Artikel ini terinspirasi oleh @kriwel_, pemenang hari ke-20 #30HariTerimaKasih challenge dari Hipwee. Hayo, sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Ketika meniupkan jiwa ke dalam tubuh kita, Tuhan sebenarnya sedang memberi salah satu hadiah terbesarnya: kesempatan bagi kita untuk menikmati kehidupan dunia. Namun, Ia juga menghadiahkan karunia lain yang jauh lebih agung: kemampuan untuk merasa dan memelihara cinta.

Dengan cinta, kehidupan dunia bisa menjadi lebih dari kesenangan yang fana. Ada kedamaian yang juga bisa tercipta. Tuhan pun menasihati: mendekatlah padaku, karena hanya cintaku padamulah yang bisa memberimu kedamaian itu.

Advertisement

Namun sebagai ciptaan-Nya, kita kerap lupa. Cinta pada Tuhan kita letakkan di urutan nomor dua, di bawah rasa cinta pada manusia. Kedamaian sejati pada akhirnya dikompromikan demi kebahagiaan sementara. Lucunya, saat akhirnya kita dikecewakan oleh cinta manusia, yang akan kita salahkan adalah Tuhan — bukan diri kita. Padahal, Tuhan tak pernah sengaja menelantarkan kita. Kitalah yang memilih untuk perlahan menjauh dan meninggalkan-Nya.

Manusia lebih banyak menggantungkan asa pada sesamanya. Padahal, Tuhanlah yang menjadi penentu terkabul-tidaknya sebuah doa

Bukankah semua itu Tuhan yang menentukan?

Bukankah semua itu Tuhan yang menentukan? via www.tumblr.com

Mengapa kita lebih mudah menggantungkan asa pada manusia, sementara Tuhanlah yang sebenarnya memegang kuasa atas terkabul-tidaknya sesuatu? Mungkin karena manusialah yang seolah lebih dekat dengan kita — manusia makhluk yang kasat sementara Tuhan tak bisa dilihat. Padahal, ini hanya karena Tuhan sendiri terlalu rendah hati untuk menampakkan diri. Bukan karena Tuhan tak mau mendekatkan diri dengan makhluk-makhluk yang diciptakannya ini.

Mungkin karena Tuhan tak terlihat, kita mudah lupa bahwa Ia selalu ada, mengawasi kita. Sementara pada manusia, kita mudah percaya. Apalagi karena dalam hal bersilat lidah dan merayu, manusia adalah jagonya.

Advertisement

Tapi tidakkah dirimu pernah dibohongi oleh manusia yang ternyata hanya mau menang sendiri? Cobalah mengingat: sudah berapa kali kamu memercayai manusia, hanya untuk dikhianati pada akhirnya?

Menggantungkan asa pada sesama manusia adalah sama dengan mengandalkan kekuatan makhluk yang tidak sempurna. Mengapa kita masih melakukannya?

Sementara Tuhan tak pernah lupa. Ia akan memberi berkali-kali lipat lebih banyak pada manusia yang tulus mencintai-Nya

kini kamu justru bisa berdiri di atas kaki sendiri

Tuhan tak pernah lupa via favim.com

Sementara Tuhan tak pernah ingkar janji. Ia memang tak selalu menjawab doa hamba-Nya dengan kata “Ya”, namun pasti atas alasan yang masuk akal demi kebaikan umat-Nya. Bagaimanapun, Tuhan tak pernah “menyiksa” makhluk ciptaannya hanya karena Ia ingin melihat mereka tersiksa. Ketika Tuhan tak mengabulkan apa yang kita harapkan, bukan berarti Ia sengaja menelantarkan. Tuhan hanya tahu rencana lain yang mampu memberikan hamba-Nya lebih banyak kedamaian.

Syaratnya hanya satu: kita tulus menyerahkan hati untuknya, memprioritaskan cinta kepada-Nya. Menyadari dengan penuh bahwa cinta paling tulus bukanlah cinta yang ada sesama manusia, namun kepada sang Pencipta. Dan dengan itu, menuruti apa yang dimaui Tuhan, menjauhi apa yang menurutnya tak layak didekati manusia.

Tak pernah mudah untuk melakukannya, mencintai sebuah Dzat yang bahkan wujudnya tak pernah kita lihat.

Namun sebagaimana janji-janjinya yang lain, Tuhan selalu adil. Apakah ada alasan kita untuk tidak mencintai-Nya, saat Ia selalu siap memberikan cinta dengan kadar berkali-kali lipat untuk kita?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya