Kesulitan dan ujian selalu datang tiba-tiba. Kalau diibaratkan tamu, mungkin mereka tipe paling buruk yang pernah ada. Sudah tak pernah bilang-bilang kapan mau datang, mereka pun selalu membawa hal buruk sebagai buah tangan. Tak hanya itu, tak peduli seberapa sopan kita menyuruh mereka pulang, mereka juga tak segan untuk berlama-lama tinggal.

“Aku salah apa sampai diuji seberat ini?” kata hati kecil di tengah rasa frustrasi.

Advertisement

Tapi layakkah pertanyaan itu kita ajukan? Tidakkah kita sadar, manusia memang hidup untuk menerima ujian?

Tak usah bertanya kamu sudah salah apa. Ujian toh tak peduli berapa skormu di catatan dosa dan pahala

Setiap detik, ada kejadian buruk yang menimpa seseorang yang baik. Setiap hari, ada tragedi yang menimpa orang paling baik di dunia ini. Bukan kenapa-kenapa, memang itu realitanya. Ujian akan tetap datang, tak peduli skormu di lembar catatan dosa dan pahala. Menerima ujian adalah kodrat kita sebagai manusia. Baik atau buruknya hati kita, itu tak ada urusannya. Takkan membuat ujian tiba-tiba membatalkan kedatangannya.

Bahkan manusia yang paling baik dan tanpa cela juga harus menerima ujian dari-Nya. Jadi kenapa kita harus bertanya, “Aku salah apa?”

Kadang kita bertanya “Aku salah apa?” seolah memang tak punya dosa. Kalau bukan tanda kesombongan, ini apa?

Kita punya banyak kekurangan. Kita sarang berbagai kesalahan

Kita punya banyak kekurangan. Kita sarang berbagai kesalahan via pixabay.com

Advertisement

“Aku salah apa? Bukannya selama ini aku selalu baik sebagai manusia?”

Ironisnya, kita takkan pernah bertanya “Aku salah apa?” saat sudah sadar sejak awal apa kesalahan kita. Kita hanya akan merasa berhak bertanya, saat merasa tak punya dosa. Mungkin bukan itu niatan kita. Tapi kalau bukan tanda kesombongan, ini apa?

Padahal Tuhan bisa saja menjawab, “Wah, salahmu itu banyak sekali.” Kita saja yang tak pernah sadar selama ini. Mungkin ada satu-dua komentar yang pernah kita lontarkan, yang ternyata menyakitkan. Mungkin kita pernah ingkar janji suatu kali, dan teman kitalah yang harus menanggung rugi. Mungkin dulu saat kecil kita pernah mem-bully. Hidup kita sudah lebih dari dua dekade. Ada berjuta-juta kemungkinan tentang bagaimana kita berbuat kesalahan.

Harusnya kita sadar, kita bukan orang suci. Masih pantaskah bertanya “Aku salah apa?” seperti selama ini?

Toh ujian juga bukan hukuman dari Tuhan. Dan setelah semuanya terlewati, bukankah pesta kelulusan yang meriah telah menanti?

Ada alasan kenapa Tuhan mengirimkan ujian pada orang-orang yang selalu berbuat kebaikan. Dan alasannya… jelas bukan karena Ia mencintai ketidakadilan.

Ujian bukan bentuk hukuman. Dengan mengirimkannya padamu, Tuhan tak sedang ingin bilang: “Nih, rasakan! Makanya jangan nakal!” Ayolah, apakah di pikiranmu Ia begitu kekanak-kanakan?

Ujian ada — sebagaimana tes-tes sekolah yang kita lalui sewaktu lebih muda — agar kita bisa belajar. Agar kita tahu makna bahagia ketika akhirnya berhasil setelah berkali-kali melalui kesulitan. Ujian ada supaya kita tetap rendah hati. Tak peduli seberapa baik, cerdas, dan sempurna kita sebagai pribadi, nyatanya kita tetap butuh Tuhan saat kesulitan menghampiri.

Tak usahlah bertanya “Aku salah apa?” ketika ujian menghampiri lain kali. Anggap saja ini pesan dari-Nya agar kita terus mendekatkan diri. Dan setelah semuanya terlewati, yakinlah, pesta kelulusan yang meriah telah menanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya