Generasi millenials, mereka yang lahir di antara tahun 1980an sampai tahun 2000.

Generasi millenials memang mereka yang lahir di antara dua rentang masa 80’an dan 2000’an. Tak bisa hidup tanpa gawai dan paket data serta sosial media. Bahkan generasi millenials kerap kali diibaratkan dengan senang-senang dan hura-hura karena dirasa hidupnya lebih mudah akibat sudah mengenal teknologi yang ada.

Advertisement

Lahir di zaman perkembangan teknologi dengan semua kemudahan hidup tak lantas membuatmu sebagai millenials sesungguhnya. Generasi millenials harusnya tak sedangkal melek teknologi dan media sosial. Tapi lebih luas lagi maknanya karena menghadapi tantangan hidup yang semakin besar nantinya. Berikut hal-hal yang harusnya kamu punyai untuk bisa disebut sebagai millenials sejati. Kalau belum ada satupun hal-hal di bawah ini yang pernah kamu lakukan selama ini, mungkin predikatmu sebagai generasi millenials masih sekadar tempelan.

1. Tak melewatkan waktu luang hanya untuk kepoin orang di media sosial. Tapi kamu menyibukkan diri dengan berkarya

Nggak cuma kepoin orang via unsplash.com

Menempatkan media sosial sebagai salah satu kebutuhan hidup tak lantas membuatmu diperbudak dan terbelenggu. Sampai setiap waktu tak lepas dari scroll dan tap-tap. Millenials sepertimu baiknya tak melewatkan waktu begitu saja di media sosial. Hanya untuk melihat aktivitas mantan yang kini sudah bahagia dengan gandengan barunya atau mengikuti perkembangan masalah rumah tangga tetangga orang.

Kalau kamu ingin disebut sebagai sebenarnya  millenials, harusnya aktivitasmu tak hanya berhenti pada ngepoin orang. Tapi lebih dalam lagi seperti melihat hal-hal yang lagi ngetren, apa yang terjadi di sisi lain dunia, bahkan mencari kesempatan untukmu bisa mengembangkan diri sari sana.

2. Kerja keras jangan ditanya lagi. Tapi sebagai millennials sejati kamu perlu punya lifehacks sendiri untuk mencapai tujuanmu ini

Nggak asal kerja keras via unsplash.com

Advertisement

Millenials itu katanya pekerja keras. Belum berhenti sampai apa yang dimau masuk dalam genggaman. Tapi millenials yang sebenarnya tak hanya menghabiskan seluruh energinya untuk kerja keras. Sebagian dari energinya diberikan untuk mencari lifehacks demi mempersingkat perjuangannya mencapai sesuatu. Hal tersebut juga diamini oleh Leon Ho, CEO dari Lifehacks.com, bahwa generasi millenials harusnya punya daya untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik, tak hanya lebih cepat. Karena hard-working people climb to the top, smart people hack it.

3. Kerja keras tanpa ketekunan itu sebuah kesalahan. Sebagai millennials kedua hal ini harusnya berjalan beriringan

Tekun itu kunci via unsplash.com

Tak berhenti pada kerja keras saja. Tapi dengan tantangan yang semakin beragam, millennial diharapkan untuk mampu menjaga ketekunannya. Gagal sekali, coba lagi. Diremehkan diawal, harusnya tak menjadi masalah yang berarti. Ketekunan inilah yang akhirnya membuat CEO-CEO besar seperti Mark Zuckerberg berhasil menduduki peringkat orang paling berpengaruh di dunia.

4. Menghujat atau merendahkan karya orang lain bukan ciri millennials. Sebaliknya kamu yang turut bangga dan memanusiakan manusia lah millenials sesungguhnya

Menghargai sesama manusia, harusnya via unsplash.com

Beberapa waktu belakangan, memang sedang ngetren tindakan saling menyalahkan, menghujat bahkan merendahkan karya orang lain. Tak tahu bagaimana perjuangan seseorang, tiba-tiba sudah ramai dengan komentar negatif. Banyak yang mengira tindakan tersebut ulah dari millenials. Padahal millenials tak akan bertindak kurang elegan seperti menghujat atau merendahkan. Mereka lebih memanusiakan manusia, seperti mengadakan crowd funding untuk membantu sesama lewat media sosial.

5. Tak hanya punya segudang out of the box, tapi idemu pun punya manfaat besar bagi umat manusia

Out of the box aja tak cukup via unsplash.com

Katanya millenials itu banyak ide. Ide-ide mereka terdengar aneh dan terkesan out of the box. Namun jika hanya aneh dan di luar umumnya, buat apa? Millenials yang sesungguhnya tak hanya menemukan ide yang out of the box. Tapi ide yang berbeda dan ada manfaatnya walaupun kadang hanya dipandang sebelah mata. Seperti membuat sebuah website untuk menghubungkan para petani atau nelayan pada konsumen. Meski terkesan remeh, tapi diharapkan mampu meningkatkan tingkat pendapatan salah satu ujung tombak pelaku ekonomi itu.

6. Memandang tantangan tak hanya untuk dilewati. Tapi juga disiasati untuk mengembangkan diri

Menyiasati tantangan via unsplash.com

Dengan kemudahan yang ditawarkan perkembangan teknologi yang ada, bukan berarti tantangan hidup millennials semakin berkurang. Justru semakin bertambah macamnya. Tantangan yang semakin beragam itu tak hanya untuk dilewati lalu sudah. Tapi sebagai millennials sejati perlu menyiasati tantangan yang ada untuk mengembangkan diri. Seperti mengubah kekurangan diri yang dulu membuatmu minder sekali, menjadi ciri khas yang membedakanmu dari orang lain.

7. Tanpa terkesan berlebihan, millennials harusnya mampu mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Bukannya diam dan ngedumel di belakang

Speak out loud via unsplash.com

Katanya millenials itu berani. Tapi suka gegabah dalam mengambil keputusan sendiri. Padahal millenials yang sebenarnya tak seperti itu. Keberanian tersebut baiknya digunakan untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Speak out loud tapi tetap mengerti batas-batas nurani. Apapun sifatmu, pendiam atau ceplas-ceplos, kamu bukanlah seorang millenials yang sebenarnya kalau masih suka ngedumel sendiri tanpa berani mengungkapkan isi hati.

Dari sekian hal di atas, mana yang sudah ada pada dirimu? Tak perlu semua hal harus ada, tapi barang satu atau dua, berarti kamu sudah mendekati predikat generasi millenials yang sebenarnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya