Halo, majikanku! Ini aku, bukumu.

Engkau sudah lupa denganku, ya? Jangankan mengingatku, pasti kau tak pernah tahu kalau pernah membeliku dengan hasil jerih payahmu. Wajar sekali, sih. Sepertinya aku sudah tak jadi prioritasmu lagi. Mungkin aku memang tak ada menariknya sama sekali. Tapi bisa kulihat bahwa terlalu banyak tanggung jawab yang harus kau jalani di luar rumah. Hanya saja, hati kecilku sedikit sakit melihat hal ini.

Advertisement

Mengapa musti gadget yang kau lirik kala senggang?

Buatku fase hidup sudah berbeda. Kini aku lebih sering tergeletak dan dilihat saja. Bukan dinikmati isinya

Siapa yang mampu menemukan di antara begitu banyaknya buku bagus?

Siapa yang mampu menemukan di antara begitu banyaknya buku bagus? via assets.kompasiana.com

Ketika baru dilahirkan dari percetakan, semangatku 45! Aku ingin sekali seperti buku-buku lain yang katanya memberi manfaat kepada si empunya. Aku ingin seperti Perahu Kertas karangan Dee yang laris manis bak kacang. Aku ingin seperti Harry Potter-nya J.K. Rowling yang meliarkan imajinasi setiap pembacanya. Aku ingin seperti Laskar Pelangi yang dibuat oleh Andrea Hirata dengan menambah wawasan penyukanya. Aku pun didesain sedemikian rupa dari buah pikiran penulis untuk menghibur dan memberi wawasan. Sungguh aku dilahirkan dari sebuah proses panjang dan kompleks.

Selanjutnya, aku tinggal pada sebuah toko buku berhawa sejuk. Mereka memang memajangku dengan paparan udara AC supaya tidak cepat rusak. Pembaca juga pasti betah berlama-lama memilih buku yang ia suka. Sayangnya, harapanku tipis untuk dibeli. Posisiku tersembunyi dan tertumpuk ribuan buku-buku menarik lainnya. Orang yang berhasil menemukanku hanya melihat judul, membaca sekilas, dan meletakkan lagi pada rak. Aku pasrah saja. Jelas aku tak akan dibeli. Keinginan bernasib sama dengan buku-buku ternama sudah layu.

Bahkan saat ku ditawarkan dengan potongan. Tak semudah itu menggodamu membawaku pulang

Aku ada di antara tumpukan buku yang  kurang menarik.

Aku ada di antara tumpukan buku yang kurang menarik. via hydpaused.files.wordpress.com

Advertisement

Toko buku yang sudah menjadi tempat tinggalku beberapa tahun terakhir ini, mengadakan bazar akhir tahun. Seperti kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya, bazar adalah salah satu strategi untuk menghabiskan stok-stok buku yang tidak laku. Di awal tahun nanti, mereka akan menambah koleksi buku baru yang tidak kalah menarik. Oleh karenanya, aku dan kawan-kawan setiaku harus segera keluar dari toko ini. Jika tidak, toko ini tak mungkin bisa menampungku lagi. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku? Aku senang karena diskon memberiku harapan agar aku cepat dibeli dan punya majikan. Akan tetapi, aku sedih dengan statusku yang tak laku. Ditambah kecemasan akan dibawa ke mana aku selanjutnya.

Begitu banyak orang yang menghampiri dan mengaduk-adukku. Dari muncul di permukaan, tenggelam, hingga muncul di permukaan tumpukan buku lagi. Akhirnya aku melihatmu. Mencermati sorot matamu, sepertinya engkau adalah majikan yang pas untukku. Aku berteriak keras, meski kau tak pernah bisa mendengarnya:

Ayo angkat aku! Bukalah aku dan baca sedikit isiku. Kau tak akan menyesal membeliku!

Seperti mendengar, kau angkat tubuh ini. Lembar demi lembar kau buka dan baca. Tak lama kemudian, ada segurat senyum dan sorot mata bahagia. Aku bertanya-tanya, mengapa kau menggerakkan tubuh sembari membawaku serta?

Astaga, kau mengeluarkan beberapa lembar uang demi membeliku!

Kukira ada harapan saat akhirnya aku berpindah ke tanganmu. Kurasa tubuhku akan mulai dijamahi sesering dulu

Akhirnya ada yang menemukanku

Akhirnya ada yang menemukanku via transform.fairfaxregional.com.au

Dalam perjalananmu pulang ke rumah, aku tertawa bahagia dalam plastik belanjamu. Sudah tak sabar aku ingin melihat wajah majikan baruku yang dipenuhi senyum dan tawa. Aku turut membayangkan mimikmu yang membayangkan bagaimana alur-alur dalam ceritaku ini bisa terjadi.

Benar saja! Sesampainya di rumah, engkau bergegas mengakrabiku. Senang melihatmu terbahak atau sekedar tersenyum ketika membacaku. Aku puas bisa menghibur, meskipun belum tuntas kau membaca. Keinginan agar bisa jadi buku yang berguna seperti buku-buku terkenal itu, mungkin akan segera tercapai setelah kau menyelesaikan bab terakhir. Sabar! Sebentar lagi pasti majikanku akan selesai membaca. Lantas, aku akan berjuluk buku yang bermanfaat.

 Namun notifikasi dari ponsel canggihmu sungguh mengganggu. Tak terhitung berapa kali ia membuyarkan konsentrasimu

Woman sitting on bed, talking on cell phone and reading book

Karena ponsel canggih, kau duakan aku via www.corbisimages.com

Aku kagum. Semangat membacamu masih sama seperti pertama kalinya membeliku. Selalu ada waktu dan tempat yang kau curi di sela-sela kesibukan. Entah itu sewaktu kuliah yang membosankan, di sela-sela menunggu jam perkuliahan selanjutnya, sebelum tidur, atau saat bosan mendera.

Tapi ada satu hal yang paling aku benci. Ketika ponsel canggihmu selalu berbunyi dan memanggil-manggil.

Memang kau langsung membacaku lagi usai mengurusi gadget itu. Tapi tak dapat kupungkiri kalau aku cemburu. Ponsel juga mampu membuatmu tertawa lepas, persis ketika kau tengah membacaku. Apesnya, tak cukup sekali ponsel berbunyi. Ia berbunyi lagi dan lagi. Begitu terus tanpa henti. Beberapa kali kau langsung pergi tanpa merapikan tubuhku setelah menengok isi ponsel. Begitu terus setiap hari dan waktu, hingga aku terlupakan. Ya, aku sudah mirip anak tiri yang tidak dipedulikan. Hari selanjutnya terasa hampa karena aku cuma teronggok di pojok kamar seperti barang bekas.

Kuharap suatu hari kamu tahu. Ada aku yang diam-diam rindu. Saat kamu terlalu sibuk dengan gawai dan semua notifikasi itu

Ayo majikanku! Kapan kamu membacaku!

Ayo majikanku! Kapan kamu membacaku? via dl-2.kraken.io

Sebagai sesosok benda mati, apa dayaku? Jelas aku tak mampu berbuat apa-apa. Meratapi nasib bersama buku-buku lain adalah keseharian yang kini begitu mengenyangkan. Bukan cuma aku, sejumlah buku yang pernah dibeli majikan bernasib sama. Mereka dibeli secara antusias, namun dibiarkan teronggok sebelum habis dibaca. Barangkali aku masih beruntung. Di antara tumpukan atau rak dinding, masih ada kawan-kawan yang terbungkus segel plastik. Bahkan lengkap dengan harganya.

Salah seorang kawan berkata kalau jaman telah memasuki era digital. Internet, komputer, gadget kini sudah jadi nomor satu dan mendominasi segala aspek kehidupan. Tidak mengherankan apabila keberadaan kami-kami ini tergusur oleh benda interaktif itu. Orang-orang bisa mencari informasi apa saja hanya dengan mengketuk-ketukkan layar ponselnya. Berbeda dengan kami yang cuma bisa memberi sejenis informasi saja.

Majikanku, aku tahu jika aku hanyalah seonggok buku yang sebentar lagi usang dan tua. Aku dan bukumu yang lain bisa lusuh, dipenuhi kutu buku, dan lenyap seperti dimakan rayap. Tapi jika bisa mendengarkan suara hati kami, cobalah pikirkan dengan seksama. Apakah benar gadget canggih membuatmu bahagia? Jangan-jangan kau malah terjebak dengan kebahagiaan semu dan menjauh dari kehidupan sosial? Mampukah gadgetmu melambungkan imajinasi, mencerdaskan, menghibur, sekaligus memberi informasi selengkap kami?Bukankah buku adalah jendela dunia dan gudang ilmu?

Majikanku, sederhana harapan kami. Bacalah kami dan kembalilah dengan ekspresi jujurmu. Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan bermanfaat, dibandingkan bermain gadget hanya untuk sekedar pamer di jejaring sosial. Kami ingin engkau memperhatikan kami seperti dulu. Demikian dan terimakasih, majikanku.

Dari buku kesayanganmu yang tak pernah habis kau baca.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya