Di awal dua puluhan, kamu masih sangat santai. Hubungan serius dan pernikahan bukan termasuk wishlist bouquet-mu. Begitu juga ketika usiamu mendekati seperempat abad. Kamu masih tidak terburu-buru, karena selain kamu masih sibuk mengejar cita-cita, kamu juga merasa belum siap untuk mengarungi sebuah rumah tangga. Kini, masa itu sudah cukup lama berlalu. Tahun demi tahun berganti, dan kamu hampir meninggalkan usia 20-an.

Orang bilang kamu terlambat menikah. Jujur saja, kamu mulai mengkhawatirkan hal itu. Belum lagi suara-suara mendengung di sekitarmu, membuatmu merasa risih. Sebab, orang mulai berlomba-lomba memberimu nasihat ini dan itu, seolah perubahan statusmu adalah tanggung jawab mereka semua. Saat resah itu semakin mengganggu, ingatlah beberapa hal ini. Agar kamu kembali mengerti bahwa menikah memang tak perlu terburu-buru.

1. Pernikahan itu bukan lomba. Tak ada yang salah bila temanmu sudah siap sedang kamu bahkan belum menginginkannya

Pernikahan bukan lomba (Image by Sendy Wulandhary) via pixabay.com

Advertisement

Selama ini kamu mungkin sering mendengar komentar: umurmu sudah banyak, belum pengen nikah? Seolah-olah pernikahan hanyalah perkara usia. Kalau sudah sekian tahu dan kamu belum menikah, berarti kamu terlambat. Padahal siap atau belumnya untuk menikah bukan hanya soal umur. Bukan hal yang aneh kalau temanmu sudah siap menikah sejak usia 22 tahun, dan kamu merasa belum siap meski sudah 30 tahun. Kamu tetap manusia normal–lagipula, apa sih definisi normal? Jangan lupa bahwa setiap orang memiliki standar kesiapan yang berbeda, dan waktu yang berbeda pula untuk mencapainya.

2. Foto-foto pasangan muda di Instagram itu memang terlihat indah. Namun, itu bukan jaminan bahwa mereka sebahagia yang kamu bayangkan

potret keluarga bahagia belum tentu lebih bahagia dari kamu (Photo by Emma Bauso)

Banyak yang bilang Instagram itu media sosial yang paling bikin insecure orang. Pasalnya, kita mudah tergiur dengan foto-foto indah yang “mengumbar” kebahagiaan. Salah satunya adalah foto-foto couple dengan anak bayi mungil yang menggemaskan. Lantas kamu pun semakin resah, sebab foto-foto itu membuatmu merasa ada bolong besar dari hidupmu, karena kamu belum punya foto seperti itu.

Tapi kamu lupa bahwa foto bisa menyembunyikan banyak hal. Dia yang terlihat bahagia di foto itu belum tentu lebih bahagia dari hidupmu yang sekarang. Karena di balik foto sebuah keluarga kecil yang bahagia, ada banyak persoalan, mulai dari begadang mengurus anak yang jadi rutinitas harian, persoalan finansial agar dapur rumah tangga tetap berasap, sampai pertengkaran-pertengkaran kecil karena punya pendapat yang berbeda. Tidak semua hal seindah kelihatannya kok.

3. Status lajang memberimu kelonggaran untuk mengejar mimpi dulu. Belum tentu kamu bisa melakukannya jika sudah ada dalam ikatan rumah tangga

punya waktu mengejar mimpi (Photo by Just Name)

Advertisement

Sekarang mungkin kamu memandang status lajangmu sebagai beban yang tak patut disyukuri dan mesti cepat-cepat diganti. Padahal kalau mau berfikir lebih positif, kamu bisa mendapat manfaat juga dengan statusmu ini. Menjadi lajang, membuat tanggung jawabmu belum terlalu besar, karena tanggunganmu hanya diri sendiri (dan mungkin orangtua atau saudara). Karenanya, kamu punya kelonggaran untuk mengejar cita-citamu terlebih dahulu.

Sedang nanti ketika sudah berumah tangga, mungkin kamu sudah terlalu repot memikirkan bagaimana keluarga bisa tetap makan, cara menjalin hubungan baik dengan mertua, sampai biaya pendidikan anak-anak yang semakin mahal saja. Mumpung sekarang masih sendiri, kejar saja semua mimpi-mimpi. Supaya kelak ketika sudah berkeluarga, nggak perlu ada mimpi yang belum terpenuhi dan jadi ganjalan di hati.

4. Kamu punya banyak lebih banyak waktu untuk merawat orangtua. Sebelum nanti sibuk dengan mengurus keluarga

punya lebih banyak waktu dengan orangtua (Photo by jcomp) via www.freepik.com

Orangtuamu tidak akan ada selamanya. Semakin bertambahnya usiamu, semakin bertambah pula usia mereka, dan barangkali, semakin menurun pula fungsi-fungsi fisiknya. Statusmu yang masih sendiri dengan tanggung jawab yang hanya dirimu sendiri, memberimu kesempatan untuk lebih lama bersama orangtua dan fokus merawat mereka. Jika kamu sudah berkeluarga, apalagi sudah memiliki anak nanti, tentunya ada yang berbeda, meskipun kamu tetap bisa merawat orangtua. Bukankah, hal-hal seperti ini perlu disyukuri juga?

5. Meski belum bisa berkeluarga, bukan berarti hidupmu tak bermakna. Jangan lupakan hal-hal baik yang sudah kamu terima

banyak hal baik yang kamu dapatkan (Photo by Ryan Moreno) via unsplash.com

Memang sebuah fakta yang menyedihkan, bahwa kita hidup di masyarakat yang menjadikan pernikahan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Terutama bila kamu perempuan. Sekeren apa pun prestasi yang kamu punya, sestabil apa pun finansialmu saat ini, kamu dianggap belum bahagia kalau belum berkeluarga.

Well, biarlah orang berpikir seperti itu, tapi jangan dirimu. Ingatlah, bahwa meskipun belum menemukan jodoh, kamu sudah berhasil meraih banyak hal baik lainnya. Kamu bisa menggapai banyak prestasi dengan usaha yang mati-matian. Jangan kecilkan itu hanya karena status asmaramu belum berkembang. Toh, semua memang akan ada waktunya masing-masing.

6. Tuhan menunda mempertemukanmu dengan jodoh, sebab ia tengah mempersiapkan sosok yang tepat

Tuhan sedang mempersiapkan kalian (Photo by JR Korpa) via unsplash.com

Kadang kamu juga iri dengan kisah cinta orang lain yang terlihat “mudah”. Kok rasanya mereka gampang banget ketemu jodoh, ya? Sementara kamu sudah berkenalan dengan banyak orang, mengunjungi banyak tempat, tapi jodoh yang katanya dijanjikan itu belum terlihat. Wajar bila hal ini cukup membuatmu nyesek, dan bertanya: apa yang salah?

Tetapi, pernahkah kamu berpikir bahwa Tuhan sengaja menunda atau menyimpan sebuah kisah cinta yang terbaik untukmu? Saat ini, Tuhan sedang menempa si dia dengan berbagai ujian dan tanggung jawab, agar bisa menemuimu dengan kondisi yang lebih kuat. Sementara, Tuhan juga menempamu dengan ujian kesabaran dalam penantian sehingga kamu bisa menemuinya dengan kondisi diri yang lebih dewasa. Bukankah itu sebuah skenario yang indah?

Saat resah semakin menyelimuti hati, dan kamu mulai bertanya-tanya, kenapa kamu belum juga diberi rezeki berupa jodoh dan pernikahan, ingatlah satu hal ini: matahari punya waktu sendiri untuk terbit dan menyinari bumi, karenanya, sia-sia memaksa untuk menunggunya terbit di jam dua dini hari. Jangan khawatir, sembari menunggu kesempatan itu tiba, kamu masih bisa melakukan hal-hal positif lainnya.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya