Tanpa sadar kita seringkali mengeluhkan segala hal tentang kehidupan. Soal pekerjaan, hubungan cinta, hingga persoalan dalam keluarga misalnya. Namun, salah satu yang paling sering jadi masalah utama biasanya adalah perkara keuangan.

Bagi kamu yang tengah menekuni pekerjaan pertama atau merintis bisnis misalnya, gaji atau pendapatan yang dianggap “belum seberapa” mungkin jadi masalah tersendiri. Ada rasa takut atau cemas ketika membayangkan bahwa uang yang didapat tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan hidup, apalagi urusan menabung hingga memulai berinvestasi.

Advertisement

Wajar jika semua orang berharap punya gaji atau penghasilan yang berlebih supaya bisa dengan leluasa mencukupi segala kebutuhannya. Tapi, haruskan masalah uang mempengaruhi setiap sisi kehidupan kita? Apakah pantas jika uang dianggap bisa menentukan segalanya, ataukah uang memang dijadikan satu-satunya penentu bahagia?

Kamu tak harus menghamburkan uang demi bisa bersenang-senang. Lebih baik menolak ajakan teman untuk nongkrong di cafe mahal, daripada terpaksa puasa saat menjelang akhir bulan.

Pikir-pikir lagi buat ngeluarin duit via thisisground.com

Temen            : “Nongkrong yuk, Bro!”

Kamu              : “Kemana?”

Temen            : “Itu lho, di kafe yang jualan donat enak banget.”

Kamu              : “Gue nggak ikutan deh, Bro.” (Sambil meringis dan elus-elus dompet di saku belakang)

Ya namanya juga anak muda, wajar jika masih suka menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng teman-teman. Entah itu sekadar di warung kopi yang murah meriah, maupun di coffee shop yang harga secangkir kopinya setara harga setangki bensin motor. Itu pun baru minumannya, belum lagi di tambah camilan-camilan ringan sebagai teman minum kopi.

Advertisement

Mereka-mereka yang isi dompetnya tebal mungkin akan santai dan tak terlalu memikirkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Namun bagi kamu yang hanya punya uang saku atau gaji pas-pasan, bisa jadi nggak bakal tega buat mengeluarkan selembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai hanya buat sekali nongkrong.

Jangankan untuk nongkrong di cafe, otakmu setiap saat harus terus diputar demi bisa mengalokasikan sedikit uang yang kamu punya untuk memenuhi semua kebutuhan. Memilih mencuci sendiri daripada harus ke laundry, masak nasi di kosan daripada makan di luar, hingga memanfaatkan hiburan gratis seperti pergi jalan-jalan ke taman kota atau meminjam buku di perpustakaan umum.

Ada kalanya kamu sibuk bertanya-tanya pada yang Maha Kuasa. Ketika banyak orang yang bisa hidup berlebihan di luar sana, kenapa keuanganmu masih saja pas-pasan dan hidupmu serba sederhana?

Manusia pada dasarnya suka membanding-bandingkan. Melihat kondisi diri sendiri yang pas-pasan, kamu mungkin akan sibuk membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain. Ketika ada teman yang bisa kerja diperusahaan mentereng dengan penghasilan yang jauh lebih besar dari gajimu, terbersit rasa iri dalam hati. Ketika ada teman yang selalu bisa melewatkan akhir pekan dengan belanja barang-barang kesukaan, kamu heran bukan kepalang.

Atas alasan itulah, sering kamu melewatkan waktumu dalam diam sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan dari dalam hati kepada Tuhan. Apakah memang jalan hidupmu masih dan akan terus pas-pasan, atau ini hanyalah sebuah ujian yang sifatnya sementara yang Tuhan berikan kepadamu?

Yang pasti, membandingkan-bandingkan hidupmu dan hidup orang lain hanya akan menambah beban di dalam pikiranmu. Yakinlah bahwa rejeki yang besar bisa datang asalkan kamu mau berusaha dengan sekuat tenaga. Jika kamu pun sudah berusaha, mungkin memang belum saatnya kondisi yang serba berkecukupan kamu rasa. Nikmati dan syukuri segala yang sudah kamu punya.

Definisi kaya bukan sekadar perkara berapa banyak uang yang kamu punya. Tapi kaya juga soal mental dan seberapa besar kemauanmu untuk berbagi dengan sesama.

Banyak orang mengaitkan kata “kaya” dengan uang yang banyak. Padahal, kaya tak hanya ditunjukkan dengan gelimang harta. Namun lebih dari itu, justru ada banyak hal yang lebih penting dari itu—memiliki mental kaya misalnya. Dengan memiliki mental kaya, kamu akan memandang dunia ini dengan cara yang berbeda. Kamu akan menganggap bahwa tiada yang lebih berharga daripada berbagi kepada sesama.

Selain itu bermental kaya juga berarti kemauan untuk belajar agar bisa mengatur keuangan dengan sebenar-benarnya. Karena jika tak membiasakan diri dari sekarang, kamu akan kaget jika suatu saat nanti diberi rezeki lebih oleh Dia yang ada diatas sana. Alih-alih “balas dendam” karena sebelumnya kamu tak mampu membeli barang-barang yang kamu inginkan, kamu justru lebih bisa menahan diri dari beragam keinginan.

Tak apa jika sekarang kamu memang belum diberi kesempatan mendapat lebih banyak uang dari pekerjaanmu. Namun, bukankah lebih baik bersyukur daripada terus-menerus menggerutu?

Mampu menertawai diri sendiri via youqueen.com

Jika kamu mau melihat ke sekeliling, bukankah banyak sekali hal-hal yang lebih berharga daripada memiliki banyak uang? Kamu memiliki sahabat dan keluarga yang selalu ada di sampingmu, selalu menyemangatimu kala sedang dirundung pilu, dan selalu menjadi tempat untuk bersandar.

Kamu juga harus bisa melihat hal-hal lain yang telah kamu dapatkan dalam hidup. Bagaimana keadaanmu sekarang? Bukankah jauh lebih baik daripada beberapa tahun lalu ketika kamu stres karena harus menyusun skripsi? Bukankah hari ini lebih baik daripada beberapa bulan lalu, ketika kamu lelah menunggu tawaran wawancara kerja yang tak kunjung datang?

Apabila kamu sudah amat sangat pandai memanjatkan syukur kepada-Nya yang telah memberi nikmat, maka kamu tak akan pernah khawatir akan kehilangan atau kekurangan. Kamu akan selalu dan senantiasa menjalani hidup ini dengan bahagia. Tak perlu ada yang disesali, tak perlu ada yang ditangisi atau dirutuki.

Yang perlu diingat adalah bahwa kamu tak sendirian. Masih banyak orang diluar sana yang mengalami keadaan sama—atau bahkan lebih buruk dari kamu. Jadi, tak ada yang perlu disesali dengan keadaanmu saat ini meski apa yang kamu miliki belum bisa mencukupi. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya