Ternyata Begini Rasanya Jadi Anak yang Punya Tanggung Jawab Lebih Besar dari Teman Seumuran

punya tanggung jawab lebih besar

Di saat teman-teman seumuranmu sibuk menjalankan work hard play hard, kamu hanya bisa tersenyum kecut sembari mengelus dada. Sebab apa yang kamu alami saat ini sungguh berbeda dengan mereka. Di umur yang hampir sama, kamu sudah harus mengembang tugas yang lebih besar. Kuliah sambil kerja demi membantu kelangsungan adik-adik sekolah. Sampai di rumah pun kamu sudah ditunggu banyak pekerjaan rumah. Belum lagi beberapa cicilan yang perlu kamu lunasi agar keluargamu bisa hidup sedikit lebih nyaman. Mengemban tanggung jawab sebesar ini buatmu merasa 24 jam dalam sehari tak cukup untukmu. Dalam seminggu, bisa dihitung dengan jari kapan kamu bisa tidur nyenyak karena kelelahan membanting tulang sendiri.

Advertisement

Punya tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan teman-teman seumuran memang tak mudah dijalani. Bersama tulisan ini, kamu ingin berbagi bagaimana rasanya memikul tanggung jawab yang mungkin terlalu besar jika dilihat dari umurmu saat ini. Siapa tahu dengan berbagi, orang-orang dengan tanggung jawab besar sepertimu tak merasa sendirian lagi.

1. Dari zaman sekolah sampai lulus kuliah apa yang kamu pikirkan tak pernah sederhana, jelas berbeda jauh dengan teman-teman yang lainnya

Pikiranmu tak pernah sederhana/Photo by Ariel Castilo via www.pexels.com

Sejak duduk di bangku sekolah, kamu tak akrab dengan merajuk ketika keinginan tak dikabulkan. Kamu justru diajarkan kedua orang tua untuk sedikit demi sedikit mencari pundi-pundi demi keinginanmu sendiri. Pun saat kuliah, kamu tak sempat memikirkan mau jalan-jalan kemana di liburan semester. Kamu malah disibukkan dengan beberapa pekerjaan parttime karena adik-adik di rumah sudah memintamu bayar uang sekolah. Sejak kecil pikiranmu memang tak pernah sederhana. Kamu sudah tenggelam dengan pahit getir perjuangan dan tanggung jawab yang turut dibagikan dari pundak orang tua.

2. Kadang rasanya iri sekali melihat teman-teman bisa me time atau nongkrong seharian. Sementara kamu harus bekerja agar asap dapur bisa mengepul

Kadang kamu juga merasa iri/Photo by Josue V via www.pexels.com

Liburan bareng sama pacar? Ngopi-ngopi cantik? Atau me time dengan pergi ke salon? Hal-hal tersebut sama sekali tak sempat kamu pikirkan. Sebab hampir setiap hari kamu selalu disibukkan dengan bekerja, mengasuh adik, dan banyak hal lain yang harus dikerjakan saat itu juga. Di saat teman-temanmu yang lain sibuk me-time atau nongkrong, sesekali kamu merasa iri. Apalagi ketika kamu iseng-iseng membandingkan diri dengan mereka.

Advertisement

Ah, seandainya aku ada di posisi mereka. Pasti setiap hari bisa tidur nyenyak dan tak pusing lagi

Namun seketika sadar, bahwa membandingkan diri hanyalah buang-buang waktu. Kini kamu harus fokus menjalani tanggung jawab yang diemban dulu.

3. Ingin rasanya mengeluh dan menyudahi semua. Namun tak ada lagi yang bisa mengemban tanggung jawab sebesar ini

Tak ada yang bisa mengemban lagi/Photo by Khoa V. via www.pexels.com

Umurmu memang masih 20an. Namun tanggung jawab yang kamu emban seakan seluruh dunia bergantung kepadamu. Sesekali kamu ingin mengeluh dan menyudahi rutinitas melelahkan ini. Namun ketika melihat ayah, ibu, serta adik-adikmu, kamu jadi tak tega. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan ayah dan ibu kalau bukan kamu? Siapa lagi yang memikirkan kelangsungan hidup adik-adikmu kalau kamu enggan menjalankan tanggung jawab ini?

Advertisement

4. Kadang saat melihat teman seumuran yang dikit-dikit mengeluh buatmu sedikit kesal juga. Baru segitu sudah kepayahan, bagaimana kamu yang hampir tiap hari bekerja keras?

Tapi kamu sadar, toleransi seseorang kan berbeda/Photo by Craig Adderley via www.pexels.com

Sebel banget skripsi nggak kelar-kelar!

Duh, kiriman dari orang tua belum sampai. Mau belanja pakai apa nih?

Kalau bisa dibandingkan, keluhan dari teman-temanmu itu belum ada apa-apanya dengan apa yang kamu alami sehari-hari. Bukan bermaksud menjual kesusahan, tapi memang begitu kenyataannya. Skripsi yang belum kelar belum ada apa-apanya jika pihak bank terus menagih cicilan rumah sementara kamu harus segera membayar uang sekolah. Kiriman dari orang tua yang telat harusnya disyukuri, karena uang jajan masih diberi. Sementara kamu harus berpeluh dahulu untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga.

5. Di rumah kamu tak hanya berlaku sebagai anak. Namun kadang sebagai ibu yang mengayomi atau sosok ayah tangguh di depan saudara-saudaramu

Bisa jadi ayah dan ibu untuk adik-adikmu via www.pexels.com

Saat ibu belum pulang, kamu lah sosok penggantinya. Memasak, menyiapkan keperluan sekolah adik-adikmu, sampai beberes rumah. Pun ketika ayah masih menjemput rezeki, kamu mau tak mau harus menjadi sosok tangguh dan mandiri agar ibu dan adik-adikmu tak lekas goyah. Berperan ganda seperti ini memang sebuah tantangan tersendiri buatmu. Tantangan yang tak menyediakan pilihan ‘tidak mau’ tapi harus mau demi keluargamu.

6. Punya tanggung jawab yang lebih besar buatmu dianggap sudah dewasa dan bisa melakukan banyak hal sendiri. Padahal kamu juga ingin dibantu sesekali

Sesekali juga ingin dibantu via unsplash.com

Wah, kecil-kecil udah  bisa bantu nyekolahin adik-adik. Orang tuamu pasti bangga punya anak yang dewasa kayak gini.

Sejak kecil, kamu terbiasa menyelesaikan setiap masalahmu sendiri. Kamu pun udah menjadi penopang keluarga selama bertahun-tahun lamanya. Mengemban tanggung jawab sebesar ini buatmu mendapat predikat ‘dewasa’. Kalau kebanyakan orang berbangga disebut dewasa, kamu malah sebaliknya. Predikat dewasa yang diberikan kepadamu justru buatmu semakin kelelahan sendiri. Sebab dewasa berarti bisa diandalkan dan mampu melakukan apa-apa sendiri. Padahal kamu sama seperti teman-teman yan ingin sesekali dibantu juga.

7. Meski berat dan melelahkan, perlahan mentalmu ditempa sekeras baja. Kini kamu bisa menghadapi berbagai tekanan hidup dan paham mengatasinya

Kamu ditempa dari sini/Photo by Tan Danh via www.pexels.com

Mengemban tanggung jawab yang lebih besar tak hanya buatmu kelelahan saja. Namun mentalmu ditempa jadi sekeras baja. Kamu jadi terbiasa untuk tetap berdiri, meski banyak masalah yang buatmu goyah. Selain terbiasa menghadapi segala masalah, kamu juga paham bagaimana cara mengatasinya. Apalagi ketika kegagalan menyapa. Kamu bakalan bilang,

Halah, baru segini! Biasa banget ini~

Meski berat dijalani, kamu tak ingin menganggap tanggung jawab ini sebagai beban. Justru menjadi tantangan yang perlu kamu takhlukkan. Untuk kamu-kamu yang mengemban tanggung jawab besar di saat yang lain masih senang-senang, semoga senantiasa diberi semangat dan kekuatan sampai sesuatu yang kamu pikul ini selesai. Angkat kepala dan berikan senyum terbaikmu pada dunia!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE