Artikel ini terinspirasi oleh @ndanazihah, pemenang hari ke-24 30HariTerimaKasih challenge dari Hipwee. Hayo, sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Saat aku kecil dulu, tak pernah terpikir sekalipun untuk menjadi seorang guru. Seperti kebanyakan anak di sekolah, aku menulis kata ‘dokter’ di kolom cita-cita saat mengisi biodata di binder teman-teman SD-ku. Mungkin karena profesi dokter terdengar cerdas, keren, dan mentereng. Namun pada akhirnya, takdirlah yang akhirnya membawaku mengabdi menjadi guru. Profesi yang mungkin tak banyak dilirik anak-anak muda seusiaku, namun mampu mengubah hidupku.

Banyak orang tidak mengerti. Pekerjaanku bukanlah hanya menyuruh anak-anak yang masih begitu polos dan belia itu maju ke depan kelas, atau membuka halaman tertentu dari sebuah buku. Bukan hanya memberi PR dan memukul tangan mereka dengan penggaris ketika mereka ribut di kelas (lagipula aku tak pernah memukul, asal orang-orang tahu!). Tanggung jawabku adalah menjadi orangtua kedua bagi mereka, membuat mereka percaya, mereka bisa melakukan apapun dan menjadi apapun di masa depan asal mereka berusaha.

Advertisement

Bersama mereka, aku berjuang. Memahat esok yang lebih terang. Memastikan ilmu tersampaikan dengan setitik keceriaan. Sebelumnya memang tak pernah terbayangkan. Namun sekarang, menjadi guru adalah salah satu hal dalam hidup yang selalu membuat syukurku terapal.

Kesenangan menjadi guru itu sering hadir lewat cara yang sederhana. Seperti melihat murid yang tadinya hampir putus asa, perlahan mengerti pelajarannya

“Berapa 3 x 4, Bud?”

“… … 9 … eh, 12!”

Menjadi guru berarti tidak boleh marah ketika muridnya kesusahan mengerti suatu pelajaran. Berarti tidak boleh putus asa saat muridnya menjawab pertanyaan ulangan dengan corat-coret iseng atau jawaban yang menggelikan, hanya karena mereka tidak menangkap apa yang gurunya ajarkan. Menjadi guru artinya harus bersabar, menerima bahwa tak semua murid dikaruniai kecepatan menangkap pelajaran yang setara.

Advertisement

Setelah mengusahakan bersabar, rasanya begitu senang ketika anak muridku akhirnya mengerti materi pelajaran. Bahwa ibukota Malaysia itu Kuala Lumpur, Thailand itu Bangkok. Bahwa menulis ‘di’ sebagai awalan dan ‘di’ sebagai penunjuk tempat itu perlu dibedakan. Rasanya aku sudah berhasil membuktikan pada muridku sesuatu yang besar:

“Tuh ‘kan, apa Ibu bilang? Kamu itu pintar!”

Dadaku sesak dengan rasa senang. Melihat muridku tersenyum dan bangga pada kemampuannya sendiri, kemampuan yang tanpa sadar sudah lama ia miliki.

Jadi guru tak hanya soal menghadapi murid saja. Tapi juga perkara tahan mental ditegur kepala sekolah, sampai didatangi orangtua

Jadi guru itu rasanya kayak permen. Walau tak melulu manis, toh permen itu tetap lahap kita habiskan.

Ada banyak cerita yang selama ini aku dulang dengan menjadi guru. Tak hanya tentang menghadapi murid yang tak mudah mengerti pelajaran atau gemar mengobrol di kelas. Tak hanya tentang melerai murid yang bertengkar dan mulai pukul-pukulan. Bukan juga hanya soal menilai jawaban-jawaban murid dengan pulpen merah dan meng-input nilai-nilainya di dalam sistem sekolah.

Kadang, menjadi guru berarti mengakui bahwa aku juga manusia. Ada kalanya aku tak kuat menahan emosi sehingga menghardik muridmu dengan nada tinggi. Ditegur kepala sekolah, sudah pasti. Didatangi orangtua pun bukanlah pengalaman yang mustahil lagi.

Tentu aku menyesal. Tahu bahwa tak seharusnya tindakan itu kulakukan.

Namun ini semua aku jadikan sebagai pembelajaran. Sebagai orang yang bertugas membuat murid-muridnya bersemangat menyambut masa depan, tak boleh ada kata “Aku menyerah!” dari pendidik teladan. Memang jadi guru tak selamanya menyenangkan — pasti ada pil pahit yang harus kutelan. Namun aku sadar, pengalaman tak mengenakkan itulah yang menjadikanku guru lebih baik di masa depan. Yang lebih bersabar dan dewasa dalam mengajar.

Tidak hanya aku yang pernah disemprot orangtua atau guru senior, kok. Hampir semua guru muda pernah mengalaminya. Dan itu tidak apa-apa 🙂

Aku tahu perjuanganku tak sia-sia saat mendengar muridku berkata, “Aku boleh jadi murid Bu Guru selamanya, ya?”

“Bu, sebentar lagi kenaikan kelas, ya?”

Suara kecil salah satu muridku menyapa. Aku memalingkan kepala dari tumpukan-tumpukan kertas ulangan di depanku, menatap wajahnya yang belia dan penuh tanya. Kuanggukkan kepala.

“Aku ‘kan sekarang kelas IV, Bu. Kalau di kelas V nanti masih diajar Ibu ‘kan ya?”

Aduh, aku harus bilang apa? Kelas V adalah jatah guru-guru yang lebih senior. Aku hanya ditugaskan di kelas III dan IV saja.

Aku mau diajar Ibu sampai SMP, sampai SMA. Bisa ‘kan ya?”

Ah, harusnya ditanya seperti ini aku senang. Aku tahu perjuanganku tak sia-sia, karena murid-muridku mengapresiasinya. Namun tentu saja pertanyaan muridku ini tak bisa kujawab dengan kata sesimpel ‘ya’.

Kenaikan kelas adalah saat untukku melepas mereka, murid-murid yang kusayangi dengan setulus-tulusnya. Guru yang baik selalu tahu batas. Di kelas selanjutnya, saatnya mereka ditangani guru-guru lain yang lebih pantas.

Akhirnya aku hanya meyakinkannya: kami akan tetap sering bertemu walau itu harus di luar kelas. Ia tak terdengar puas, kemudian pamit pulang. Meninggalkan hatiku yang jatuh di lantai dan berserakan. Aku menghela napas, bersabar.

Ya, menjadi pengajar adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Belajar menjadi lebih dewasa, lebih memahami. Lebih bersimpati dan mengingatkan diri bahwa anak kecil juga punya emosi dan layaknya orang dewasa, bisa sakit hati.

Pahit-manis apapun yang kualami, menjadi guru, bagiku, adalah panggilan hati. Tak akan kutukar pengalaman ini dengan apapun — aku ingin bisa tetap mendidik anak-anak hingga rambut beruban dan batukku menahun. Semoga aku tetap setia dengan profesi ini, hingga napasku berhenti dan mata tak mampu kubuka lagi.

Ya, semoga saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya