Halo, diriku sendiri…

Aku harap kamu dalam keadaan baik dan sehat-sehat saja ya.

Hari demi hari sekarang terasa berlalu begitu cepat. Bahkan kadang akupun sampai lupa menyapamu walau hanya sebentar. Meskipun aku berlaku seperti itu, aku tahu kamu tetap saja sabar.

Baiklah.. Suratku kali ini tidak akan begitu panjang. Karena aku ingin kamu segera membacanya sekarang.

Mungkin kamu belum begitu paham maksudku, tapi aku tahu kamu merasa terluka akibat perlakuanku.

Parasmu adalah karya Tuhan yang istimewa. Tak semestinya aku terus-menerus kecewa

Kamu, karya Tuhan yang istimewa via thephysiostudio.com.au

Harus kuakui jika seringkali aku merasa kecewa. Aku masih merasa kamu kurang anggun dan rupawan. Banyak usaha yang telah kujalani. Beragam klinik kecantikan telah kudatangi, beraneka-rupa alat kosmetik telah kubeli, belasan cream juga telah kuolesi, tapi kenapa bagiku kamu masih saja kurang menawan. Aku kesal. Karena yang kurasa wajahmu masih belum mulus, kulitmupun masih terlihat kusam, bentuk tubuhmu juga belum tampil ideal, bahkan jerawatmu masih saja betah merambat.

Kamu tahu, sebenarnya aku sudah kelelahan. Aku bosan selalu berusaha membandingkan. Maafkan aku ya.. Mulai detik ini aku berjanji, akan menerimamu apa adanya. Aku mau belajar bangga, karena sesungguhnya kamu adalah karya Tuhan yang istimewa. Aku tidak akan pernah mau membandingkan wajahmu atau bentuk tubuhmu lagi dengan orang lain lagi. Toh kecantikan ataupun ketampanan yang sesungguhnya itu asalnya dari lubuk hati dan pikiran kita yang terdalam.

Advertisement

Aku jadi sadar, sukses itu penghargaan dari rentetan proses. Sungguh tak layak jika aku masih saja protes

Aku tak akan lagi protes via favim.com

Sekarang yang kubayangkan, kamu pasti sudah sering merengut. Bagaimana tidak, karena tiada hari yang kulalui tanpa bersungut-sungut. Seakan rasa syukur tak pernah terlintas di benakku. Sulit sekali bagiku menghargai artinya kesuksesanmu. Karena sukses bagiku adalah bisa membeli semua hal yang aku mau. Sukses bagiku adalah jadi orang yang nomor satu. Tapi kenapa kesuksesan itu tak kunjung datang padamu ? Ketika aku ingin makanan yang mewah, kenapa kamu hanya bisa memberiku yang murah ? Ketika aku ingin pakaian yang indah berkelas, kenapa kamu hanya mampu membelikanku pakaian bermodel lawas ? Aku ingin seperti mereka yang katanya memiliki kebebasan finansial. Bukan seperti kamu yang terus-terusan sial.

Ya ampun.. Aku selalu menyalahkan dan protes padamu. Pasti ini sangat menyakitimu.. Diriku, aku harap kamu masih membukakan pintu maafmu untukku. Karena itu hanya penggalan kisah lama yang dulu. Sekarang aku mau membuka lembaran hidup yang baru. Aku mau jadi manusia yang terus bersyukur.

Mau menghargai setiap pencapaian kecil yang kamu lakukan. Mau berterima-kasih untuk semua hal yang telah diberikan padamu. Sekalipun kamu sekarang bukan jadi orang yang nomor satu, toh kamu masih dilengkapi dengan akal sehat yang belum buntu. Kamu masih bisa terus berpikir dan belajar dari tiap kesalahanmu. Meskipun kita belum mampu membeli makanan restoran bintang lima, toh kita masih bisa menikmati makanan jajaan kaki lima. Toh kita masih bisa makan. Toh kita masih punya tempat tinggal. Toh hidup kita masih berkecukupan. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang mau kudustakan ?

Sekarang aku mau mendengarkan, tak hanya sekedar mendengar

Sekarang aku mau lebih mendengarkan via www.lively-prince.com

Diriku, mungkin selama ini aku hanya mendengar, tapi tidak mendengarkan. Karena ambisiku semata untuk menyelesaikan tugas, aku jadi sering tidak menggagas. Ya, menggagas peringatan-peringatan yang sebelumnya telah kamu berikan. Kamu sudah memberi tahuku kalau kamu kelelahan. Tapi aku masih saja mengajakmu begadang semalaman. Kadang juga kamu sudah memberi signal kalau kamu butuh segera makan. Tapi aku masih saja berkata sebentar. Ketika kamupun sudah pasrah dan menyerah di tempat tidur, aku bahkan masih menganggapnya lumrah. Bagiku yang utama hanya mengerjakan apa yang harus segera kuselesaikan. Oh Tuhan, tak terbayang betapa teganya aku padamu waktu itu.

Sebaik-baiknya manusia, menurutku selama ini kamu yang paling berjasa. Karena kamulah yang pertama jadi teman dalam asa mengejar cita dan cinta. Sejak kutuliskan surat ini, aku sungguh berniat tak akan lagi memaksa. Janjiku padamu, ketika kamu bilang kamu tak kuat, aku akan bergegas istirahat. Ketika tiba waktunya makan, akan segera kuberikan. Ketika di ujung hari kamu sudah terlalu lelah, aku pasti akan segera rebah. Yang kuminta, kamu selalu sehat-sehat saja, agar kita tetap bisa terus bekerja-sama. Sekarang ijinkan aku untuk lebih mendengarkanmu ya.

Terima kasih diriku. Kamu sudah mau membaca suratku untukmu. Semoga masih ada kesempatan ya.. Untuk kita menjadi manusia yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Sekali lagi, terima kasih..