6 Hal yang Kamu Lakukan Ini Sebenarnya Bukti Kamu Dewasa. Cuma Nggak Sadar Saja

Bukti Kedewasaan

Kedewasaan setiap orang memang berbeda. Patokannya juga bukan hanya umur semata. Dewasa secara mental, lebih dilihat dari bagaimana kamu menghadapi masalah. Tentunya seiring berjalannya waktu, sikapmu ketika menghadapi masalah berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang sudah kamu alami sebelumnya, serta perkembangan pola pikir yang membuatmu jauh lebih bijaksana.

Advertisement

Tapi, dewasa itu seperti apa sih? Rasa-rasanya hidupmu belum banyak berbeda dari sebelumnya. Apa yang kamu jalani sehari-hari rasanya hanya gitu-gitu saja. Hal ini juga cukup membuatmu resah, sih. Apa iya kamu sudah menjadi lebih dewasa? Apa iya hidupmu sudah mengalami peningkatan? Tenang saja. Sikap yang dewasa itu bisa dilihat dari apa yang kamu lakukan sehari-hari. Misalnya beberapa hal ini. Meski sepele, tapi menandakan kamu sudah jauh lebih dewasa.

1. Kamu bisa bersikap baik terhadap orang yang kamu benci sekalipun. Karena rasa tak suka personal bukan alasan untuk bersikap tidak profesional

tetap profesional meski ada yang nggak disuka (Photo by Jopwell) via www.pexels.com

Dalam hidup ini, kita bisa bertemu dengan banyak model manusia. Ada yang menyenangkan, banyak juga yang menyebalkan. Ada yang kamu sukai, ada juga yang sekadar melihatnya saja sudah membuat mood-mu anjlok. Namun, di satu sisi, terkadang kita dituntut untuk tetap berinteraksi dan bekerja sama dengan orang yang kita benci. Misalnya dalam dunia kerja. Kamu mampu bersikap profesional dengan tetap bekerja sebaik-baiknya meski berpartner dengan orang yang nggak kamu suka. Kamu dewasa, karena nggak mencampuradukkan urusan kerja dengan urusan personal.

2. Kamu bisa menahan diri untuk nggak membeli sesuatu walaupun kamu pengen banget, karena situasi yang nggak memungkinkan untuk itu

bisa menahan keinginan (Image by Kasjan Farbisz) via pixabay.com

Pernah nggak sih kamu begitu ingin membeli sesuatu? Walaupun kalau ditanya, kamu juga nggak tahu apa fungsinya. Atau setidaknya, kamu nggak butuh-butuh banget dan kalau nggak beli, kamu tetap akan bisa hidup dengan baik. Keinginanmu untuk membeli itu didasari rasa ingin semata. Mungkin karena warnanya cantik, penasaran, atau sekadar buang duit saja. Tapi di momen ini, kamu mampu menahan keinginan itu meskipun kalau dipaksa, ya kamu sebenarnya mampu. Kamu mempertimbangkan fungsinya dan situasi keuanganmu sendiri sebelum impulsif memutuskan sesuatu. Hal ini nggak mudah, lo.

Advertisement

3. Berantem dan berseberangan dengan teman itu hal yang biasa. Kamu mau mengajak mereka bicara untuk memutus aksi diam-diaman

menyelesaikan masalah dengan teman baik baik (Photo by Priscilla Du Preez) via unsplash.com

Konon katanya, belum benar-benar sahabat kalau kalian belum pernah bertengkar. Entah karena sikapmu atau sikapnya yang kelewat menjengkelkan, perbedaan pendapat tentang suatu hal, hingga kesalahpahaman. Kamu juga sama. Dengan sahabat baikmu, terkadang kamu berseberangan. Hal itu membuat kalian sempat diam-diaman. Namun, alih-alih membawa persoalan ini ke media sosial, kamu berani mengajaknya bicara dan meluruskan semua. Bagaimanapun, kamu mengerti jika permasalahan antarsabahat seperti ini harus diselesaikan baik-baik kalau kamu nggak mau kehilangan sahabatmu.

4. Saat melakukan kesalahan, kamu akan berbesar hati mengakuinya. Alih-alih memutar fakta dan mencoba membenarkan diri sendiri

mengakui kesalahan karena kamu punya hak untuk salah (Photo by Andrej Lišakov) via unsplash.com

Hal ini masih ada hubungannya dengan poin tiga. Andaikan saja, setelah pembicaraan baik-baik antarsahabat sudah dilakukan, dan ternyata kamu yang melakukan kesalahan, kamu bisa dengan lapang dada mengakuinya. Kamu menyadari kealpaan yang kamu lakukan, bukannya malah mencari-cari alasan dan kambing hitam untuk menutupi kesalahanmu. Mau mengakui kesalahan dan mau memperbaiki diri supaya nggak salah lagi, adalah salah satu ciri sikap yang dewasa. Nggak semua orang bisa melakukannya, lo. Lihat saja di media sosial, banyak tuh orang-orang yang ribut saling menyalahkan.

5. Terkadang kamu memang nggak tahu apa yang sedang dan harus kamu lakukan. Tapi kamu bisa memutuskan dengan memahami berbagai risikonya

tetap melangkah meski terkadang tak tahu yang dilakukan (Photo by Huy Phan) via www.pexels.com

Apakah orang yang sudah dewasa selalu tahu apa yang dia lakukan? Apakah dewasa berarti mengetahui pasti apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan di setiap situasi? Ah, nggak juga. Karena kebanyakan dari kita memang sering nggak tahu apa yang sedang dan harusnya dilakukan. Terkadang, hari-hari berjalan begitu saja seperti aliran air. Namun, kamu tahu pasti kalau hidup itu sekumpulan keputusan yang harus diambil dengan risikonya masing-masing. Kamu juga tahu bahwa keputusan itu harus diambil sendiri olehmu. Karena, meski nggak tahu juga bagaimana yang benar, hidupmu adalah tanggung jawabmu. Itulah yang membuatmu dewasa.

6. Sudah berusaha sekeras-kerasnya tapi tetap hasil yang baik nggak datang. Kamu pun tetap bisa tertawa dan bilang “Ya sudahlah, nggak semua keinginan bisa didapatkan”

ya sudahlah (Photo by José Luis Photographer) via www.pexels.com

Menerima kegagalan itu luar biasa sulitnya. Bayangkan saja, kamu begitu menginginkan satu hal ini. Kamu sudah mengusahakan yang terbaik, dan mengorbankan beberapa hal yang sebenarnya sama berharganya. Namun, setelah usaha yang sedemikian keras, nyatanya hasil yang diharap nggak bisa didapatkan. Sakit sekali, bukan? Namun, kamu mengerti bahwa pengaturan semesta terkadang memang membingungkan. Dan nggak semua keinginan bisa didapatkan. Ketika kegagalan lagi-lagi datang, kamu tetap bisa tersenyum meski perihnya bukan kepalang. Nggak apa-apa…

Menjadi dewasa itu ternyata nggak mudah, ya? Harus pandai-pandai berkompromi dan menahan diri. Harus mau mengakui kesalahan diri sediri dan menyadari bahwa ada banyak perspektif dan kamu nggak mungkin benar terus. Terlebih, harus mengambil keputusan meski nggak tahu juga apa yang harus dilakukan. Tapi, memang begitulah hidup ini ‘kan? 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE