Sabar, tahan. Tiga tahun lagi, tiga tahun lagi!

Awal berada di perantauan, hampir setiap hari kamu dibuat mengurut dada. Ada saja hal-hal yang buatmu merasa nggak nyaman. Keinginan untuk segera menyelesaikan kewajiban lalu cabut pulang ke kampung halaman terus tertanam di kepala. Apalagi di perantauan ini kamu benar-benar sendiri. Nggak ada masakan ibu yang siap tersaji tiap pagi. Nggak ada bapak yang membantumu memanasi motor tiap akan berangkat sekolah. Dan yang paling terasa, nggak ada orang rumah yang menyambutmu tiap pulang malam.

Advertisement

Perantauan benar-benar kamu labeli sebagai tempat terkejam di bumi. Udah tahu kamu di sini seorang diri, tapi masih saja dipersulit bahkan pada hal-hal remeh sekalipun. Seperti udah antri kereta tapi masih aja diserobot, hingga jadwalmu keteteran sendiri. Ingin berteduh di pinggiran toko saat hujan, ada aja mobil atau motor yang sengaja lewat dan buatmu kebasahan.

Label kejam yang kamu berikan pada perantauan pun pelan-pelan tanggal. Perantauan ini pun menjadi saksi bisumu dalam berbagai hal. Salah satunya dalam mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu.

1. Sebelum merantau kamu kerap menyepelekan duit kembalian. Sekarang duit seribuan pun dengan hati-hati disimpan

Duh, kurang seribu. Nggak jadi cepek deh 🙁 via unsplash.com

Kembaliannya ambil aja, bang.

Advertisement

Saat masih ikut orangtua dulu, kamu seakan acuh pada receh-receh yang ada di saku. Bagimu alah cuma seribu doang. Buat jajan permen aja nggak dapet. Tapi begitu kamu berada di perantauan, recehan yang dulu kamu sepelekan ini menjadi berharga sekali. Bahkan di akhir bulan kamu menjadi bergantung pada sisa-sisa recehan yang tertinggal di saku celana. Cara pandangmu terhadap recehan ini berubah begitu bertahun-tahun hidup di perantauan. Apalagi kalau kamu udah merasakan gimana rasanya cari duit sendiri di sini.

2. Dulu kamu merasa rumah hanya sebuah tempat untuk tidur dan berteduh, tapi setelah merantau rumah adalah sebaik-baiknya tempat berpulang dari segala peluh

Rumah dan segala kehangatan di dalamnya via unsplash.com

Bangun, sekolah, pulang, tidur. Lalu pencet tombol ulang untuk hari-hari ke depannya. Dulu makna rumah hanya seperti itu bagimu. Tapi setelah terdampar di perantauan ini, rumah tak lagi punya makna sederhana. Bagimu rumah adalah tempat berpulang terbaik yang pernah ada. Tempatmu meringankan segala peluh setelah berlelah-lelah mencari sumber hidup.

3. Hidup jauh dari keluarga memaksamu untuk belajar dari mana saja. Mematahkan anggapanmu dulu bahwa belajar hanya bisa dilakukan di sekolah saja

Belajar dari segala hal via unsplash.com

Sebelum merantau, yang kamu tahu serba itu-itu aja. Belajar ya hanya di sekolah saja. Selepas sekolah harus digunakan untuk main-main sampai puas. Begitu sudah merantau, cara pandangmu tentang belajar berubah total. Kamu pelan-pelan belajar dari hal-hal di luar bangku kuliah. Seperti belajar kesabaran dari menghadapi petugas akademik yang buatmu frustasi atau yang lebih sederhana belajar mengatur keuangan dari minimnya pemasukan.

4. Teman tak hanya sebagai partner bersenang-senang. Di perantauan kamu bisa menemukan makna baru dari sebuah pertemanan

Tahu makna teman yang lebih dalam via unsplash.com

Saat masih tinggal di kampung halaman, kamu menganggap teman adalah partner bersenang-senang. Kalau ada masalah ya disimpan sendiri aja atau paling banter dibagi sama keluarga. Tapi begitu kamu masuk ke dunia perantauan, semua berubah. Di sini, teman punya makna yang lebih dari senang-senang semata. Teman ya keluarga. Teman ya tempat menumpahkan gundah gulana. Dan teman adalah penopang saat kamu mulai goyah tanpa ingin merepotkan keluarga di rumah.

5. Kamu semakin yakin bahwa zona nyaman baiknya tak terus ditinggali. Awal duniamu baru dimulai di tanah rantau ini

Zona nyaman tak perlu lama-lama dinikmati via unsplash.com

Mau makan, tinggal buka tudung saji. Curhat nggak punya duit, tinggal minta bapak atau ibu. Kalau ada masalah, ya cerita ke keluarga. Pasti dibantu sampai semua selesai. Zona nyaman seperti itulah yang buatmu berat saat harus pergi ke perantauan. Tapi begitu merasakan perantauan beberapa waktu, kamu menjadi punya pandangan yang berbeda. Zona nyaman yang dulunya susah buatmu untuk angkat kaki dari rumah justru buatmu tak pernah berbenah. Di sini, di tanah rantau ini, kamu pelan-pelan paham. Bahwa zona nyaman memang tak baik ditinggali lama-lama. Sebab kamu telah merasakan, bahwa ada ribuan hal seru dan menantang yang telah menantimu di luar sana.

6. Di perantauan ini kamu jadi paham, bahwa masih ada kebahagiaan yang bisa dirasakan tanpa perlu mengeluarkan uang

Bahagia yang ini bisa tahan berhari-hari via unsplash.com

Bu, minta uang. Mau main sama teman. Stres ini bu, butuh senang-senang~

Ingat nggak bagaimana tingkahmu dulu? Tiap malam minggu minta tambahan uang saku untuk pergi ­ngemall atau nonton sama temanmu. Alasannya untuk senang-senang setelah satu minggu berjibaku dengan pelajaran di sekolah. Parameter kebahagiaanmu dulu selalu dihubungkan dengan materi. Tapi saat udah merantau, tidak lagi. Di perantauan standar senang dan bahagiamu lebih sederhana lagi. Lihat teman traktir makan di tanggal tua atau ikut bakti sosial di panti asuhan pun sudah bisa membuatmu merasa bahagia dan tertawa.

7. Tiap melihat foto ayah dan ibu kamu tak hanya merasa rindu. Ada kemauan besar ingin membalas kebaikan mereka meski tak sepenuhnya bisa

Foto bersama bapak waktu kecil via unsplash.com

Awal merantau dulu, tiap lihat foto bapak dan ibu bawaannya ingin nangis melulu. Adek kangen rumah, Bu. Adek ingin pulang adalah rengekan wajib tiap ibu menghubungimu. Tapi setelah beberapa tahun menempa diri di perantauan, kamu punya rasa nyess sendiri saat melihat foto bapak dan ibu. Bukan lagi rindu yang menggebu, tapi justru keinginan untuk membahagiakan mereka yang semakin terpacu. Rasa rindu itu terkalahkan dengan besarnya ingin membalas setiap kebaikan mereka, meskipun kamu sadar tak sepenuhnya bisa dilakukan.

Pak, Bu, saya rindu. Tapi yang lebih penting saya mau bapak dan ibu bahagia dulu.

Jakarta, Bandung, Jogja, bahkan kota-kota lain di seluruh penjuru Indonesia, menjadi saksi bisu perjalananmu. Dari kamu yang menganggap perantauan itu pelik dan kerjam, jadi kamu yang punya pandangan bahwa perantauan itu sebaik-baiknya tempat untuk menempa fisik dan mental. Selamat berjuang di perantauan untukmu yang masih punya kewajiban. Selamat purna tugas untukmu yang sudah kembali ke kampung halaman.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya