Artikel Hipwee kali ini dipersembahkan oleh CekAja. Sebuah portal yang bisa memberikanmu perbandingan netral dan terpercaya dalam semua keputusan finansial yang hendak kamu ciptakan.

Bersyukur, adalah salah satu cara terampuh untuk meringankan beban hidup. Dengan bersyukur, kamu akan lebih bisa menghargai semua yang sudah kamu dapatkan. Maka tak heran jika ada pemeo yang mengatakan bahwa mereka yang paling bahagia adalah mereka yang paling bisa mensyukuri semua yang sudah dimilikinya.

Sayang, dalam kehidupan sehari-hari bersyukur tak semudah kedengarannya. Pencapaian dan berbagai hal yang didapatkan oleh orang lain kadang membuat mata kita silau. Rasa iri pun tak bisa dihindari. Akhirnya, kita jadi sering membandingkan pencapaian orang lain dengan hal yang telah kita dapat.

Tapi tahukah kamu, kebiasaan membandingkan diri justru bisa membuatmu jadi orang yang paling tidak bersyukur sedunia? Di artikel ini Hipwee akan memberikan beberapa hal yang harus berhenti kamu bandingkan, agar tak jadi manusia yang tidak bisa mensyukuri pencapaiannya.

1. Mau Membandingkan Penampilan? Ingat! Ia Adalah Gabungan Dari Pemberian Tuhan dan Proses Panjang Sebuah Pilihan

Penampilan adalah hasil dari pilihan panjang via tumblr_mrbjveR0US1rq0afbo1_1280-horz.jpg

Merasa diri kurang cantik, kurang tampan, atau kurang modis itu wajar. Merasa kurang percaya diri saat bersebelahan dengan kawan yang pandai memulas muka dan memilih pakaian modis juga normal. Tapi sebelum kamu merasa harus membandingkan diri dengan mereka, coba pikirkan hal ini di benakmu.

Bukankah bentuk muka dan bentuk tubuh yang kalian dapatkan adalah 2 jenis pemberian Tuhan yang masing-masing punya tujuan? Temanmu yang berkulit terang bisa saja diberi warna kulit semacam itu karena dia memang tidak suka naik gunung. Berbeda denganmu yang berkulit cokelat. Warna kulit yang eksotis lebih membuatmu tahan menghadapi suhu ekstrem cuaca. Kalau kulitmu putih, bisa jadi kamu harus merana karena sengatan sinar matahari membuatmu iritasi.

Penampilan yang ditunjukkan juga bentuk dari proses panjang pilihan pribadi seseorang. Gadis yang di matamu tampak girly bisa jadi memang hidup di lingkungan keluarga dan perkawanan yang menuntutnya untuk tampil “sangat wanita.” Dia yang nampak maskulin siapa tahu memang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kampusnya yang mayoritas pria.

Membandingkan penampilan sama saja dengan membandingkan jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untukmu. Apakah kamu layak untuk melakukan itu?

2. Kesuksesan Finansial Memang Membuat Iri. Pertanyaannya: “Yakinkah Kamu Sudah Cukup Mawas Diri Jika Diberi?”

Dibutuhkan kemampuan untuk menghadapi kesuksesan finansial via www.cromo.com.uy

Jali: “Gila, si Fadil sekarang kerja di advertising agency terkenal. Gajinya 15 juta per bulan”

Tia: “Wuidih, lumayan juga ya. Cuma beda 2 juta itu sama gaji gue. Padahal Fadil di agency lokal ya?”

Kamu: (dalam hati) Gajinya Fadil 15 juta, Tia 13 juta. Lah gue…2 juta aja gak sampe

Mayoritas orang memang sering memandang kesuksesan finansial sebagai tolak ukur keberhasilan. Merasa kesuksesan selalu setara dengan gaji yang tinggi. Gaji besar yang bisa memfasilitasi sebuah kehidupan mapan memang menggiurkan. Tapi yakinkah kamu sudah cukup siap untuk mengelola uang yang tidak sedikit?

Sebelum menyalahkan keadaan yang terasa tidak adil untukmu, lebih baik tengok dulu berbagai perilaku yang sudah kamu lakukan selama ini. Masih kurang cerdik memanfaatkan kartu kredit dan uang tunai? Atau justru tidak pernah bisa menabung? Kalau jawabanmu “Iya”, coba deh lihat apa yang bisa kamu dapatkan jika memilih menabung dan mulai mencoba investasi di artikel “Mau Investasi? Ini 5 Kelebihan Deposito” yang pernah CekAja lansir ini.

Jika sampai hari ini menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu masih jadi kebiasaanmu, bisa jadi karena inilah “bonus finansial” itu belum juga datang padamu.

3. Saat Kamu Merasa Punya Banyak Uang Itu Menyenangkan, Yakin Uang Bisa Jadi Satu-Satunya Sumber Kebahagiaan?

Uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan via yeah-dasha.viewy.ru

Selain menghubungkan uang dengan kesuksesan, banyak orang juga menghubungkan pencapaian materi dengan kebahagiaan. Merasa dengan memiliki banyak uang, maka kebahagiaan akan otomatis ada di tangan. Sebenarnya kita kerap lupa, ada hal-hal lain yang bisa membuat kita bahagia. Uang, hanya salah satunya.

Punya teman-teman menyenangkan, keluarga yang hangat, bisa bergabung dengan komunitas yang sesuai hobi, hingga masih diberi semangat dan kesehatan hingga hari ini adalah hal-hal kecil yang sering lupa disyukuri. Berbagai hal tersebut bahkan uang tak mampu beli, tapi masih jarang kita hargai.

4. Merasa Institusi Pendidikanmu Kurang Keren? Tenang, Sekolah Di Manapun Tak Akan Serta Merta Membuatmu Beken!

Institusi pendidikan bukan untuk dibandingkan via chronicleofntu.com

Stigma institusi pendidikan negeri vs swasta masih sering terdengar di masyarakat kita. Tidak sedikit yang merasa minder karena tidak bisa diterima di universitas negeri atau sekolah milik pemerintah. Rasanya hidup selesai deh kalau gagal ikut SBMPTN atau nilai UN tidak mencukupi untuk masuk ke institusi pendidikan negeri.

Daripada membandingkan pencapaian akademismu dengan teman-teman lain, lebih baik kamu fokus memberikan usaha terbaikmu untuk bisa excellent di tempatmu menimba ilmu. Kesuksesan masa depan tidak ditentukan dari di mana kamu sekolah, tapi lebih pada bagaimana konsistennya dirimu untuk memberikan usaha tanpa kenal lelah.

5. Ketika Kamu Mengeluh Orang Tuamu Kurang Ini-Itu, Banyak Orang Di Luar Sana Rela Bertukar Posisi Denganmu

Banyak yang ingin bertukar posisi denganmu via www.thejakartapost.com

Sering kita mengeluhkan perilaku orang tua yang dirasa kurang pas di hati. Mulai dari terlalu kolot, pelit, tidak demokratis, hingga kurang perhatian. Jika memungkinkan, rasanya ingin deh mengajukan mosi untuk tukar orang tua dengan orang tua kawan yang nampak lebih cool. Saat mengeluh seperti ini, kita sering lupa bahwa orang tua bukanlah baju yang bisa dipilih sesuai selera dan ukuran.

Kita, pun kedua orang tua, tidak bisa saling memilih. Perbedaan pendapat jelas tidak bisa dihindari. Satu-satunya jalan agar konflik tak meledak adalah dengan terus berusaha untuk saling memahami.

Lagipula, di luar sana banyak anak-anak lain yang rela bertukar posisi denganmu untuk merasakan hangatnya kasih sayang orang tua.

6. Pacaran dan Pernikahan Bukan Lomba Lari, Lalu Kenapa Harus Merasa Tersaingi?

Pacaran dan pernikahan bukan lomba lar via www.pinterest.com

Di umur yang makin dewasa, undangan pernikahan kawan jadi makin sering menyambangimu tiap akhir pekan. Pertanyaan semacam,

“Kok sendirian?”

“Kapan nyusul?”

“Calonnya mana?”

juga makin sering mampir ke telinga. Disadari atau tidak, pertanyaan macam itu membuat kita merasa “dikejar” oleh tuntutan sekitar untuk segera mengambil langkah yang sama. Padahal, pacaran dan pernikahan itu bukan kompetisi lho! Siapa yang punya pacar lebih dulu atau siapa yang lebih dulu menikah tidak menandakan apapun.

Dia yang menikah duluan tentu bisa bahagia dan sukses. Tapi bukan berarti orang yang masih jomblo sampai akhir umur 20-an akan merasa tidak bahagia dan tidak bisa memiliki kehidupan yang seimbang. Orang yang sudah menikah, belum menikah, berpacar, ataupun jomblo tetap punya kesempatan yang sama untuk merasakan hal-hal baik berdatangan dalam hidupnya.

Kalau sampai sekarang kamu masih suka insecure saat datang ke kondangan teman, coba tanyakan pada dirimu sendiri:

“Sebenarnya kamu sedang mendatangi resepsi, atau ikut pertandingan lari?”

7. Sebesar Apapun Pencapaiannya, Selalu Ada Perjuangan yang Tak Kalah Besar Di Baliknya

Selalu ada perjuangan besar di baliknya via www.pinterest.com

Setiap merasa hidup sedang tidak adil dan membuatmu ingin membandingkan diri dengan orang lain, ingatlah bahwa semua hal yang mereka dapatkan tidak didapat dari ongkang-ongkang kaki semata. Temanmu yang juara Olimpiade Fisika itu belajar keras hingga dini hari, sementara kamu sedang terlelap tidur. Dia yang penghasilannya 2 kali lipat dibanding kamu juga menjalankan bisnis sampingan sepulang kantor.

Sebelum mengeluh dan membandingkan ketidak beruntunganmu dengan orang lain, ada baiknya kita lebih dulu mengevaluasi perilaku.

8. Setiap Rasa Ingin Membandingkan Diri Datang, Ingatlah: Membandingkan Diri Tidak Akan Membuatmu Merasa Lebih Baik

Membandingkan diri tidak akan membuatmu merasa lebih baik via www.desktopnexus.com

Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuatmu tidak mensyukuri apa yang sudah kamu dapatkan. Keinginan untuk terus membandingkan diri bisa menimbulkan rasa tidak puas, kecewa, hingga menyalahkan diri sendiri. Jika tidak berhati-hati, hal ini tidak baik lho untuk semangatmu.

Daripada membandingkan penampilan, pencapaian, dan kondisi lain dalam dirimu sebenarnya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk kamu bandingkan. Bagaimana jika mulai sekarang kamu lebih cerdik membuka mata terhadap perbandingan yang lebih bermanfaat?

Sesederhana membandingkan harga internet provider yang kamu pilih, misalnya. Atau mencoba membandingkan kartu kredit mana yang paling bisa memberi keuntungan untukmu. Jika pintar memilih, kartu kredit sebenarnya bisa memberikan banyak keuntungan. Salah satunya adalah kesempatan mendapatkan liburan gratis dari penyedia jasa kartu kredit.

Selengkapnya tentang kartu kredit berbonus liburan, bisa kamu baca di artikel “Inilah Kartu Kredit yang Bisa Memberikanmu Liburan Gratis.” yang pernah CekAja lansir ini.

Jadi manusia yang mudah bersyukur atas segala pencapaian ataupun tidak, semua kembali ke pilihan pribadimu. Kamu selalu punya pilihan untuk berterima kasih atau melengos cuek atas segala kebaikan yang telah semesta letakkan di telapak tanganmu.

Masih mau membandingkan hal-hal nggak penting tadi, atau mau jadi manusia yang lebih bersyukur mulai hari ini?