Pernah suatu kali, teman saya, sebut saja Galih, tengah mengalami masa tersulit dalam hidupnya. Namun bagi saya, masalah ini tak lebih dari sekadar secuil daging sapi yang nyempil di sela antara gigi geraham bolong dan taring di mulut saya. Sepele! Ya, dia sedang berurusan dengan kekasihnya. Lebih tepatnya, putus. Dan alasannya pun sangat sepele, gara-gara saya mengunggah foto Bu Ela selaku mantan penulis Hipwee yang sudah berkeluarga dalam rangka perpisahannya. Sekilas memang tak ada yang salah, tapi caption yang tertulis—yang tak sengaja saya tulis—ternyata menimbulkan polemik yang sangat meresahkan, bahkan sampai menghancurkan kehidupan asmara Galih dan kekasihnya. Tapi saya tak akan menjelaskan detail permasalahannya. Besar kemungkinan mereka berdua akan membaca kesaksian saya ini.

Ini baru salah satu contoh beban terberat dalam hidupnya. Sebagai catatan saja, hampir setiap pekan dia seolah mengulang cerita yang sama pada saya. Agak lebay memang, tapi masalah beban hidup ini rasanya memang tak bisa dianggap sebelah mata. Kendati saat itu saya sampai lelah tertawa melihat tingkah bodoh si Galih yang begitu nelangsa, ada cukup banyak iba yang saya simpan rapi. (Tapi boleh loh, kamu membayangkan bagaimana muka temanmu yang putus gara-gara hal konyol begitu!)

Advertisement

Bagaimana pun, yang namanya masalah kehidupan ini memang sangat rumit, dan tak mustahil, bisa membuat si pengalam menjadi galau, stres tingkat dewa, bahkan memutuskan untuk menghabisi dirinya sendiri. Amit-amit! Kamu jangan begitu, ya!

Lalu dari berbagai masalah yang pernah saya temui dan yang pernah saya dengar dari orang-orang, saya merumuskan beberapa poin penting. Meski kamu akan beranggapan bahwa hal ini sama sekali klise, tak salah juga. Sebab saya hanya sedih melihat kids zaman now yang selalu kuyu menghadapi kehidupan yang kian keras ini. Dan, barangkali juga kamu juga tengah mengalami nasib seperti penulis kanal Hubungan kita itu, perhatikan empat poin penting ini, ya!

Percayalah, di atas langit masih ada langit. Masalahmu belum seberapa dibandingkan milik orang lain!

Masih ada langit di atas awan langit. via www.pexels.com

Memang, setiap kita mengalami suatu masalah, kita acap merasa bahwa Tuhan tengah bercanda dengan memberikan ujian yang begitu berat bagi kita. Mulai dari luapan umpatan yang bertebaran, diam yang berkepanjangan, hingga nafsu makan yang menurun, pasti menjadi bentuk frustasi setiap orang dalam menghadapi masalahnya. Sampai akhirnya mereka memberikan kesan bahwa mereka begitu menderita, tak berdaya, butuh perhatian, butuh segala-galanya dari saya yang membutuhkan pendamping hidup.

Advertisement

Sebuah kesia-siaan yang kamu pelihara jika kamu masih menyikapi masalahmu seperti ini. Satu hal yang perlu kamu lakukan adalah percaya bahwa masih ada orang lain yang begitu terpukul dengan beban masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Dengan pikiran jernih dan tenang, bukalah matamu; masalahmu masih seujung kuku bagi orang lain, Cuy!

Percuma ketika kamu hanya meratapi masalahmu dengan begitu drama tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya

Tak perlu sesedih itu! via instagram.com

Tertinggal dengan teman-teman yang sudah berhasil melewati meja-bantai-skripsi, pacar ditikung teman sendiri, atau tiba-tiba ditinggal pacarmu yang sudah merencanakan banyak hal ihwal masa depan, memang sangat amat menyedihkan.

Alhasil, galau yang berakhir dengan tangis ialah bentuk kesedihan yang sangat alami untuk dirasakan oleh siapapun juga. Tak ada yang salah dengan fenomena ini. Namun yang perlu kamu garis bawahi adalah mereduksi durasi kesedihanmu. Artinya, kamu tak perlu terus menerus bergulat dengan masalah itu. Alangkah jauh lebih menyedihkan ketika kamu berlarut dalam kesedihanmu tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya. Dan hal ini nggak bisa cuma dibicarakan saja. Langsung bergerak!

Kalau itu masalah kenangan, kenapa tidak kamu jadikan saja masa lalumu sebagai batu loncatan untuk terus berkembang?

Menatap masa lalu depan. via instagram.com

Ya, masalah memang tak berbatas pada hal yang tengah dialami saja. Tetapi juga terletak pada masa lalu alias masalah yang sebenarnya telah jauh kita punggungi. Hal inilah yang sering menjadi alasan tersendiri bagi orang yang merasa hidupnya begitu nelangsa. Lantas, frasa ‘gagal move on’ dikambinghitamkan sebagai status yang paling kuat di media sosial.

Sebuah fenomena yang masih kerap terjadi di masyarakat kita, sementara Amerika dan Korea Utara sudah merencanakan perang di musim panas tahun depan. Ironis. Yang saya heran, kenapa mereka tidak bisa menjadikan masa lalunya sebagai sebuah batu loncatan atau paling tidak sebagai pelajaran agar hidupnya bisa berkembang? Atau memang demikianlah tren hidup kids zaman now? Sangat disayangkan.

Sejatinya saya tak ingin menggurui siapapun juga. Saya hanya prihatin dengan fenomena yang ada saat ini. Kalau kamu merasa hidupmu lebih nelangsa, cobalah temui saya; akan saya tunjukkan hidup seperti apa yang layak kamu sebut derita. Ya, minimal, akan saya ceritakan kehidupan si Soni yang tak pernah merasa sedih; Galih yang selalu sial; atau bahkan Ajeng, yang masalah dalam hidupnya adalah tak memiliki masalah.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya