Dulu saat masih remaja, soal cinta bukanlah perkara yang bisa membuatmu sakit kepala. Jatuh cinta dan patah hati adalah dua hal yang biasa kamu alami sehari-hari. Putus cinta hari ini, bulan depan sudah bisa punya gandengan yang baru. Wajar saja, karena dulu definisi cinta hanya sekadar: hei dia cute, diajak ngobrol juga nyambung, jadian deh yuk?!

Sekarang persoalan asmara lebih sulit dari kumpulan soal logaritma. Tanpa sadar kamu sudah menjomblo berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena tidak kunjung menemukan sosok yang potensial. Ironis memang, semakin bertambahnya usia kamu justru lebih nyaman sendirian. Tapi kamu tidak sendirian. Mencari pasangan di usia kepala dua memang tidak semudah saat kamu masih remaja. Hal-hal inilah yang menjadi alasannya.

1. Kamu sudah lebih mengerti apa yang kamu mau. Persoalan mencari pasangan kamu tidak mau sembarangan lagi

Kamu mulai memahami dirimu sendiri via aspynovard.com

Saat SMA mungkin kamu belum tahu banyak apa yang kamu inginkan. Setiap hari berlalu dengan prinsip jalani saja. Termasuk soal pacaran. Kalau memang kamu bertemu sosok yang rupawan dan enak diajak ngobrol, bisa diajak malam mingguan, dan mau antar jempur dengan setia (khusus cewek), kenapa harus berpikir lama? Langsung jadian saja. Sekarang berbeda. Kamu mulai memahami dirimu sendiri dan tahu apa yang kamu inginkan dalam hidupmu. Hubungan bukan lagi soal ada teman untuk malam mingguan, tapi sudah berorientasi ke depan.

2. Pandanganmu tentang cinta tidak sesederhana saat masih remaja. Kini sebuah hubungan tak lagi hanya soal romantika

Pandangan tentang cinta juga berubah dari masa remaja via datebydecember.tumblr.com

Advertisement

Dulu pacaran barangkali sesederhana pulang pergi ke sekolah bersama, apel rutin setiap malam minggu, dan bertukar cokelat saat hari Valentine tiba. Cinta semata-mata romantika anak muda yang hanya diisi oleh bahagia. Tapi sekarang pandanganmu sudah berubah. Dalam sebuah hubungan, kamu tahu bahwa senang hanya salah satu rasa. Masih ada sejuta rasa lain seperti harapan, cemas, cemburu, marah, khawatir dan banyak lagi. Dalam sebuah hubungan, ada cita-cita serta tuntutan untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

3. Semakin bertambah usia, lingkup pergaulanmu justru semakin menyempit. Sulit mengenal orang baru karena yang kamu temui memang itu-itu saja

Lingkup jelajahmu semakin sempit via mashable.com

Salah satu yang tidak bisa disangkal adalah, semakin usiamu bertambah, justru semakin sempit pula dunia yang kamu jelajah. Dulu saat masih remaja, waktu luangmu sangat banyak. Di sekolah atau kampus, kamu bisa bertemu banyak orang dengan mengikuti berbagai kegiatan. Sekarang? Waktumu habis untuk pekerjaan dan keluarga. Pergi pagi pulang petang, yang kamu temui adalah orang-orang yang sama. Karena ruang jelajahmu yang sempit, peluangmu untuk mencari pasangan otomatis juga berkurang.

4. Apa yang jadi fokusmu kini bukan soal pasangan. Ada segudang hal yang harus kamu pikirkan dan kejar

Kamu punya banyak hal untuk dipikirkan via elchicotabla.tumblr.com

Dulu beban terberat hanyalah soal nilai dan IPK. Tidak ada tanggungan ini itu yang harus dilunasi setiap bulannya. Tidak ada target kuliah S2 yang ingin segera diraih. Tidak ada beban untuk segera membahagiakan orang tua. Sekarang hal-hal itu harus kamu pikirkan secara bersamaan. Mencari pasangan hidup seringnya  sejenak terlupakan dari pikiran. Bukannya kamu menomor-duakannya, tapi kamu sedang belajar menyusun skala prioritas, mana yang harus didahulukan.

5. Sekarang bagimu hubungan selalu berorientasi ke masa depan. Tanpa sadar kamu memasang banyak kriteria untuk calon pasangan

Kamu punya kriteria via www.cosmopolitan.com

Karena kini hubungan bukan lagi sekadar untuk have fun, tanpa sadar kamu mulai menyematkan banyak kriteria untuk calon pasangan. Bukan berarti kamu muluk-muluk, tapi siapa yang ingin menjalani hidup selamanya dengan seorang yang tidak baik, kekanak-kanakan, terlalu posesif, tidak bisa diajak kerja sama, dan sederet predikat buruk lainnya? Semua orang menginginkan yang terbaik, termasuk dirimu. Itu adalah hal yang wajar.

6. Kamu tahu usiamu tidak lagi remaja. Daripada menjalani hubungan dengan sembarang orang, kamu lebih suka menunggu yang tepat datang

Main-main sudah bukan masanya via miglekphotography.tumblr.com

Perubahan target dalam dirimu sendiri adalah penyebab utama dari susahnya mencari pasangan di usia kepala dua. Kamu sudah mengerti bahwa usiamu tidak muda lagi. Pacaran sana-sini, menjalin hubungan hanya untuk senang-senang sudah bukan masamu lagi. Hidup kini berubah menjadi serius dan harus dipikirkan dengan matang. Kamu yakin bahwa kamu akan menemukan sosok yang tepat. Dan kamu lebih suka menunggu saat itu tiba, daripada buang-buang waktu dengan menjalin hubungan dengan sembarang orang.

7. Terkadang bukan soal orang yang tepat belum datang, tapi kamu sendiri yang belum siap. Tak apa, hanya kamu yang tahu kapan waktumu tiba

Kamu belum merasa siap via maniasincontrolaveis.blogspot.co.id

Keraguan yang kamu rasakan tidak berhenti pada kualitas calon pasangan, tapi juga pada kesiapan dirimu sendiri. Terkadang saat seseorang datang menawarkan hubungan, justru kamu sendiri merasa tidak yakin untuk memulainya sekarang. Masih banyak cita-cita yang ingin kamu kejar sebelum  hidup damai dalam sebuah pernikahan. Bukan berarti setelah menikah kamu tidak bisa mengejar cita-cita, hanya saja bagimu pernikahan adalah sebuah hal besar yang tidak bisa dijalani sembarangan.

Setiap orang mengalami proses mendewasakan. Dulu saat masih remaja, segalanya terasa sederhana. Yang paling rumit pun hanyalah soal-soal matematika dan fisika. Sebuah hubungan bisa berjalan hanya karena kamu merasa dia sangat rupawan. Tapi seiring berjalannya usia, segalanya tentu lebih rumit dari zaman dahulu kala. Mencari pasangan bukan lagi hal mudah hanya butuh waktu pedekate satu atau dua bulan.

Tenang saja. Banyak orang yang mengalami kesulitan mencari pasangan setelah usia masuk angka dua puluhan. Bukan karena stok manusia single yang menipis atau keberuntunganmu yang jauh berkurang, melainkan cara pandangmu terhadap kehidupan juga berubah. Itulah yang namanya pendewasaan.