Maraknya Mom Shaming, Ini Cara Bangun Pertahanan agar Ibu Bisa Lepas dari Bahayanya!

menghadapi mom shaming

“Anak masih bayi kok di tengkurepin? Nanti sesak napas lo.”

“Anakmu rambutnya kayak jagung, tubuhnya juga kurus, pasti kurang gizi.”

“Jangan foto bayi yang ditekuk-tekuk gitu, kasihan nanti patah tulang ih.”

Layaknya sebuah pisau tajam, kata-kata tersebut secara tidak langsung dapat merusak mental seorang ibu, terutama mereka yang baru saja mendapatkan peran ini.

Peran seorang ibu dalam perkembangan anak dinilai sangat penting, bahkan disebut-sebut sebagai sekolah pertama dalam kehidupan seorang anak. Pada masa kehamilan, beberapa ibu bahkan sudah mulai mencari tahu konsep pendidikan terbaik untuk anaknya baik melalui webinar atau seminar, media sosial, dan diskusi bersama orang yang berpengalaman.

Kemudian, ia akan mempertimbangkan dan memutuskan hal-hal yang diharapkan membawa dampak positif bagi perkembangan anaknya. Proses ini yang menjadi faktor utama pola pengasuhan anak dalam sebuah keluarga yang mungkin akan berbeda dengan keluarga yang lain.

Namun, hal ini kadang tidak dibarengi dengan dukungan dari sesama wanita yang sudah mendapatkan predikat sebagai ibu terlebih dahulu. Buktinya, tren mom shaming ramai muncul ke ruang publik saat seorang ibu membagikan proses belajar atau proses perkembangan anak melalui platform media sosial. Unggahan tersebut memancing beberapa komentar pro dan kontra dari publik.

Mom shaming dikenal sebagai tindakan mengritik pilihan seorang ibu dalam pengasuhan anak, tanpa mempertimbangkan atau mengetahui faktor-faktor di balik pilihan tersebut seperti peran ayah, pengasuh lain, faktor budaya, kondisi geografis, atau kondisi finansial. (Villines, 2017).

Munculnya tren mom shaming pada kalangan ibu menjadi sebuah halangan untuk membangun mental yang sehat.

Munculnya perasaan dan pemikiran “Aku bukan ibu yang baik”

Rendah diri/ Illustration by Hipwee

Dampak pertama yang muncul saat adanya mom shaming adalah perasaan dan pemikiran tidak pantas atau tidak berguna sebagai seorang ibu. Perasaan ini merupakan awal dari permasalahan mental yang mungkin akan bertambah parah nantinya. Hal ini akan lebih berbahaya lagi karena dapat mengakibatkan si ibu melampiaskan ke hal-hal yang merugikan dan bahkan membahayakan bayinya.

Misalnya, ibu memilih mengabaikan bayinya dan berhenti menyusui karena menurutnya apa yang dilakukannya selalu salah dan tidak ada gunanya bagi si bayi. Efek samping dari munculnya perasaan ini dapat menghambat pemulihan ibu pasca melahirkan dan menghambat pertumbuhan serta perkembangan anak.

Seorang ibu kehilangan kebebasan untuk bereksperimen dan berekspresi dalam mendidik anak

Ibu muda akan merasa tertekan atau bahkan terkekang dengan model pola asuh yang diterapkannya pada anak. Ia akan berhenti belajar dan mengalami ketakutan yang berlebihan saat mengasuh anak akibat mom shaming. Bahkan, ibu akan mulai menjauhi anak dan menganggap bahwa kehadiran sang anak sebagai pengacau kehidupan sang ibu. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka anak tidak akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu sebagaimana mestinya.

Ibu mengidap gangguan kecemasan

Akibat mom shaming yang diterima oleh seorang ibu dalam jangka waktu yang panjang, tidak menutup kemungkinan sang ibu mengidap gangguan kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental yang paling banyak terjadi adalah gangguan kecemasan. Walau terdengar sepele, gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang serius, ditandai dengan rasa khawatir, gugup, atau gelisah secara berlebihan.

Gangguan ini hadir sebagai akibat dari adanya pengalaman di masa lalu dan masalah hidup yang besar, termasuk mom shaming. Jika seorang ibu mengalami gangguan ini, tentunya akan berdampak buruk bagi ibu dan anak. Bukan tak mungkin, ibu sampai membutuhkan perawatan yang tepat dari ahli kejiwaan.

Mom shaming merupakan gerbang terjadinya baby blues syndrom

Kena baby blues syndorm/ Illustration by Hipwee

“Kamu itu belum jadi ibu sepenuhnya kalau melahirkan anak dengan operasi sesar.”

Ungkapan tersebut banyak terjadi sesaat setelah ibu melahirkan anak ke dunia. Gelar “ibu sepenuhnya” disebut-sebut hanya untuk ibu yang melahirkan anak melalui persalinan normal. Ungkapan ini hanya salah satu contoh dari berbagai perkataan yang dapat mengantarkan seorang ibu muda terkena baby blues syndrome.

Baby blues syndrom merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan seorang ibu mengalami kesedihan yang mendalam, kemarahan yang meledak-ledak, menangis tanpa alasan, hingga mengalami gangguan tidur.

Gangguan ini terjadi karena adanya perubahan hormon, kurang tidur, bahkan suasana di sekitar ibu muda yang kurang memberikan dukungan. Jika seorang ibu terkena gangguan ini dan dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, maka bisa membawa dampak buruk bagi kondisi fisik dan mental bukan hanya ibu, tapi juga anak.

Berkaca dari dampak buruk tersebut, maka dapat dikatakan bahwa mom shaming merupakan bentuk ketidaksetaraan antara perempuan dengan perempuan lainnya karena ibu lain memberikan standar tertentu. Padahal, pencapaian standar dari masing-masing ibu akan berbeda. Terdapat kondisi dan pertimbangan khusus dari setiap keluarga, terutama ibu, dalam menerapkan pola asuh di dalam keluarga.

Ibu muda perlu melakukan sesuatu untuk tetap menjaga keyakinan diri dan kewarasan dalam hal pengasuhan anak. Beberapa hal ini mungkin dapat berguna pagi seorang ibu muda.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini