Pak, Bu,

Meski hingga saat ini keberhasilan belum juga kuantarkan ke pangkuan kalian, di sini aku tidak sedang berdiam diri. Ada tangga kesuksesan yang sedang kutata di sini. Agar kalian bisa lihat perjuangan membesarkanku tidak pernah sia-sia.

waktuku masih kecil

waktuku masih kecil via www.tumblr.com

Advertisement

Rasanya seperti baru kemarin aku duduk manja di pangkuan bapak, minta diusap kepalanya setelah seharian tak berjumpa karena sibuk bekerja. Kini berapa tahun telah berselang. Bocahmu yang dulu kecil sudah bermetarmofosis jadi sosok setengah dewasa dengan mimpi besar di kepalanya.

Waktu terasa cepat melesat. Anakmu yang dulu begitu kau jaga dan manja, kini sudah bertransformasi jadi orang dewasa dengan sejuta rencana

anak kecil itu sudah beranjak dewasa

anak kecil itu sudah beranjak dewasa via www.chrisaram.com

Sekarang aku bukan lagi gadis kecil yang bisa kalian temui di pinggir taman dengan jajanan di tangan. Tidak ada lagi malaikat mungilmu yang tidur kelelahan di jam 10 malam setelah sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Kini hari-hariku sibuk dengan tumpukan pekerjaan. Pun berkejaran dengan deadline tugas yang sudah dibebankan.

Tak jarang kita bertemu setelah lepas tengah malam. Sesekali Ibu juga masih mendapatiku masih sibuk menuntaskan sisa pekerjaan yang belum terselesaikan. Harus diakui kalau aku tumbuh sebagai pribadi dengan banyak ambisi. Ada barisan mimpi yang setiap harinya menanti untuk dieksekusi.

Advertisement

Sikap ini jelas tumbuh bukan tanpa alasan. Ayah dan Ibu adalah dua sosok yang mengajarkanku tentang pentingnya bertanggung jawab pada pekerjaan. Nilai-nilai yang kalian teladani dulu, tumbuh subur dalam diriku. Sekarang aku tumbuh sebagai perempuan pejuang yang bekerja keras demi mengecap keberhasilan. Meski ruam kesuksesan belum bisa kutunjukkan, percayalah bahwa ada tujuan yang sedang kuperjuangkan.

Jatuh-bangunnya selalu membuat kalian datang menawarkan bantuan. Tapi percayalah Pak-Bu, hanya doamulah yang paling kubutuhkan

dukunglah aku dalam doa

dukunglah aku dalam doa via www.flurtmag.com

Melihat aku yang sedang tertatih menata masa depan memang tak ayal membuat kalian merasa kasihan. Sesekali Bapak dan Ibu menawarkanku untuk bekerja di perusahaan kenalan. Alasannya sederhana, supaya anaknya ini bisa dapat pekerjaan yang lebih mapan. Tentu aku tidak heran mengapa kalian melakukannya. Sebagai orangtua, memudahkan anak mendekap keberhasilan selalu ingin kalian lakukan.

Tapi aku tetaplah aku yang terkadang memang terlalu keras kepala memegang kendali. Meski tidak pernah menolak secara mentah-mentah, namun selalu kuyakinkan bahwa hingga saat ini bantuan kalian belum kuperlukan. Aku bak nahkoda yang sedang berusaha menenangkan badai demi menyelamatkan kapal. Walau sepertinya sedang terseok-seok membetulkan posisi layar dan berusaha menguasai kendali, tapi bukan berarti aku tak bisa membawanya hingga menyentuh tepi yang diingini.

Akan kupastikan bahwa kapal ini tidak akan pernah karam. Sebagai pengendali di atasnya aku akan berusaha menyelamatkan semampu yang kubisa. Navigasi perjalanan sudah kupelajari, perbekalan melaut sudah kusiapkan, cara menyelamatkan diri saat ada bahaya sudah kubaca. Sekarang ini yang kuperlu hanya satu, yakni restu dari kalian untuk mengarungi masa depan.

Sungguh aku tidak bermaksud menolak jalan kemudahan yang datang dari kalian. Tapi dalam perjalanan ini, aku ingin mengukir keberhasilan dengan mandiri

izinkan aku jadi pribadi lebih mandiri

izinkan aku jadi pribadi lebih mandiri via the-next-genertion-of-charmed-ones.wikia.com

Hingga sampai tulisan ini kubuat, sungguh aku tidak bermaksud jadi anak yang tinggi hati. Jangan pernah berpikir bahwa aku sudah jengah mendengar nasihat dari kalian. Sebesar dan semandiri apapun aku saat ini, aku tetaplah anak yang selalu butuh banyak masukan. Setiap saran yang terlontar selalu kujadikan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Bagiku kalian adalah guru yang tidak akan pernah menjerumuskan aku dalam kesusahan.

Di perjalananku nanti, pasti sesekali aku terjatuh dan terluka. Kegagalan sudah kupastikan akan semakin sering menyapaku di sana. Tapi buatku itu semua akan jadi pengalaman berharga yang mengantarku ke tangga keberhasilan kesuksesan yang sebenarnya. Bapak dan Ibu tidak perlu terlalu khawatir dengan itu semua.

“Bukankah sebelum aku lahir ke dunia, kalian juga menghadapi ujian serupa?”

Bekal untuk berperang menata masa depan telah kupersiapkan. Kini, berikan padaku kepercayaan untuk berjuang sampai akhirnya semua bisa dibuktikan

aku akan berhasil

aku akan berhasil via www.huffingtonpost.com

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, izinkanlah aku untuk mengantungi restumu menapaki setiap lekuk kehidupan. Bekal ilmu yang kalian beri, kuperkirakan cukup untuk menjadi amunisi untuk menemui kesuksesan yang sedang dikejar. Seperti sudah kubilang perjalanan ini akan merengkuh waktu yang panjang dan penuh dengan kerikil tajam.

Sesekali aku akan mengeluh karena sakitnya mengusahakan sebuah kemenangan. Tapi dengan suntikkan semangat dari kalian, aku akan segera mengepak keril kembali demi berlari berjuang di medanku sendiri. Lagi-lagi aku kupastikan bahwa aku adalah pejuang yang masih layak berperang. Walau kemenanganku masih menjadi tanda tanya besar, suatu saat nanti aku akan pulang dan membuat kalian tersenyum lebar.

Aku bukanlah pengembara yang bisa membuat bapak dan ibu melihat keberhasilanku sekedipan mata. Ada langkah dan strategi yang sedang kuatur sedemikian rupa agar semua keinginanku bisa terlaksana. Sungguh besar tekadku membuat kalian tersenyum bangga. Kalian adalah salah satu alasan mengapa aku berjuang sebaik-baiknya.

Pak Bu, aku mohon pamit ya. Semoga kita segera bertemu kembali ketika aku sudah berada di anak tangga yang lebih tinggi

Dari anakmu

yang kini berjuang demi membahagiakanmu di masa depan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya