Pagi ini kembali terkejoed setelah mengetahui bahwasanya tiba saatnya bagi saya untuk kembali menulis Hipwee Jurnal. Lagi-lagi bingung dengan apa yang ingin saya ceritakan. Banyak pilah pilih topik apa yang pantas untuk disuguhkan buat pembaca. Hingga sore ini saya masih belum menuliskan apa yang akan saya ceritakan. Tapi bukankah katanya semakin mendekati deadline maka semakin produktif otakmu berpikir?

.

Advertisement

.

.

Jadi sudah saya putuskan untuk menceritakan beberapa teman yang ada di lingkungan saya saja. Meski nyatanya mereka ini sama sekali berbeda, namun ada satu hal yang membuat orang-orang ini sama: mereka adalah orang baik. Dan di sini saya nggak akan bahas tentang kebaikan mereka tapi sisi lain dari hal tersebut, yaitu sulitnya menjadi orang baik di zaman now.

Karena kebaikan itu nggak pernah dibatasi, maka nggak jarang ada yang mengorbankan diri demi orang lain

Advertisement

Sama seperti kesabaran, kebaikan itu juga nggak ada batasnya. Sebagai makhluk sosial, sebisa mungkin kita menyebarkan kebaikan kepada sesama. Dan diharapkan kebaikan-kebaikan itu bisa menyebar ke yang lainnya. Mungkin teman-teman saya ini menjunjung tinggi pemahaman tersebut. Dikenal maupun nggak, mereka sebisa mungkin membantu oang-orang yang sedang dalam kesusahan. Dan yang lebih bikin salut lagi mereka rela mengorbankan kepentingan mereka sendiri agar orang lain merasa terbantu. Apalagi jika kebaikan yang bermacam ragam jenisnya itu dilakukan demi orang yang disayangi, meski mereka membuat hatimu sakit, kamu tetap saja akan berbuat baik padanya.

Kita nggak bisa mengharapkan kebaikan yang sama dari orang-orang. Karena sebagian dari mereka menganggap itu adalah sebuah peluang untuk dimanfaatkan

I’m okay with this via

Tentu nggak semua kenyataan persis sesuai ekspektasi yang kita pikirkan. Bukankah itu yang membuat kita menjadi seseorang yang berbesar hati dan berlapang dada? Hal ini juga berlaku atas kebaikan yang kita lakukan. Peraturan nomor satu yang perlu diingat adalah kita nggak bisa mengharapkan kebaikan yang sama dari orang-orang yang kita bantu. Saat kita memberi buah apel kepada seseorang, kita nggak bisa mengharapkan buah yang sama diberikan kepada kita. Karena sebagian dari mereka memang nggak punya kemampuan itu. Dan pasti kita memahami hal itu. Namun yang saya lihat, orang-orang baik ini nggak jarang justru dimanfaatkan. Mentang-mentang dia mau menolong apa saja, kadang di luar tanggung jawab dan kesanggupannya, masih ada orang lain yang tega memanfaatkan peluang itu.

Tapi yang nggak boleh kamu lupakan, peraturan nomor dua. Tuhan itu Maha Adil, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Di agama mana pun pasti akan begitu. Jadi jangan pernah meragukan janji Tuhan kalau ia akan membalas kebaikan itu berkali-kali lipat. Bukan dari orang yang sama, melainkan dari jalan yang tak terduga. Bukan dalam bentuk materi tapi juga non materi yang kadang nggak sering disadari.

Dan yang perlu dipahami adalah, some people just an asshole no matter what. Jangan berhenti jadi orang baik hanya karena kebaikanmu nggak dihargai dan dianggap

Be good to people via www.pinterest.com

Meski terdengar kasar, tapi itulah kebenarannya. Kenyataan itu kadang memang pahit. Let’s face it. Sebaik apapun kita, sebesar apapun bantuan kita, sebagian orang emang udah dasarnya brengsek. Mau bagaimanpun juga mereka tetap akan seperti itu. Mereka nggak pernah melihat kebaikan yang kita lakukan sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, walaupun hanya sekadar ucapan terima kasih.

Kekecewaan jelas saja dialami oleh teman-teman saya yang baik ini. Tapi mereka nggak pernah berhenti berbuat kebaikan, bahkan kepada orang yang sama. Kenapa? Karena kita nggak bisa berhenti jadi orang baik hanya karena kebaikan yang kita lakukan nggak dihargai atau sekadar dianggap. Menyakitkan jelas saja, tapi bukankah setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan membuahkan pahala untuk bekal di masa berikutnya?

No act of kindness, no matter how small, is ever wasted. – Aesop

.

.

.

Aselole jos!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya