Gambaran Kisahku di 2021 yang Mirip Menanti Angkutan Kota. Harus Tetap Sabar dan Berharap

Kisahku di tahun 2021

Tahun 2021 hampir berlalu, di penghujung tahun ini aku yakin setiap orang pasti memiliki kisahnya masing-masing. Aku seorang yang biasa ini, juga memiliki kisah kisahku sendiri dalam melewati tahun ini. Tahun 2021 ini aku lewati dengan banyak penantian.

Advertisement

Penantian yang aku bicarakan bukan melulu tentang kesedihan dan kegelisahan. Memang ada sedihnya, namun juga bercampur dengan harapan yang indah. Persis seperti menanti angkutan kota di pagi hari yang indah.

Setelah aku lulus pastinya aku mencoba mencari kesempatan, namun menanti gayung bersambut pasti butuh penantian

Aku masih muda, kalau bicara umur sih bukan hanya masalah angka, namun juga presepsi. Aku baru lulus dari bangku kuliah dan dilihat dari pengalaman kerja profesional, jelas aku masih terhitung muda.

Selayaknya seorang pemuda, mencari jalan menuju kedewasaan adalah sebuah keharusan, diantaranya perihal pekerjaan. Dulu, aku memiliki pekerjaan sembari berkuliah, namun karena satu dua hal aku memilih menjadi mahasiswa full time. Resmi lulus, aku kembali mencari pekerjaan yang dalam prosesnya tentu penuh penantian yang meresahkan. Berharap ekspektasi berbanding sama dengan realita, aku akhirnya banyak mengalami rasa kecewa.

Advertisement

Kadang aku juga ingin menyerah, berhenti berharap dan berjuang terhadap rencana hidup yang sudah dibangun sedari dulu

Dalam menanti pasti rasa lelah dan gelisah itu muncul, karena aku sadar bahwa  tak benar-benar bisa mengendalikan semua yang datang di hidup. Mulai dari menanti angkutan datang hingga panggilan interview semua itu ada di luar kuasa kita. Kita hanya bisa mengusahakan sampai pada batas tertentu, kita nggak akan pernah tahu kapan hal-hal itu akan bersambut.

Ada masanya aku berhenti mencari pekerjaan hingga berhari-hari lamanya dan kembali meragukan kemampuan diri. Rasanya ingin menyerah saja, menanti takdir baik yang nggak tahu kapan akan datang.

Advertisement

Tapi aku kembali teringat masalah mimpi yang aku bangun, dan hal-hal yang harusnya aku perjuangkan. Kalau kita berhenti sekarang, lalu siapa yang mau memperjuangkan diri ini menuju ke tujuan? Nggak ada. Maka terus berusaha adalah jalan terbaik yang bisa kita usahakan saat ini. Lelah boleh, tapi jangan menyerah.

Saat menunggu “angkutan kota” yang tak kunjung tiba dan suasana menjadi runyam maka pilihannya cuma satu, sabar. Semua butuh waktu yang tepat

Menanti itu tidak selamanya menyenangkan. Banyak hal membuat penantian dalam mendapat pekerjaan terasa sulit berkali-kali lipat. Dari luar contohnya, melihat orang yang mencapai sesuatu dalam hidupnya saja kita sudah ter-trigger. Bukannya tidak ikut berbahagia, hanya saja di balik ucapan selamat ada pertanyaan “aku kapan?”.

Kembali lagi, perihal pertanyaan “aku kapan” merupakan hal di luar kuasa kita. Kita bisa berencana, namun takdir yang bisa menjawabnya. Pada saat itu, sabar adalah kunci agar kita tetap waras. Hingga pada akhirnya segala penantian bisa terbayarkan.

Aku tinggal di dekat jalan raya, saat kasus covid membludak ada sirine ambulan yang membuatku bersyukur bahwa setidaknya masih hidup hingga saat ini

Menanti datangnya pekerjaan di tahun 2021 tentu memiliki tantangan tersendiri. Mencari kerja pada saat normal saja sudah sulit, apalagi saat masa pandemi. Harus mencari surat PCR, moda transportasi yang dibatasi hingga ketakutan dalam diri sendiri kalau tertular. Serba sulit memang.

Di dalam gerutuan yang tidak ada akhir ini, semakin diperparah dengan keadaan rumah yang ada di pinggir jalan. Lebih “menyenangkan” lagi karena tidak jauh dari pangkalan ambulan yang baru saja dibangun pemerintah, total ada subsidi mobil baru sekitar 8 buah. Aku ingat betul, saat Covid-19 sedang tinggi-tingginya di bulan Juni. Aku bisa mendengar sirine ambulans berbunyi hampir 20 kali dalam satu pagi.

Jujur aku takut sekaligus sedih mendengar sirine yang berulang, ada berapa banyak orang yang berjuang antara hidup mati di luar sana? Mungkin ini sedikit egois, namun aku bersyukur masih melihat orang yang aku sayangi ada di sekitarku. Tidak ada tantangan yang benar-benar menakutkan dan penantian yang terlalu panjang selagi kita memiliki keluarga yang kita sayang.

Di 2021 ini aku sadar bahwa semua transisi butuh waktu. Seperti aku dan dunia ini yang semoganya berubah jadi baik di tahun yang baru

Penantian pada saat ini telah terbayar / Illustration by hipwee

Tahun 2021 jelas memberikanku banyak sekali pelajaran. Rasa penuh bosan dan jemu dari penantian, sampai sakitnya penolakan sudah sangat familiar. Hal ini mau tak mau harus aku lewati, sebagai proses menuju kedewasaan. Aku harus bertransisi menjadi seorang manusia yang sedari dulu aku inginkan.

Kini “angkutan kotaku” telah datang, rasanya memang sudah ditakdirkan. Sedikit cerita, saat masa rekruitmen di Hipwee, aku harus mengerjakan beberapa tugas selama 1×24 jam. Terkesan lama, hanya saja menjadi tak cukup lama karena tetangga samping rumahku meninggal dunia di hari yang sama.

Beliau orang yang baik, aku senang bisa ikut mengantarkan dan merangkaikan bunga untuknya untuk yang terakhir. Aku tidak tidur selama 24 jam dan bahkan sempat menangis karena takut nggak cukup waktunya. Nothing to lose, namun akhirnya aku diterima di Hipwee.

Semua bagaikan takdir, persis seperti angkutan kota yang suka datang semaunya. Kadang kita beruntung dapat yang cepat, ada juga yang datang di detik-detik kita akan menyerah. Begitulah gambaran 2021 miliku, masa transisi yang penuh kejutan, penantian dan harapan. Kalau bagimu, seperti apa 2021 itu?

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE