Kendaraan sering dianggap sebagai penanda status kekayaan seseorang. Kalau mobilnya bagus dan mahal, pasti dianggap orang yang berada. Jadi, kalau kita ngomongin orang terkaya di dunia seperti Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, ataupun Jack Ma, mungkin mobil yang terbayang adalah Lamborghini, Ferrari, Bugatti, atau Porsche. Maklum, kekayaannya mungkin nggak akan habis untuk tujuh turunan gitu lho.

Tapi ternyata nggak begitu kok. Percaya atau nggak, banyak miliuner dunia yang ternyata mobilnya B aja. Ya walau mungkin mereka punya mobil koleksi mobil mewah lain yang disimpan, tetapi, untuk kesehariannya mereka sering tertangkap memakai mobil-mobil yang harganya biasa saja. Hmm, apa mungkin karena sudah terlalu kaya, ya, sampai nggak merasa perlu mengendarai sesuatu yang mahal untuk menunjukkan gengsinya?

1. Sebagai orang terkaya di dunia, Jeff Bezos bisa membeli Lambhorgini atau yang lebih mewah lagi. Tapi ia memilih Honda Accord keluaran tahun 2013 lalu

Jeff Bezos via www.theverge.com

Advertisement

Sebagai pendiri dari Amazon.com, Jeff Bezos merupakan orang terkaya di dunia saat ini. Total kekayaannya saat ini mencapai 108,9 milyar dollar Amerika. Pastinya bukan perkara sulit bila ia ingin membeli mobil paling mahal di dunia pun. Nyatanya, Jeff Berzos ini ternyata fanatik dengan merek Honda. Tepatnya saat ini, ia mengendarai Honda Accord keluaran tahun 2013 yang harganya 22,000 USD. Ketika ditanya kenapa setiap pakai mobil lama itu, jawabannya pun cukup sederhana: “Mobil ini sudah sempurna.”

2. Jack Ma yang orang terkaya di China, memilih mobil keluaran dalam negeri yang di-support oleh operating sistem perusahaannya

Nama Jack Ma tentu sudah menjadi semacam legenda di dunia bisnis. Sebagai founder Alibaba dan pemilik media South China Morning Post, Jack Ma memiliki total kekayaan senilai 40,3 miliar dollar Amerika dan menempati posisi orang terkaya di China. Dengan kekayaan tersebut, pastilah gampang bagi Jack Ma untuk membeli mobil-mobil produksi Eropa yang limited edition dan mewah. Tapi Jack Ma memilih mobil buatan dalam negeri bermerek Roewe RX5 SUV yang harganya sekitar 22.300 USD. Roewe RX5 ini adalah mobil SUV kelas menengah yang diproduksi oleh perusahaah mobil besar di China yang menggunakan sistem operasi berbasis Alibaba.

3. Kalau Mark Zuckerberg kira-kira mobilnya apa ya? Ternyata CEO Facebook ini cuma pakai mobil yang harganya nggak lebih dari 500 juta

Mark Zuckerberg via www.ilialive.gr

Kalau nggak nyentrik bukan Mark Zuckerberg namanya. Nggak cukup dengan rela drop out dari Harvard untuk mengembangkan Facebook, memilih kencan dengan sang istri (yang dulu masih pacarnya) ketimbang mengerjakan tugas kuliah, dan kini pilihan mobilnya pun cukup berbanding terbalik dengan kekayaannya. Untuk seorang CEO yang termasuk lima orang terkaya di dunia, Mark Zuckerberg memilih mobil Acura TSX yang harganya nggak sampai 500 juga. Padahal uang segitu, buatnya mungkin nggak seberapa, ya.

4. Mereka melihat fungsi, bukan gengsi. Lepas dari sikap konsumtif yang hanya memikirkan gaya, nggak heran kalau kemudian mereka bisa kaya raya

nggak konsumtif via unsplash.com

Advertisement

Dari beberapa alasan pilihan mobil miliuner di atas, agaknya poin fungsi yang ditekankan. Kalau memang mobil yang dipilih sudah mencukupi dan nyaman dipakai, kenapa harus berganti dengan merek lain yang lebih mahal meski bergengsi? Bandingkan dengan gaya hidup kita selama ini. Nggak semua, tapi masih banyak yang terpaku pada glamournya merek yang menawarkan gengsi, daripada memikirkan fungsi. Kita memilih merek-merek luar negeri yang mahal dibandingkan produk-produk lokal yang kualitasnya setara. Kalau dilihat dari sini, jadi masuk akal, ya, kenapa mereka bisa kaya raya?

5. Apa kabar kita yang mudah tergiur dengan angka-angka diskon dan berakhir membeli barang-barang yang tak perlu?

tergoda diskon (Photo by Artem Beliaikin) via www.pexels.com

Harus diakui, di era serba digital dan belanja tinggal klik-klik saja ini membawa dampak yang lumayan signifikan. Sambil tiduran, kita bisa melihat barang-barang menggiurkan di aplikasi, promo-promo bertebadan, dan diskon up to sekian persen yang langsung bikin hasrat belanja menggelora. Padahal kalau dipikir-pikir, kita nggak terlalu butuh juga. Tapi dengan semangat “mumpung promo”, atau “mumpung diskon”, bisa juga “sayang kalau nggak dibeli”, kita jadi mengeluarkan uang yang seharusnya nggak perlu. Kalau sudah begini, gimana mau cepat kaya ya?

6. Penghasilan yang meningkat membuat kita merasa kebutuhan juga meningkat. Padahal kalau diikuti nggak ada habisnya

pengeluaran meningkat seiring meningkatnya penghasilan (Photo by Adrienn) via www.pexels.com

Dulu ketika gaji masih sebatas UMR, makan di warung nasi dengan lauk tahu dan tempe sesekali telur ceplok sudah cukup. Baju pun cukup beli yang harga 50 ribuan. Tapi ketika gaji meningkat, standar makan pun meningkat. Beli baju pun sekarang memilih yang harganya lebih mahal. Lalu kita mengeluh kebutuhan semakin mahal, padahal mungkin “keinginan” kitalah yang semakin mahal. Kalau hal-hal seperti ini dituruti nggak akan ada habisnya. Berapa pun penghasilan yang dimiliki nggak akan cukup juga.

Jeff Bezos pernah menjawab “Itu adalah simbol dari menghabiskan uang untuk hal-hal yang penting bagi pelanggan dan tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu” ketika ditanya kenapa kantor Amazon.com terlihat terlalu sederhana dibandingkan nilai perusahaan tersebut. Jadi dari hal ini kita bisa mengambil satu poin penting. Jika ingin cepat kaya, mungkin kita bisa mulai dari sini: berhenti mengedepankan gengsi dan beralih menomorsatukan fungsi, dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya