“Kok bisa sih kamu selalu happy? Instagrammu isinya ketawa-tawa mulu, kayak nggak ada beban hidup gitu~”

Bukan sekali dua kali, tapi komentar seperti ini sudah sering menghampiri diri ini. Setiap kali habis unggah foto yang lagi tertawa, mereka selalu gatal untuk berkomentar. Setiap kali membuat Instastory, banyak sekali yang membalas seolah diri ini nggak ada beban sama sekali. Sebenarnya saya udah mencoba acuh dan mendiamkan. Mungkin mereka hanya sekadar ingin tahu tanpa berpikir lebih dulu. Namun lama-lama gerah juga! Masa’ sih ada manusia yang selalu bahagia hanya karena tampilan luarnya aja? Masa’ sih ada orang yang tak punya beban di hidupnya?

Advertisement

Untuk kamu yang pernah gatal bahkan iri dengan kehidupan orang hanya karena unggahan di media sosial, mari saya jelaskan! Inilah alasan saya (dan mungkin mereka) yang sering hanya membagikan hal menyenangkan.

1. Media sosial adalah tempat mencari teman dan berbagi. Namun bagi saya, tak semua hal bisa dibagi di sini

Ada yang perlu dibatasi~ via www.pexels.com

Sejak kehadirannya, media sosial memang tak pernah dilengkapi dengan buku panduan. Saya, kita, dan semua orang yang menggunakan media sosial hanya punya modal asal coba. Dari zaman mIRC sampai Instagram, semua itu memang digunakan sebagai media untuk mencari teman dan berbagi apa saja. Namun sebagai makhluk yang katanya punya hati dan logika, harusnya sih ada filter sebelum membagikan apapun itu di luar sana. Harus punya aturan main yang saya yakin setiap orang perlu punya. Dan aturan saya adalah tak semua hal bisa dibagikan ke media sosial.

Toh buat apa dibagi kalau hanya nyampah dan nggak ada manfaatnya? Makanya cuma konten jalan-jalan dan hal-hal menyenangkan saja yang saya bagikan ke sana.

2. Jalan-jalan atau jajan gratis tak selalu menciptakan bahagia. Percayalah bahwa ada pekerjaan yang memusingkan di baliknya

Invoice belum keluar, padahal mau beli properti buat foto di Instagram! via www.pexels.com

Advertisement

Membagikan foto jalan-jalan atau video nyobain makanan gratisan juga bukan bermaksud untuk pamer semata. Dari lubuk yang paling dalam saya hanya ingin berbagi sesuatu yang ada manfaatnya. Siapa tahu ada dari kalian yang bingung menentukan tempat liburan atau tak punya rekomendasi tempat makan. Please jangan mudah iri sampai membandingkan kehidupan saya ini. Percayalah di balik jalan-jalan dan jajan gratis ini ada setumpuk tanggungjawab yang harus diselesaikan.

Meeting dengan klien, deal-deal-an fee, revisi, sampai memaksa diri agar tetap tersenyum itu tidak mudah. Saya hanya tidak mau menyerah dan stop berbagi hal baik di sana 🙂

3. Dunia nyata dan maya jelas ada batasnya. Saya paham betul bahwa membawa urusan pribadi ke media sosial justru malah bahaya

Inilah dunia nyata saya via www.pexels.com

Saya bukan ahli, tapi sejauh yang saya tahu, dunia nyata dan maya itu ada batasnya. Nggak semua hal bisa dibagikan di sana. Masalah pribadi rasanya cukup kamu dan Si Empunya Hidup yang tahu. Masalah keluarga juga harusnya kamu dan keluarga saja yang selesaikan berdua. Justru bisa menjadi boomerang kalau sampai masalah pribadi diumbar dan didramakan.

Bukan terkesan menggurui, tapi bukankah media sosial semakin sesak dan nggak nyaman akibat terlalu banyak orang yang berkeluh kesah di sini? Makanya saya nggak mau menambahi.

4. Dari banyak orang yang hobi menumpahkan masalah hidupnya di sana, saya jelas nggak mau jadi salah satunya~

Sorry, saya nggak mau ikutan nyampah juga 😀 via www.pexels.com

Pagi-pagi curhat soal sarapan. Siangan dikit nyemprot orang yang nggak mau antri saat beli makan siang. Malamnya, koar-koar tentang mirisnya status kesendirian. Padahal saya yakin ada (atau bahkan banyak) yang tidak nyaman dengan hal seperti itu. Makanya dari sekian banyak orang yang menumpahkan masalah hidupnya di media sosial, saya ogah jadi salah satunya. Toh saya nyamannya membagikan sesuatu yang fun-fun aja. Meski nggak jarang hati ini juga hamper lepas kendali curhat colongan di sana~

5. Bagi saya, kalau bisa mengunggah sesuatu yang menyenangkan, kenapa harus berbagi tentang sakit dan penderitaan? Bukankah itu terlalu berlebihan?

Lihat yang kayak gini kan adem ya? Daripada lihat status gujingan orang~ via www.pexels.com

Melihat gambar orang yang tersenyum sambal bercengkerama dengan teman-teman akan jauh lebih melegakan daripada melihat status pertikaian. Apalagi gimmick rumah tangga yang seharusnya hanya dikonsumsi berdua. Bagi saya, kalau bisa mengunggah sesuatu yang menyenangkan dilihat dan bermanfaat untuk orang lain, kenapa tidak? Bukan berarti saya bebas beban dan cela. Namanya manusia, pasti punya masalah sendiri. Namun ini pilihan saya. Saya hanya ingi membagikan sesuatu yang positif untuk teman-teman di luar sana.

6. Hidup hanya sekali, kita harusnya bisa bersenang-senang dengan teknologi bernama media sosial ini

Yuk ah nggak usah pakai otot di media sosial~ via www.pexels.com

Mungkin para pendiri media sosial yang kamu gunakan untuk berkeluh kesah (tiada  henti) itu akan mengelus dada. Soalnya bukannya untuk menjaring pertemanan, banyak orang malah menggunakannya untuk turut menyebarkan hal yang nggak benar sampai curhat yang nggak penting bagi orang-orang.

Menurut saya, justru ini saatnya membenahi cara pakai media sosial biar berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau bisa berbagi tentang hal-hal yang menyenangkan, kenapa harus mengumbar masalah atau kebencian? Toh jejak digital ini eternal dan susah sekali dihilangkan.

Hidup hanya sekali, kenapa sih teknologi secanggih ini malah digunakan untuk ajang menumbuhkan rasa iri? Yuk hentikan judge orang hanya dari apa yang terlihat di media sosial. Kita gunakan saja teknologi ini untuk senang-senang dan menambah teman. Setuju guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya