Kemenangan tak pernah didapat secara cuma-cuma. Ada perjuangan sampai berpeluh-peluh. Ada doa yang selalu dipanjatkan tak henti-hentinya. Bahkan sampai ada air mata ketika usaha yang dilakukan tak memuaskan. Meski untuk menggapai semua itu rasanya berat sekali, tapi kemenangan juga tak pernah ingkar janji. Ia akan memberikan rasa bangga dan puas karena diri telah maksimal berusaha. Kemenangan juga kelak membuat semangat seseorang untuk berjuang lebih menyala lagi.

Menang dalam hal ini tidak hanya sekadar mengikuti kejuaraan. Tapi juga menang atas diri sendiri, menang atas keadaan, dan masih banyak lagi. Soal meraih kemenangan ini kamu bisa mencontoh perjuangan para atlet kebanggaan bangsa berikut ini. Meski harus jatuh bangun dan tak banyak diketahui orang, nyatanya proses tak pernah berkhianat. Mereka berhasil mendapatkan medali dan mengalahkan ketidakmungkinan yang dulu menghalangi.

1. Belum lama dielu-elukan karena telah menjadi juara dunia, perjuangan Zohri patut direnungi. Mulai dari tinggal di rumah bobrok hingga tak mampu beli sepatu

Keterbatasan tak menghalangi pemuda Lombok satu ini via news.detik.com

Advertisement

Kalau melihat rumahnya di Lombok sana, kamu mungkin tak akan percaya kalau yang tinggal di dalamnya adalah seorang juara dunia. Rumah kayu yang terlihat tidak cukup layak ditinggali ini merupakan awal mula dari Lalu Muhammad Zohri, pemuda yatim piatu untuk melawan keadaan. Meski dulu sempat tak mampu membeli sepasang sepatu, kini ia telah menjelma menjadi pemuda yang dipuja. Apalagi kalau bukan karena bakat di cabang olahraga atletiknya hingga membuatnya jadi juara dunia.

2. Fauzan, atlet karate satu ini harus bekerja di toko retail ketika tak berlaga. Terakhir ketika berlaga, ia terpaksa harus makan mie instan sebagai pengganti nasi

Ia juara dunia tapi masih harus banting tulang demi keluarga via jejakrekam.com

Atlet yang turut mengharumkan nama bangsa harusnya diberi tunjangan agar hidup mereka lebih sejahtera. Namun cowok yang satu ini berbeda. Meski telah menjadi juara dunia melalui WASO World Championship 2018, Fauzan tetap bekerja di sebuah toko retail untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tak berhenti sampai disitu, kesederhanaan Fauzan juga membuatnya tak rewel ketika harus mengonsumsi mie instan kala bertanding di Ceko sana. Baginya yang penting perut terisi untuk tenaga saat bertanding nanti.

3. Sempat menjadi penggembala kambing tak mematahkan Eko Yuli untuk menjadi atlet. Kini ia salah satu harapan bangsa di cabang olahraga angkat besi

Siapa sangka dulunya ia penggembala kambing? via assets.rappler.com

Menjalani masa anak-anak dalam keterbatasan tak membuat seorang Eko Yuli patah semangat. Meski sempat menjalani hidup sebagai penggembala kambing, ia membuktikan kalau selalu ada jalan ketika memiliki tekat bulat. Kini berkat usaha gigih dan kesungguhan, si penggembala kambing ini menjelma menjadi seorang atlet yang mengharumkan nama bangsa.

4. Sempat dilarang sang ibu berhijab karena takut prestasinya menurun, Diananda Choirunnisa justru membuktikan bahwa hijab dan olahraga bisa berjalan bersama

Hijab tak menghalangi siapapun dalam berkarya via awsimages.detik.net.id

Advertisement

Awalnya orangtua Diananda Choirunnisa melarang keinginannya untuk berhijab. Mereka khawatir prestasinya menurun karena keinginannya satu ini. Namun Nanda tak mau kalah, kekhawatiran orangtuanya ia jadikan cambuk untuk meraih gelar juara. Sekarang ia menjadi salah satu atlet berhijab dan satu-satunya atlet panahan bangsa yang berhijab dan namanya terukir sampai ke dunia Internasional.

5. Awalnya Aspar Jaelolo hanya membantu tim panjat tebing di Ibukota. Berkat kegigihannya, kini ia mampu menjuarai berbagai kejuaraan dunia

Dulu hanya bantu-bantu, sekarang pretasinya udah mendunia via www.youtube.com

Berasal jauh dari hiruk pikuk ibukota tak membuat pemuda satu ini rendah diri. Berbekal pengalaman menjadi anggota pecinta alam kampus di kampung halamannya sana, ia mengadu peruntungan di ibukota. Awalnya Aspar Jaelolo hanya seseorang yang membantu tim panjat tebing di sana, tapi berkat kegigihannya dan keuletan, ia mampu mencatatkan namanya di sejarah cabang olahraga panjat tebing tingkat dunia.

6. Berbekal rasa iri, Siman Sudartawa belajar berenang agar sama seperti teman-temannya, tapi kini ia justru menjadi perenang Indonesia berbakat

Iri yang di-tweak jadi cambuk diri via thedailynewnation.com

Saat kecil dulu Siman Sudartawa merasa iri karena dirinya tak bisa berenang sendiri di antara teman-temannya. Rasa iri tersebut membuatnya belajar dan terus berlatih berenang. Coba bayangkan kalau dulu rasa irinya tak diubah menjadi semangat? Mungkin ia tak akan pernah menjadi perenang Indonesia pertama yang masuk babak 16 besar Kejuaraan Dunia Renang FINA di Budapest, Hungaria tahun 2017.

7. Memiliki riwayat penyakit asma dan ditentang keluarga tak membuat Hendro Yap berhenti berlatih. Dan kini ia membuktikan bahwa menjadi atlet adalah pilihan yang tepat

Riwayat asma tak buat redup mimpinya via asset.kompas.com

Keinginannya untuk menjadi seorang atlet sejak kecil selalu mendapat tentangan dari kedua orangtua. Selain itu, dengan riwayat penyakit asma, rasanya tidak mungkin seorang Hendro Yap bisa mewujudkan impiannya. Namun takdir berkata lain. Berkat kemauan kuat, nyatanya sekarang ia telah menjadi salah satu atlet lari cepat kebanggaan Indonesia.

8. Berawal dari keinginan untuk membela kaum hawa yang sering ditindas, Wewey Wita, akhirnya menjadi atlet pencak silat Indonesia di tingkat dunia

Niat tulus nyatanya membawa pada kebaikan via awsimages.detik.net.id

Awalnya Wewey Wita belajar pencak silat untuk perlindungan diri. Namun melihat banyaknya kasus terhadap kekerasan pada kaum hawa, ia berniat lebih serius lagi mendalami olahraga yang satu ini. Hidup memang selalu penuh kejutan. Berawal dari ingin melindungi diri lalu membela sesama cewek agar tak ditindas, mengantarnya menjadi juara dunia di cabang olahraga pencaksilat. Bukti bahwa kerja keras dan niat tulus tak akan menghasilkan sesuatu yang merugikan.

9. Di cabang olahraga bulutangkis, ada Apriyani Rahayu. Dulu ia harus menumpang kendaraan yang lewat di jalan untuk menuju tempat latihan

Sempat berlari berkilo-kilometer saat tak ada tumpangan menuju lokasi latihan via statik.tempo.co

Di balik nama cabang olahraga bulutangkis yang kian melambung, ada seorang Apriyani Rahayu. Atlet satu ini meski tak seterkenal atlet yang lainnya, tapi kisah hidupnya buatmu merasa malu kalau menjalani hidup dengan tak bersyukur. Sebelum menjadi atlet nasional seperti sekarang, tandem dari Greysia Polii ini sempat harus menumpang kendaraan yang lewat untuk menuju tempat latihan. Kalau tidak, terpaksanya ia harus berlari menempuh jarak berkilo-kilometer demi mewujudkan mimpinya.

Mereka, para atlet ini adalah anak-anak muda yang punya semangat dua kali lebih besar, tekat dua kali lebih bulat dan usaha yang dua kali lebih giat. Kalau mereka sanggup menang dalam melawan diri sendiri dan segala ketidakkemungkinan dalam hidup, kita semua harusnya juga bisa. Selamat menyambut Asian Games 2018! Selamat berjuang untuk segala kemenangan yang ingin kita dapatkan!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya