Mungkin bagi sebagian orang, memiliki kekurangan dan keterbatasan merupakan aib yang harus ditutupi. Mengingat tak semua orang bisa memahami keadaan tersebut dan malah mencibir mereka karena berbeda. Kalau kamu termasuk salah satunya, yang kadang merasa rendah diri atas keterbatasan yang kamu punya, yuk baca kisah menginspirasi ini. Dikutip dari Bored Panda, kisah ini menceritakan Ding Ding dan ibunya, Zou Hongyan asal China. Pasangan ibu dan anak ini sama-sama melawan keterbatasan dan menjadikannya lecutan untuk tak dihina orang.

1. Kisah pria asal China ini berawal dari kelainan otak yang ia derita, yaitu Celebral Palsy

Ding Ding, penderita Cerebral Palsy via www.shanghaidaily.com

Dilansir dari Detik.com Cerebral palsy adalah gangguan gerakan otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak. Kelainan ini paling sering terjadi sebelum kelahiran. Akibat menderita kelainan otak ini, Ding Ding memiliki kondisi lain yang berkaitan dengan kelainan perkembangan otak, seperti cacat intelektual, masalah penglihatan dan pendengaran, atau kejang.

2. Mengetahui anaknya mengidap kelainan otak tersebut, sang ibu tetap bersikukuh untuk merawatnya

Ding Ding kecil via www.boredpanda.com

Saat ia lahir, dokter di daerah Provinsi Hubei, China, bahkan mengatakan bahwa Ding Ding tidak akan bertahan hidup lama, mengingat kelainan yang dimiliki. Kepada sang ibu, dokter juga mengatakan bahwa mereka akan mengalami kesulitan jika tetap mempertahankan Dind Ding.

Advertisement

Meskipun dokter sudah menyerah dengan keadaan Ding Ding, namun sang ibu tetap bersikukuh untuk merawat anaknya hingga dewasa. Tak peduli dengan omongan orang, sekaligus omongan dokter yang menyangsikan hidup anaknya itu.

3. Cobaan hidup Ding Ding tak berhenti sampai di situ. Sang ayah bahkan meninggalkan mereka dan tak mau mengakuinya sebagai anak

Ditinggal “lari” sang ayah via www.boredpanda.com

Selain keterbatasan, cobaan hidup Ding Ding pun seakan tak ada habisnya. Sang ayah bahkan rela meninggalkan ibu dan dirinya seorang diri. Sang ayah pun tak mau mengakuinya sebagai anak karena keterbatasan yang ia miliki. Mungkin sang ayah malu karena anaknya cacat dan membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk bisa bertahan hidup.

4. Sang ibu pun harus rela menjalani 3 pekerjaan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan anak semata wayangnya itu

Diajari lebih keras via www.boredpanda.com

Ditinggalkan sang suami tak membuat ibu Ding Ding putus asa. Ia bahkan rela melakoni 3 pekerjaan sekaligus agar bisa memenuhi kebutuhan sang anak. Melihat sang anak yang membutuhkan kebutuhan khusus, walaupun berat, sang ibu pun mati-matian bekerja agar Ding Ding bisa mendapatkan asuransi kesehatan. Begitu pula dengan Ding Ding, pria yang kini mengenakan kacamata pun sama kerasnya dalam berjuang sejak kecil. Ia bahkan sudah belajar menggunakan sumpit meskipun tangannya gemetaran sejak kecil.

Menyadari keterbatasan yang dimiliki sang anak, ibu Ding Ding pun bersikap lebih keras padanya. Dia mengajari Ding Ding bak anak normal lainnya. Menurut ibunya, keterbatasan tak harus menjadi penghalang untuk bisa belajar seperti anak-anak normal. Tak perlu malu akan kekurangan yang dipunya, justru menjadi cambuk agar kamu lebih keras lagi menghadapi dunia.

5. Hasil memang tak akan mengkhianati proses. Ding Ding pun akhirnya lulus dari Peking University. Tak hanya itu ia juga diterima sebagai mahasiswa hukum di Harvard University

Prestasi Ding Ding via www.boredpanda.com

Usaha Ding Ding dan ibunya pun tak sia-sia. Setelah 29 tahun, Ding Ding berhasil menjadi salah satu lulusan dari Fakultas Teknik Lingkungan di Peking University. Tak berhenti sampai di situ, ia juga telah diterima menjadi mahasiswa  Fakultas Hukum di Harvard University tahun ini. Dengan prestasi itu, Ding Ding tak hanya membanggakan ibunya. Melainkan juga membanggakan para penyandang keterbatasan lainnya.

7. Kisah Ding Ding ini bisa jadi pengingat, bahwa keterbatasan tak menjadi penghalang untuk meraih mimpi

🙂 via www.giphy.com

Bukannya malah minder atau rendah diri, tapi Ding Ding dan ibunya justru menjadikan keterbatasan itu untuk melecut diri. Kisah mereka bisa menjadi pengingat bahwa keterbatasan dan segala cobaan hidup lainnya bukan alasan untuk putus asa.

Mungkin bagimu, sekadar ngomong aja gampang. Namun kalau tak dicoba bukankah hanya akan menjadi kesia-siaan? Karena Tuhan tak memberimu kehidupan untukmu diabaikan. Tetap semangat ya semua!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya