Usia dua puluh lima yang istilah lainnya ‘seperempat abad’, memang membawa kesan sendiri bagi kamu. Saat kamu memasuki usia ini, mungkin teman-temanmu sudah banyak yang menggandeng suami atau menggendong anak. Mereka yang belum menikah sudah siap menyebar undangan. Atau setidaknya, teman-temanmu sudah punya pasangan yang siap dipamerkan untuk menghindari berbagai pertanyaan mengganggu.

Tapi banyak juga yang sampai usia 25 belum punya pasangan. Ke mana-mana sendirian. Ke kondangan ngajaknya adik atau teman. Kamu sih nyaman-nyaman aja hidup sendirian. Tapi statusmu yang masih jomblo-jomblo aja meski udah 25 itu bikin lingkunganmu nggak tahan. Bahkan di daerah-daerah tertentu, terutama perempuan, 25 adalah usia yang rawan. Kalau nggak segera punya pasangan, kamu akan dicap perawan tua. Duh, syedih deh.

1. Kata orang, salah satu tanda kedewasaan adalah keinginan untuk membina keluarga. Bingung juga sih, masalahnya sampai umur 25 ini kamu belum juga punya pasangan

"seperempat abad!"

“seperempat abad!” via koreanindo.net

Advertisement

Kata orang, saat kamu sudah bersiap untuk membina rumah tangga, itu tandanya kamu sudah dewasa sepenuhnya. Nggak heran kalau deadline nikah akan dialami semua orang saat memasuki usia pertengahan 20an. Apalagi kalau kamu sudah selesai kuliah dan punya pekerjaan yang sip. Apalagi yang kamu cari jika bukan calon pendamping hidupmu kelak? Nggak salah memang orang mengatakan demikian. Toh banyak juga teman-teman yang memang memulai rumah tangga di pertengahan 20an. Tapi masalahnya adalah, sampai usiamu sudah 25 ini, pasangan saja kamu belum punya. Teman lawan jenismu banyak sih, tapi ya gitu, semuanya teman biasa. Kalau ditanya orang rumah atau sabahat lama, kamu bingung mau jawab apa.

2. Di saat teman-temanmu banyak yang sudah pamer cincin atau bayi, kamu pamer makanan atau tempat traveling aja di media sosial

post cincin kawin jelas nggak mungkin. Yaudah post makanan aja

post cincin kawin jelas nggak mungkin. Yaudah post makanan aja via malesbanget.com

Isi timeline media sosialmu pun mengalami perubahan. Lima tahun lalu, isinya masih soal kehidupan kampus, foto nongkrong bareng teman, atau cerianya malam mingguan ramai-ramai. Sekarang kalau bukan foto bayi, isi timeline media sosialmu ya soal undangan nikah atau cincin kawin. Di saat teman-temanmu berlomba memamerkan kebahagiaan keluarga kecilnya atau calon keluarga kecilnya, kamu malah sibuk pamer makanan atau tempat traveling. Ketahuan banget jomblonya. Tapi kamu sih selow aja. Toh kalau punya pacar, kamu juga nggak akan upload foto kemesraan tiap sejam sekali.

3. Bukannya berkecil hati, tapi bosan juga rasanya mendapat komentar-komentar yang sama. Sudah umur segini, kok belum punya pasangan juga?

Bosan juga sih lama-lama...

Bosan juga sih lama-lama… via imgur.com

Mungkin sebenarnya banyak juga yang melihat hidupmu ngenes. Karir oke, prestasi oke, penghasilan pun udah lebih dari cukup. Tapi sayang, semuanya dilalui sendirian. Nggak ada orang spesial untuk menemani melewati momen spesial. Nggak jarang juga kamu ditanya:

Advertisement

Kamu nggak pengin kayak si Ina? Atau Tisa? Atau Rahma?

Kamu nggak kesepian ya? Kalau malam nggak ada yang nemenin SMS-an?

Saking jengahnya, akhirnya kamu cuma bisa senyum aja. Kalau ditanya, sebenarnya kamu nggak pernah merasa terganggu meski kamu masih sendiri sementara teman-temanmu sudah meniti lembaran baru. Kecil hati sih nggak, tapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyiksamu. Sudah umur segini kok belum punya pasangan?

Aaakkk… kalau nanyain yang lain aja bisa nggak?

4. Keinginan untuk punya pasangan sesekali ada. Tetapi selalu tenggelam sebelum kamu sempat mewujudkannya

kalau lihat mereka, jadi pengin punya pasangan juga....

kalau lihat mereka, jadi pengin punya pasangan juga…. via gogurt.tumblr.com

Ada kalanya kamu juga ingin mempunya pasangan dan belajar bersama untuk menuju ke arah yang lebih serius. Biasanya, rasa-rasa ini muncul saat kamu nonton film romantis, atau kamu sedang menyaksikan adegan romantic live, seperti sepasang kakek-nenek menempuh perjalanan berdua untuk menjenguk cucunya naik kendaraan umum. Kalau melihat mereka, rasanya kamu pun ingin begitu. Menua bersama-sama orang tercinta.

Tapi keinginan untuk punya pasangan itu seringnya tenggelam bahkan sebelum kamu mewujudkannya. Selain kamu sibuk memikirkan hal lain, kadang kamu melihat rupa-rupa tingkah orang kasmaran, yang melihatnya membuatmu enggan punya pasangan sekarang.

5. Seringnya banyak hal lain yang harus kamu pikirkan. Soal pacar malah nggak kepikiran

banyak hal lain yang kamu pikirkan

banyak hal lain yang kamu pikirkan via www.tumblr.com

Di dunia ini memang banyak sekali yang kamu pikirkan. Mulai soal pekerjaan, kesehatan orang tua, sampai curhatan sahabat tentang rumah tangganya. Kamu juga sibuk mengembangkan diri dengan melakukan berbagai jenis kegiatan. Meski pekerjaanmu sudah lebih dari layak, kamu masih punya banyak mimpi yang belum kamu capai.

Terlalu banyak yang kamu pikirkan dan ingin kamu capai. Soal pasangan, seringnya kamu malah nggak kepikiran. Nggak apa-apa. Preferensi orang memang berbeda-beda. Kamu masih sendiri bukan karena apa-apa, tapi karena pasangan memang bukan prioritasmu saja.

6. Kamu juga berpikir, toh meski sendiri, kamu tetap bisa berkembang. Meski sering sendirian, toh kamu juga tidak pernah kesepian.

mandiri, ke mana-mana sendiri

mandiri, ke mana-mana sendiri via keluarga.com

Memang basi saat kamu beralasan bahwa kamu single, bukana jomblo. Artinya kesendirianmu adalah pilihan, bukan keadaan. Dunia hanya akan menertawakan alasanmu yang sekarang sudaha nggak keren lagi. Tapi sebenarnya kamupun tak peduli. Toh mereka juga tidak tahu bagaimana hidupmu sehari-hari. Meskipun kamu sendiri, kamu tidak kalah bahagia dengan mereka yang telah berdua. Kamu tetap bisa berkembang meski ke mana-mana sendirian. Malah kamu bisa menjadi sosok yang mandiri. Dan jika ditanya soal kesepian? Kamu nggak pernah tuh merasakan. Ya gimana, malam-malammu selalu ramai dengan celotehan teman, atau segudang kegiatan yang bisa kamu lakukan.

7. Bukannya mau sendiri terus selamanya, tapi memang sekarang belum dapat saja

sekarang memilih sendiri, bukan berarti mau sendiri selamanya

sekarang memilih sendiri, bukan berarti mau sendiri selamanya via www.wookmark.com

Meski awalnya selow saja menanggapi pertanyaan orang yang nggak ada habisnya itu, tapi lama-lama bosan juga. Kesal juga. Dalam hati kamu bertanya-tanya, kenapa orang lain justru lebih perhatian terhadap statusmu ketimbang kamu sendiri? Bukannya kamu mau sendiri selamanya. Bukannya kamu memang nggak mau merepotkan diri dengan punya pasangan. Hanya saja kamu nggak mau mencari orang sembarangan untuk menjadi pasanganmu. Bukan berarti kriteriamu sosok yang super sempurna nyaris setengah dewa, bukan. Yang kamu cari adalah sosok yang pas dan terasa klik di hati. Kalau sekarang belum ada, ya nggak apa-apa.

8. Saat ini, kamu memilih untuk mengembangkan diri. Soal cinta dan hubungan, akan ada saatnya sendiri nanti

saat ini, fokus dulu mengembangkan diri

saat ini, fokus dulu mengembangkan diri via 8tracks.tumblr.com

Sambil menunggu sosok yang tepat dan saat yang tepat, kamu memilih untuk mengembangkan dirimu dahulu. Kamu memilih untuk mengejar mimpi-mimpimu dahulu. Selagi masih muda, kamu ingin membuat pencapaian-pencapaian sesempurna mungkin. Mungkin setelah kamu melalui itu semua dan sudah lebih dewasa lagi, soal cinta dan hubungan akan masuk dalam pertimbanganmu. Semua ada waktunya sendiri-sendiri.

9. Toh jika kamu sudah bertemu orang yang tepat dan saatnya sudah tepat, kamu akan menyadarinya

nanti juga ada saatnya begini

nanti juga ada saatnya begini via www.sofeminine.co.uk

Karena itu semua, kamu memutuskan untuk tetap santai menghadapi semuanya. Nggak perlu baper, atau jadi ngoyo pengin punya pasangan. Semuanya kan ada prosesnya. Ada waktunya sendiri-sendiri. Nggak perlu mempertanyakan kemauan diri sendiri. Toh suatu saat nanti, jika sosok yang tepat datang di waktu yang tepat, kamu juga tidak bisa menolaknya.

Nggak perlu khawatir berlebihan ketika memasuki usia seperempat abad. Kalau sampai sekarang kamu belum punya pasangan, ya nggak apa-apa. Toh preferensi orang berbeda-beda. Barangkali, giliranmu memang belum tiba 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya