Si A : Uh, merokok terus. Berhenti dong!

Si B : Enak aja lo kalo ngomong!!!

Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya berada pada pihak Si A —meminta seorang teman yang perokok berat untuk berhenti merokok detik itu juga. Tapi sekarang saya adalah Si B, yang minta ampun susahnya untuk berhenti merokok. Saya enggak menyalahkan orang-orang yang meminta seorang perokok untuk berhenti melakukan kebiasaannya, mungkin saya (dan jutaan perokok berat lainnya di Indonesia) seharusnya berterimakasih atas himbauan tersebut. Tapi berhenti merokok tidak lah semudah mengatakan “I love you, sayang!” kepada pacar.

Advertisement

Ya, ya, ya merokok itu merugikan, secara kesehatan maupun finansial. It’s easy for you to say, tapi percayalah dengan niat segede gunung pun, itu gak akan mudah. Kenapa? Sambil menyalakan batang rokok kedua saya hari ini, mari kita lihat kenapa berhenti merokok itu susah.

Nikotin adalah alasan utama mengapa perokok sulit menghentikan kebiasaan buruknya.

Nagih nikotin

Nagih nikotin via www.mendaily.com

Nikotin  merupakan bahan kimia di dalam rokok yang menyebabkan perokok ketagihan untuk menyalakan sebatang lagi setelah sebatang selesai dihisap. Bagi perokok pemula, ingat ini: secara perlahan namun pasti tubuh kamu akan mulai terbiasa dengan kehadiran nikotin. Meski awalnya gak nyaman, semakin banyak rokok yang kamu hisap semakin “normal” tubuh menanggapi nikotin.

Nikotin merangsang sensasi “enak dan nyaman” yang berpusat pada otak. Sehingga pada saat pasokan nikotin dihentikan, otak mulai memerintahkan perokok untuk menyalakan sebatang lagi. Karena otak sedang merindukan sensasi “enak dan nyaman” tersebut.

Parahnya, menghentikan asupan nikotin berdampak pada gejala-gejala yang bisa dibilang mirip dengan gejala sakaw.

It's three patch problem

It’s three patch problem via lanternhollowpress.com

Advertisement

Bagi yang belum pernah mengalami sakitnya berhenti merokok, berikut ini hanya segelintir gejala dan gangguan yang dihadapi perokok yang lagi mencoba berhenti:

  • Perasaan gak nyaman, kayak mau terserang flu.
  • Susah tidur (karena otaknya belum “nyamam”)
  • Susah tidur menyebabkan kelelahan.
  • Mudah tersinggung atau bahasa kekiniannya, baper.
  • Sulit konsentrasi.
  • Sakit kepala.
  • Batuk-batuk.
  • Nyeri pada tenggorokan.

Masih mau bilang kalau berhenti merokok itu mudah?

Kadang seorang perokok sudah berhasil puasa merokok selama beberapa minggu. Namun usahanya hancur berantakan akibat budaya “Sebat dulu, bro!”

sebatang dulu yok

sebatang dulu yok via komunitaskretek.or.id

Sebat = sebatang

Merokok memiliki kaitan yang erat dengan aspek hubungan sosial, baik di Indonesia maupun di bagian negara lain. Ketika seorang perokok mencoba untuk berhenti, tantangan utamanya adalah menahan godaan untuk tidak ikutan merokok ketika bertemu teman yang kebutulan lagi merokok. Jangankan teman, melihat tukang parkir yang lagi mengepulkan asap di atas motor (yang entah milik siapa) saja berhasil bikin bibir saya manyun gak karuan. Menyaksikan film yang berisi adegan merokok, meski rokoknya disensor oleh lembaga sensor, bisa menggoda seorang perokok untuk meraih dan menyalakan sebatang.

Mungkin kamu akan bilang, “Ya udah, jauhi teman-teman yang merokok aja. Gampang!” Enak aja. Coba kamu sendiri menjauh dari sobat karib kamu secara tiba-tiba. Apa kamu tega memutus pertemanan hanya karena rokok? Kalau sampai tega, maka kamu harus mempertanyakan lagi arti persahabatan bagi dirimu.

Usaha berhenti juga berat ketika kamu menemui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan rokok.

Habis makan enaknya merokok

Habis makan enaknya merokok

Maksud saya bukan event musik atau olahraga yang disponsori rokok, melainkan kegiatan kecil yang langsung diterjemahkan otak sebagai “cue” untuk menyalakan dan mengepulkan asap rokok. Contohnya, ketika habis makan; waktu nongkrong; pas lagi jam istirahat; bahkan ketika lagi minum alkohol otak pun memberi cue untuk menghisap rokok.

Tak jarang ketika dalam tekanan stres, seorang perokok akan lari pada merk kesayangannya untuk menenangkan diri. Ironisnya, kamu juga bakal meraih sebatang lagi ketika pikiran kamu sudah tenang. Serba sulit ‘kan?

Bukan, tulisan bukan alasan dan pembenaran bagi perokok. Kami ingin berhenti, I really do, sumpah! Tapi tolong pahami juga bahwa berhenti tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berhenti lebih dari sekebar mematikan rokok di asbak. It takes time and it take courage.

Kami tidak butuh perintah “Berhenti!” seperti kamu menyuruh anjingmu untuk duduk (gila, bahkan anjing aja butuh latihan). Apa yang paling kami butuhkan sekarang adalah pengertian dan dukungan, bahwa pada saat nanti kami harus menyudahi kebiasaan buruk ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya