“Jangan terlambat ya, hargai waktu satu sama lain pokoknya.”

Eh, tapi tahukah kamu bahwa terlambat tak selalu berarti tidak menghargai? Penelitian dari San Diego State University menunjukkan bahwa orang yang sering terlambat ternyata cenderung lebih optimis menjalani kehidupannya daripada manusia rata-rata.

Advertisement

Maksud ‘terlambat’ di sini adalah terlambat yang jadi kebiasaan, ya. Bukan tipe terlambat karena jalanan macet, atau pagi-pagi disuruh antar adik ke sekolah dulu, atau telat bangun tidur. Orang yang sudah punya kebiasaan terlambat, entah kenapa, selalu berusaha tepat waktu tapi jadinya ya terlambat juga. Nah, sifat optimis seperti apa sih yang ternyata mereka punya?

1. Banyak yang gagal tepat waktu karena ingin menyempurnakan segala sesuatu. Mereka optimis bahwa semua hal bisa diusahakan supaya kualitasnya maksimal

Terlambat

Terlambat via www.critique-film.fr

Deadline tugas dan pekerjaan memang mematikan. Tapi, ada saja orang-orang yang sering mengerjakan sesuatunya lewat deadline. Ternyata bukan ingin menunda-nunda, mereka “hanya” perfeksionis sajaTidak puas sekadar menepati waktu, mereka ingin memaksimalkan kualitas akhir tugas yang sudah capek-capek dibuat. Mereka optimis, segala sesuatu bisa dibuat dengan kualitas yang sebaik-baiknya.

Tapi orang-orang ini juga tidak pernah terlambat parah. Karena mereka perfeksionis, mereka pun tidak ingin “merusak” kesempurnaan dengan mengumpulkan tugas jauh dari tenggat waktu. Sehari-dua hari adalah sebuah kewajaran untuk karya yang mendekati sempurna; menurut mereka, lebih baik begini daripada tepat waktu tapi ala kadarnya.

2. Orang yang sering terlambat tak gampang cemas. Waktu yang menipis tak seraya membuat mereka terserang kepanikan

Santai

Santai via favim.com

Advertisement

Target yang kamu sampaikan sering tidak realistis. Namun kamu adalah orang-orang yang sangat optimis dalam menjalani kehidupan. Sebabnya, tujuan-tujuan yang orang lain anggap tidak mungkin tercapai dalam waktu yang sangat tipis dapat kamu lalui tanpa ada kekhawatiran ataupun ketakutan. Bahkan tidak sedikit pun kepanikan yang melingkupi pikiran.

Kamu selalu yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja, bahkan saat waktu yang kamu punya sebenarnya semakin menipis. Karena itulah, kamu bisa mempertahankan ketenangan. Tak jarang, walaupun ujung-ujungnya terlambat, kamu tetap berhasil mencapai apa yang kamu inginkan di awal. Nggak jelek-jelek amat, bukan?

3. Optimisme orang yang sering terlambat turut meningkatkan produktivitas dan kreativitas mereka. Alhasil, mereka juga lebih berbahagia

Orang kreatif akan melihat dengan cara yang berbeda

Orang kreatif akan melihat dengan cara yang berbeda via keepo.me

Walaupun keterlambatan mereka sering bikin orang lain sebal, mereka sendiri justru merasakan dampak positif dari sifat ini. Berdasarkan penelitian yang sama, sikap optimis berdampak langsung terhadap kebahagiaan. Karenanya, produktivitas dan kreativitas mereka pun meningkat. Kesehatan pun jadi terjaga karena mereka tak tertekan oleh sempitnya waktu dan tekanan kerja.

Ini dengan satu syarat, keterlambatan itu tidak dilakukan dengan kesengajaan. Kamu terlambat bukan karena tidak hati-hati dalam mengelola waktu — karena ini akan membuatmu justru tambah stres. Kamu terlambat bukan karena sering menunda-nunda atau larut dalam kemalasan. Kamu terlambat, simply karena sifat perfeksionis dan pembawaan yang tenang.

5. Keterlambatan juga tak selalu berarti meremehkan waktu orang. Sebaliknya, ia bisa berarti menghargai momen singkat yang begitu spesial.

Tiada yang lebih berharga dari menghargai setiap momen

Tiada yang lebih berharga dari menghargai setiap momen via kingdomjournalist.tumblr.com

Karena sibuk mengejar deadline, kita bisa kehilangan momen-momen kecil dalam hidup yang sebenarnya spesial. Tapi tidak dengan orang-orang yang sering terlambat. Mereka tak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati momen-momen spesial ini karena terlalu larut dalam kesibukan. Mereka tidak akan ragu untuk rehat sejenak dari pekerjaan agar tidak kehilangan pikiran.

Mengerjakan aktivitas ringan memang membuatmu butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi positifnya, kamu memiliki waktu untuk mengisi ulang tenaga dan pikiran. Hidup pun akan lebih bisa dijalani dengan ringan.

5. Tapi jangan lupa, kamu juga harus bertanggung jawab atas tugas. Biarpun optimis, salah-salah kamu dianggap tidak berkualitas!

Jangan sampai justru menyebalkan buat orang

Jangan sampai justru menyebalkan buat orang via creator.wework.com

Namun, di balik semua sisi positif kebiasaan sering terlambat, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah kerelatifan waktu bagi berbagai jenis manusia. Ada orang yang sangat taat dalam urusan waktu, ada juga orang tak keberatan menunggu. Kanselir Jerman Angela Merkel pernah membatalkan janji temu dengan Vladimir Putin karena Putin terlambat datang pertemuan. Bagi orang Jerman, waktu adalah satu-satunya poin kehidupan yang tidak dapat ditawar, berbeda dengan orang Rusia yang memang maklum soal waktu. Orang-orang Spanyol selalu makan malam pada jam 10.00 PM. Tapi di Indonesia, makan jam 10 malam adalah tanda tidak sehatnya siklus hidup seseorang dan dapat mengakibatkan obesitas.

Relativitas ini perlu dipertimbangkan ketika kamu memiliki siklus kehidupan yang sering terlambat. Sikap terlambat yang selama ini membawa dampak positif padamu, jangan sampai justru menyebalkan bagi orang lain. Kalau tidak bisa-bisa kamu dianggap tak berkualitas!

Artikel ini tidak bermaksud menyuruhmu untuk sering terlambat, ya. Hanya ingin menyampaikan saja — sikap terlambat juga bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Terlambat itu baik, asal tidak merugikan orang. Sepakat? 😀

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya