Kami bermain petak umpet senja itu sepulang sekolah, sambil menunggu ayah dan ibu masing-masing menjemput dari rumah. Masih berbalut seragam merah-putih, keempat dari kami berlari dan bersembunyi, di balik pohon, pintu kelas, dan gerbang pura. Setelah beberapa ronde salah satu dari kami bosan dan mengusulkan untuk berganti permainan.

“Main benteng, yuk!” saya memberi ide. Kami memecah diri jadi dua regu, satu regu dua orang. Lewat hompimpa saya dan seorang anak laki-laki bernama Putu dipasangkan. Tak berapa lama, Putu mengernyitkan dahi.

“Tapi aku nggak mau satu regu sama kamu,” ujar Putu, jarinya menunjuk wajah saya. Dengan suara melengking seorang bocah yang masih jauh dari dewasa, ia melontarkan salah satu kalimat paling jujur yang pernah saya dengar di dunia:

“Aku maunya sama Nisa aja… Soalnya dia cantik.

Sekarang kenangan masa kecil itu cukup saya ingat sambil tertawa. Ah, anak-anak, betapa jujurnya menilai siapa yang cantik dan siapa yang tidak cantik. Sebenarnya bukan kali itu saja orang-orang menyiratkan bahwa saya bukanlah anak yang cantik, bukan anak yang akan tumbuh menjadi cantik. Cara mereka mengutarakan hal itu pun beragam: dari yang perhatian (“Mbak, jangan panas-panasan, nanti tambah item!”), setengah bercanda (“Kok kurus banget sih, kayak pengungsi kurang gizi…”), bahkan pujian (“Kalau Adik, cantik. Kalau Mbak, rajin!”)

Namun ada masanya di mana saya pernah begitu berharap bisa punya penampilan yang berbeda. Saya berdoa — sebagai anak kecil yang belum tahu apa-apa — semoga di surga nanti saya diberikan rambut yang lebih lurus, kulit yang lebih putih, dan badan yang sempurna.

Karena di kehidupan saat ini, saya tidak memilikinya.

Kemudian saya belajar bahwa hampir semua perempuan yang saya kenal pernah merasakan kekhawatiran yang sama tentang penampilan mereka. Sebagian dari kita, hingga sekarang, masih merasakannya.

Sejak kecil kita dibombardir oleh standar ganda kecantikan. Nasihat “Cintai diri apa adanya” selalu bersanding dengan iklan pemutih badan

Advertisement

Terima dirimu apa adanya… kalau dirimu putih. via weheartit.com

Berbicara tentang kecantikan memang membingungkan. Di satu sisi, kita sering mendengar berbagai nasihat yang menenangkan: bahwa kita tak perlu mengkhawatirkan penampilan, karena pada dasarnya, kata mereka, “Semua perempuan itu cantik.”

“Kalau kamu punya cita-cita dan berusaha gigih mewujudkannya, kamu cantik. Kalau kamu mampu menghargai orang lain dan bersikap sopan pada sesama, kamu cantik. Kalau kamu pandai matematika atau merangkai kata-kata, kamu cantik. Karena cantik itu perilaku, bukan seberapa mulus atau putih wajahmu.” 

Sebenarnya ucapan ini ada benarnya. Siapa yang tidak kagum, misalnya, melihat perempuan yang berjuang menyeimbangkan kehidupan kantor dan keluarga, menyelaraskan cita-cita sendiri dan kepentingan anak-anaknya? Jika kecantikan memang ada banyak jenisnya, tentu perempuan-perempuan seperti mereka bisa kita panggil cantik. Cantik hati. Cantik tekad. Cantik otaknya.

Namun di sisi lain, kita juga harus mengakui. Jenis kecantikan perempuan yang selama ini paling banyak ditampakkan di media, yang dijual sebagian besar pengiklan di sana, dan yang paling sering kita puji di kehidupan sehari-hari adalah jenis kecantikan fisik. Jarang sekali ada kaitannya dengan kecerdasan otak, kegigihan mengejar cita-cita, atau kebaikan hati kita.

Dan lihatlah lebih dekat lagi. Kecantikan fisik yang selalu ditonjol-tonjolkan ini tak pernah jauh-jauh dari kulit yang terang, wajah kebarat-baratan, dan rambut yang hitam panjang. Padahal, tak semua dari kita memiliki atribut-atribut ini.

Sadar atau tidak, selama ini kita hidup dalam standar ganda. Rasanya seperti sedang membaca sebuah majalah remaja yang menurunkan artikel berisi ajakan untuk menerima diri kita apa adanya, kemudian melihat iklan produk pemutih tepat di halaman sebelahnya.

Mungkin kamu belum selesai berdamai dengan warna kulitmu. Mungkin kamu masih harus berjibaku menerima berat badanmu. Tapi tersenyumlah: kamu tak perlu malu

Pelan-pelan, kita akan belajar.

Teman : “Lo ngapain sih diet-dietan… Gapapa kali, big is beautiful!”

Kamu : (dalam hati) “Ah, lo sih gampang, gak pernah diejek mirip sapi ‘kan lo?”

Mungkin selama ini kamu belum sepenuhnya menerima bentuk tubuhmu. Terlalu besar, terlalu cepat melar. Mungkin pula dahimu terlalu lebar, hidungmu terlalu pesek, matamu sipit, dan kamu berharap — meskipun tahu harapan itu sia-sia — bahwa suatu hari hidungmu jadi lebih mancung, matamu lebih lebar, rambutmu lebih halus dan lebih berkilau dari kebanyakan orang.

Namun sebenarnya, kamu hanya perlu lebih banyak waktu untuk berdamai dengan diri sendiri. Mematahkan segala mitos tentang kecantikan yang telah kamu serap selama ini.

Memulihkan pikiranmu dari segala propaganda media butuh waktu yang lama. Jalannya harus berjalan pelan-pelan, dan tak bisa dipaksakan.

Tenanglah, karena kamu punya seumur hidup untuk belajar.

Kamu punya seumur hidup untuk belajar bahwa harga dirimu tidak datang dari penampilan. Hati terbuka, bibir yang bijak dalam bicara, dan tangan yang gigih bekerja sudah cukup untuk membuatmu dicinta

Hatimu yang penyayang membuatmu berharga via www.earthporm.com

Ketika begitu fokus pada kecantikan, kita bisa lupa bahwa masih ada begitu banyak hal yang lebih penting dari wajah dan raga. Sebut saja:

Kamu pernah membeli sesuatu yang sebenarnya tak kamu perlukan dari seorang penjual di jalan, hanya karena hatimu yang lembut jatuh kasihan.

Kamu pernah rela tak tidur semalaman demi menyelesaikan kado untuk seseorang yang, dengan tulus, kamu sayang.

Karena pribadimu yang perhatian, kamu tahu sahabatmu sedang didera kesulitan — bahkan ketika dia belum menceritakan apa-apa.

Kamu berhasil menyeimbangkan dunia kuliah dengan dunia organisasi. Meski sibuk menjabani kepanitiaan di sana-sini, Indeks Prestasi Kumulatifmu tetap tinggi.

Kamu akan belajar, pelan-pelan, bahwa hal-hal di atas seharusnya sudah cukup membuatmu bangga. Sungguh, kamu tidak perlu fisik yang sempurna untuk merasa dirimu berharga. Hati terbuka, bibir yang bijak dalam bicara, dan tangan yang gigih bekerja sudah cukup membuatmu layak dicinta.

Dan kamu akan paham, bahwa selama ini, kamu sudah memiliki itu semua.

Hidup tak selalu berjalan baik. Akan ada hari di mana kamu merasa tak cantik. Namun saat hari itu tiba, kamu akan baik-baik saja. Karena kamu terlalu cerdas dan dewasa untuk menganggap bahwa cantik adalah segalanya

Kamu akan tumbuh menjadi cerdas dan dewasa. Cukup itu saja. via hazzen.com

Jadi, begini kenyataannya. Kita tidak akan berubah jadi secantik mereka yang tersenyum di sampul-sampul majalah remaja. Kita tidak akan tahu rasanya membuat belasan (apalagi ratusan dan ribuan) pria patah hati hanya lewat wajah dan tubuh yang kita punya. Dan tahukah kamu? Itu tidak apa-apa.

Mungkin suatu saat nanti, kita akan berani mendefinisikan ‘cantik’ menurut standar kita sendiri. Kita akan menganggap seseorang “cantik” karena tutur katanya, atau cekung senyum yang di wajahnya, atau sikapnya yang rendah hati meski sudah menuntut ilmu tinggi-tinggi.

Atau mungkin kita akan mengambil jalan yang lebih sederhana. Mengakui bahwa kita memang tidak cantik — dan menganggap hal ini biasa saja. Karena toh, ada banyak kualitas lain yang lebih penting dari diri kita.

Saya tidak cantik, dan saya mensyukurinya.

Saya dan kamu akan menjadi terlalu cerdas dan dewasa untuk menghamba pada kecantikan raga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya