanjutan. Energi terbarukan dihasilkan dari sumberdaya energi yang secara alami tidak akan habis bahkan berkelanjutan jika dikelola dengan baik.

via alamendah.org

Soal pemanfaatan teknologi dan energi, Jerman selalu terdepan. Jerman memanfaatkan elemen kehidupan dengan maksimal. Angin, air, matahari, hingga kayu, dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Negara beribukotakan Berlin ini, sekarang setidaknya memiliki 23 ribu turbin angin dan 1,4 juta sel surya, sebagai upaya perwujudan program transisi energi yang bertajuk Energiewende. 

Energiewende yang diluncurkan pada tahun 2010 berupaya meningkatkan produksi listrik berbasis energi terbarukan dengan harapan dapat mengurangi tingkat emisi karbon sebesar 40% di tahun 2020. Per tahunnya, energi terbarukan dari tenaga angin, panas bumi, maupun tenaga surya mampu menyokong sepertiga dari total kebutuhan listrik di Jerman. Jerman juga telah berhasil memotong level polusi karbonnya sebesar 27% dibandingkan tahun 1990-an.

Bahkan energi dari laptop yang kepanasan pun di daur ulang untuk memanaskan ruangan

Panas dari penggunaan komputer ini lantas disalurkan untuk untuk memanaskan ruang. via www.dw.com

Di negara yang tenar dengan sosis dan birnya ini, kayu bahkan dimanfaatkan sebagai bahan mentah energi terbarukan. Yang tak hanya menghasilkan listrik, tapi juga menghasilkan panas untuk pemanas ruangan dan air. Di negara ini juga dikenal istilah passivehaus atau rumah pasif yang berarti rumah tanpa pemanas ruangan. Di mana suhu panasnya diperoleh dari panasnya dihasilkan gedung dan panas bumi.

Bahkan panas yang ditumbulkan dari komputer yang tengah digunakan, dimanfaatkan untuk bisnis pemanas ruangan. Adalah perusahaan di Jerman bernama Cloud&Heat yang menampung panas hasil penggunaan komputer untuk kemudian disalurkan ke sistem pemanas. Nah, panas tersebut lalu digunakan untuk memanaskan ruangan. ‘Warbiyasa!’

Taman energi alternatif di kota Morbach, membuatmu berdecak kagum karena seluruh energi alternatif dihasilkan di sini!

Taman energi angin di dekat perbatasan Jerman-Denmark. via www.dw.com

Kota kecil di Jerman ini dulunya bekas kawasan pangkalan angkatan udara Amerika Serikat, kemudian dibangun taman energi alternatif. Di mana di kawasan tersebut terdapat gabungan seluruh pembangkit energi terbarukan. Di taman energi alternatif tersebut setidaknya terdapat 14 pembangkit listrik tenaga angin, kompleks panel surya seluas 4000 meter2, dan sebuah komplek instalasi biogas. Adapun listrik yang dihasilkan dari gabungan 3 jenis pembangkit energi terbarukan tersebut mencapai 50 juta kilo watt per tahunnya, melebihi kebutuhan listrik warga kota Morbach.

Terkadang sampai saking berlimpahnya pasokan listrik dari energi terbarukan, harga listrik sampai negatif yang artinya warga malah dibayar ketika memakai listrik

Pasokan energi mereka melimpah. via qz.com

Sebagian kamu mungkin masih nggak percaya kalau warga Jerman sampai sebegitu kelimpahannya. Hal ini bukan tanpa alasan karena pada hari Minggu Pagi, penggunaan listrik terhitung rendah, sementara listrik yang tersedia melimpah. Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa tak dimatikan saja pembangkitnya? Jawabannya adalah karena biaya yang dikeluarkan akan lebih murah jika pembangkit terus beroperasi menghasilkan listrik, ketimbang pembangkit listrik berhenti beroperasi untuk kemudian restart. Jadilah, warganya dipaksa untuk memakai listrik, meski hanya sekadar menyalakan lampu atau me-recharge ponsel.

Walaupun pembangkit listrik tenaga matahari terbilang mahal dan baru menguntungkan setelah 10 tahun, tapi sebagai negara yang kaya sinar mentari, Indonesia patut menggalakannya!

Perumahan khusus yang menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi. via www.dw.com

Meski hanya mendapat sinar matahari beberapa jam saja per harinya, Jerman mampu memanfaatkannya sebagai sumber energi listrik secara maksimal. Pembangkit listrik tenaga matahari memang terbilang mahal ongkos pembuatannya, meski cahaya mataharinya sendiri gratis. Sebagai gambarannya, untuk menghasilkan energi listrik sebesar 1 kilo watt, dibutuhkan modul sel surya seluas 10 m2 yang biayanya 4000 Euronya. Sementara itu keuntungannya baru bisa dipetik setelah 10 tahun. Kendati begitu, tetap saja pembangkit listrik tenaga matahari ini layak untuk diterapkan di Indonesia. Selain ke depannya dapat menguntungkan, juga ramah lingkungan.

Pembangkit listrik tenaga angin adalah kemajuan yang patut diapresiasi. Meski jauh dari kesempurnaan, namun tetap masih mungkin untuk diterapkan…

Pembangkit listrik tenaga angin tetap layak untuk diterapkan. via www.special-eu.org

Pembangkit listrik tenaga angin terbilang lebih murah dan efisien jika dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya. Sebagai gambarannya, pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan listrik 6 kali lebih besar dari yang dihasilkan dari sel surya. Adapun harga sebuah pembangkit listrik tenaga angin berada dikisaran 2 juta Euro.

Namun, meski memiliki banyak kelebihan, nyatanya pembangkit listrik tenaga angin masih memiliki kekurangan. Yakni mengganggu pemandangan, serta sempat dilaporkan oleh organisasi pelindung lingkungan bahwa bilah rotor instalasi tersebut setiap tahunnya membunuh kurang lebih 100o ekor burung. Walaupun masih belum sempurna sebagai penghasil energi, tapi pembangkit listrik tenaga angin tetap layak untuk diterapkan di negara lain. Selama pada pelaksanaannya diawasi dengan sangat baik saja.

Semoga kita bisa belajar dari Jerman dalam hal pemanfaatan elemen kehidupan sebagai sumber energi terbarukan. Agar pasokan listrik di negeri kita mencukupi kebutuhan. Seperti Jerman yang meski hanya mendapat sinar matahari beberapa jam saja tiap harinya, tetap mampu memanfaatkannya secara maksimal sebagai sumber energi terbarukan. Nah, Indonesia yang kaya sinar matahari harusnya bisa selangkah lebih maju ya…

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!